Kegiatan Wawancara Yusuf Ramadhan

Rani, Permen, dan Gunung Semeru

Sumber Gambar: travel.rakyatku.com
Sumber Gambar: travel.rakyatku.com

Manusia dan alam adalah dua ciptaan Tuhan yang selalu bertautan. Keduanya melengkapi satu bagi yang lain. Meskipun begitu, kita perlu mengakui kadangkala hubungan keduanya tak pernah berimbang. Dimana yang satu selalu saja ingin menguasai yang lain. Ingatlah bagaimana dahulu nenek moyang manusia hidup dengan bergantung pada alam. Mereka tinggal di gunung dan membangun rumah di atas pohon. Apa yang terjadi saat ini justru sebaliknya, pohon di bawah ditebang, dijual, disulap menjadi gedung. Tapi manusia tetap butuh pohon bukan? Pada akhirnya pohon dibangun di atas rumah dan manusia mencurahkan hati di atas gunung.

Juni 2010, sekelompok manusia menapaki jalan puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Dengan perasaan yang mantap dan tanpa ragu sepuluh remaja memulai pendakian menuju puncak Semeru pukul 24.00 WIB. Rani Fransiska, salah seorang pendaki, adalah sosok yang menceritakan kisah ini kepada saya.

Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu, 7 jam sudah lamanya mereka mendaki, puncak yang diimpikan tak kunjung dinikmati. Lelah, letih, lesu, mulai terasa menghampiri pikiran dan hati. Berunding akhirnya dilaksanakan untuk memutuskan lanjut atau tidaknya pendakian.

Di tengah perundingan, Rani memakan permen guna menyegarkan tenggorokan. Belum sampai permen di tenggorokan, permen yang belum terbuka jatuh dari tangan dan tergelinding ke bebatuan pasir Gunung Semeru. Rani adalah perempuan yang tak mudah menyerah, tanpa pikir panjang Rani mencoba mengambil permen tersebut.

Sayangnya, permen sulit didapat karena terus menggelinding ke hamparan pasir gunung. Rani terus berusaha, perlahan melangkah, mata fokus tertuju ke arah permen. Dia pun akhirnya kembali mendapatkan permennya. Namun ketika Rani menengok ke belakang, tak disangka dia sendirian, tak ada satupun orang yang terlihat. Rani telah berjalan jauh terpisah dari teman-temannya. Perasaan takut mulai menyerang, Rani mencoba berteriak tetapi tak ada yang mendengar. Kali ini, hanya pertolongan Tuhan yang dia harapkan. Dalam hati, selain berdoa, Rani pun berharap teman-temannya datang menjemputnya. Dan……

“Rani… Rani… dimana kamu?”

Suara itu terdengar. Hati Rani mulai tenang. Perlahan nafasnya kembali normal. Setelah tenang, Rani mencoba menghampiri teman-temannya. Rani menarik nafas, satu langkah kaki sudah dimulai, tapi tak disangka, butiran pasir yang bercampur debu tak menginginkan Rani beranjak. Kaki Rani terpeleset kembali ke bawah. Rani mencoba naik kembali dengan kaki yang lain. Namun hasilnya sama, kaki terpeleset lagi. Rani terjebak, dia tidak bisa bergeser dari tempat permen yang didapat. Lelah hati dan badan menghinggapi Rani. Kakinya mulai pegal karena percobaan melangkahnya tak kunjung berhasil.

Rani menatap ke arah teman-temannya. Kali ini, teman-temannya tahu kalau Rani terjebak di bawah. Mereka ingin sekali menghampiri dan membantu Rani. Namun perasaan takut yang Rani rasakan, serupa dengan perasaan takut teman-temannya. Teman-teman Rani hanya mampu berteriak dari kejauhan menyemangati Rani dia terus mencoba. Usaha teman-teman dan Rani menemui kebuntuan.

Hari semakin panas, debu pasir terus bertambah dibawa angin dari puncak Gunung Semeru. Terik matahari mulai menyengat ubun-ubun kepala para pendaki. Pikiran Rani mulai kalut tak karuan. Dia merasa diperlakukan oleh hidup yang tidak adil. Dalam hati ia berfikir, ada orang yang menghabiskan waktu di puncak dengan berfoto ria bersama teman atau pasangan, menikmati segelas kopi dan sepiring mie instan.

Di tengah Semeru, sepuluh remaja yang baru lulus sekolah pada tahun kemarin merasakan perasaan yang 180 derajat berbeda dari orang-orang di puncak Semeru. Kehidupan seolah memang tak selalu berimbang. Tidak seperti di panggung-panggung drama yang sempit itu, ketakberimbangan dalam hidup bahkan bisa terjadi pada jam, menit, dan detik yang sama.

“Rani, coba tenang, pikirkan jalan lain, coba perhatikan jalan sekelilingmu, mungkin ada setapak jalan yang tak berpasir”, ungkap salah seorang teman Rani dari atas.

Rani mulai mengambil nafas sedalam-dalamnya, dia mulai menengok lagi ke kanan dan ke kiri. Dia bersikeras menengok-nengok untuk mencari jalan lain.

Rani mulai beranjak melangkah dari tempatnya berdiri. Rani berkeliling mencari jalan. Terus berjalan. “akan aku telusuri, jalan yang setapak ini, semoga kutemukan jawaban” sambil rani bernyanyi dalam hati, sampai akhirnya dia dapat setapak jalan yang tak terlalu berpasir. Meskipun Rani kembali berpisah dengan teman-temannya, namun Rani tidak mempersoalkan hal itu, karena akhirnya Rani bisa naik ke atas dan menemukan teman-temannya kembali. Perasaan Rani campur-aduk: sedih, senang, takut, semua jadi satu.

Semeru yang baik belum mengizinkan Rani berpisah dengan mereka hari itu. Namun Semeru pun belum mengizinkan Rani menjajaki puncaknya yang diimpikan sejak dulu.

Rani menengadah ke atas langit. Pada detik itu Rani tersadar betapa kecil dirinya. Alam memang bukan untuk ditaklukkan, melainkan alam dan manusia diciptakan untuk hidup berdampingan.

Juni 2010, menjadi serpihan memori yang tak akan bisa dilupakan Rani.

 

About the author

Yusuf Ramadhan

Yusuf, seorang manusia yang sedang menempuh studi di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tertarik dalam dunia tulis menulis demi menyingkap suatu fakta yang tak terekam oleh mata. Bergabung di Komunitas Agenda 18 Angkatan 6.

Add Comment

Click here to post a comment