Kegiatan Liputan Trinzi Mulamawitri

Tetirah Cirebon Langkah Menenun Nusantara

Dok: Xpedisi Feminis
Dok: Xpedisi Feminis

Xpedisi Feminis merupakan inisiatif menjelajahi nusantara dengan perspektif keadilan dan kesetaraan. Perjalanan pertama yang diinisiasi Xpedisi Feminis bertema Tetirah Cirebon: Menelusuri Feminisme dalam Islam, dilaksanakan pada hari Sabtu 25 Agustus dan Minggu 26 Agustus 2018.

Kota Cirebon dipilih karena memiliki keunikan sebagai tempat masuk dan berasimilasinya agama Islam pertama kali sampai kini menjadi keyakinan mayoritas di Indonesia. Banyak objek wisata bernapaskan Islam, kebudayaan lokal yang berasimilasi dengan ajaran agama Islam serta tradisi pesantren yang kental, semakin mengukuhkan Cirebon sebagai daerah yang Islami namun tetap berbudaya.

Ada 23 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang seperti aktivis LSM, pegawai swasta, jurnalis, pensiunan, dokter dan ibu rumah tangga. Acara diawali dengan kunjungan ke Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dan mengadakan diskusi Feminisme dalam Islam bersama; Mariana Amiruddin (Komisioner Komnas Perempuan), KH Marzuki Wahid (Wakil Direktur 1 Fahmina Institute dan cendekiawan Nahdatul Ulama), KH Faqihuddin Abdul Kodir (Wakil Direktur 2 Fahmina Institute sekaligus Penulis buku Sunnah Monogami dan 60 Hadits Hak Perempuan).

Mariana Amirudin menekankan bahwa feminisme hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhir perbaikan nasib kaum perempuan menuju kehidupan yang lebih adil. Oleh sebab itu, anggapan bahwa feminisme hanyalah milik kebudayaan Barat sebenarnya merupakan klaim yang dapat digugat. Mariana mencontohkan dengan membawa feminisme dalam konteks sejarah Indonesia. Beliau lantas memaparkan materi Feminisme Nusantara dengan bercerita kisah perempuan pemimpin dalam sejarah Indonesia.

“Ada teks-teks yang tersembunyi dalam lipatan sejarah yang mengubur cerita-cerita raja-raja dan pemimpin perempuan. Tokoh-tokoh seperti Tribhuwana Tunggadewi dari Majapahit, Ratu Kalinyamat dari Japara, dan Nyi Ratu Mas Gandasari dari Aceh perlu diteliti dengan teori-teori feminis atau bahkan membangun teori feminis yang baru,” ungkap Mariana.

Sudah saatnya catatan baru tentang feminis Indonesia yang berangkat dari sejarah masa lalu dilahirkan. Menurut Mariana, sesungguhnya teori feminis bukanlah semata ideologi, melainkan perangkat analisis yang dapat menemukan hal yang baru dalam narasi pengetahuan perempuan. Termasuk narasi para perempuan Nusantara yang melahirkan feminisme Indonesia.

Mariana mengapresiasi gerakan Xpedisi Feminis sebagai gerakan perempuan mutakhir karena mulai menggali ke-Indonesiaan dalam gerakan feminis dan mencoba untuk menemukan narasi-narasi yang berbeda dalam aspek Indonesia atau Nusantara.

“Selama ini belum terlalu banyak yang memulai dan ini justru dilakukan berdasarkan inisiatif masyarakat perempuan terutama anak muda,” terang Mariana.

Sementara itu, KH Marzuki Wahid berpendapat bahwa sesungguhnya Islam itu adil dan setara gender. Klaim ‘Nabi Muhammad sebagai feminis’ dibuktikannya dengan menilik sejarah jazirah Arab sebelum dan setelah Islam datang. Sebelum Islam datang, tradisi tribalisme membuat laki-laki mendominasi ruang publik dan menyisakan ruang domestik bagi perempuan. Kondisi perempuan pada masa itu sebagai berikut; dikubur hidup-hidup, dikawinkan sebelum menstruasi, diperdagangkan, diwariskan, simbol kehinaan, dll. Setelah Islam diturunkan, kaum perempuan justru dimanusiakan dan dipandang setara dengan kaum laki-laki sebagai hamba Allah dan khalifah.

“Ajaran Islam menyebutkan, perempuan adalah manusia. Nilai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tapi oleh ketakwaan (Al-Hujarat, 49/13),” ungkapnya.

Oleh sebab itu, KH Marzuki Wahid percaya bahwa perlu ada penafsiran ulang bagi teks Alquran dengan selalu berpegangan pada cita-cita sosialnya: keadilan, kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, kebijaksanaan dan kemashalahatan umat.

Pembicara ketiga, KH Faqihuddin Abdul Kodir membahas tentang Konsep Mubadalah: Perspektif dan Metode Interpretasi Resiprokal dalam Memaknai Teks-teks Gender dalam Islam. Dia mengatakan dkotomi antara teks untuk laki-laki dan teks untuk perempuan telah melahirkan berbagai tafsiran Islam yang bersifat absolut, dikotomis, seksis, timpang, dan melestarikan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan (juga kadang-kadang pada laki-laki).

“Dikotomi ini juga yang melahirkan kebudayaan dominatif, dari satu jenis kelamin kepada yang lain, hegemonic, dan pada akhirnya juga destruktif,” ujar KH Faqihuddin.

Dia menekankan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki, satu sama lain adalah kerjasama dan saling menolong, bukan hegemoni dan saling menguasai. Tidak ada keutamaan atas jenis kelamin, atau keburukan karena jenis kelamin. Keutamaan utama dalam Islam, karena ketakwaan, keimanan, dan amal shalih. Kerendahan sesorang karena kekufuran, kezaliman, dan amal-amalnya yang buruk.

Setelah diskusi panel, peserta diajak berkeliling Gua Sunyaragi di waktu senja yang kemudian dilanjutkan dengan beristirahat dan makan malam. Kelas kedua dimulai dengan tema Seksualitas Dalam Islam yang dipimpin oleh KH Abdul Muiz Ghazali, dosen dan peneliti di ISIF. Dalam diskusi ini peserta diajak berpikir lebih kritis tentang seks menurut pandangan Islam. Berulang kali beliau menekankan bahwa organ seks manusia paling utama adalah otak. KH Abdul Muiz juga mengatakan tidak perlu doa-doa sebelum berhubungan seks. Ketulusan melayani memberikan kenikmatan, itulah doa sesungguhnya. Beliau juga menganjurkan peserta untuk membaca kitab Fathul Izar yang menerangkan perihal nikah dan hubungan seks.

Keesokan harinya peserta mengunjungi Keraton Kasepuhan untuk melihat keraton tertua di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan yang dibangun sejak abad ke-14. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Pesantren Kebon Jambu al-Islamy yang dipimpin Nyai Hj. Masriyah Amva. Pesantren yang memiliki murid sekitar 1400-an santri dan santriwati ini dikenal sebagai pesantren feminis. Setahun belakangan di pesantren ini juga terdapat Ma’had Aly, yaitu pendidikan setara S1 berbasis pesantren di bawah lindungan Kementerian Agama yang fokus pada kesetaraan gender.

Nyai Amva pun bercerita tentang latar belakang puisi-puisi yang diciptakannya. Secara tegas Nyai Amva berujar bahwa, Perempuan Islam wajib, fardhu ain, menjadi feminis. Perempuan yang bergantung pada Allah.

“Tidak ada satu ulama besar pun yang akan menentang karena ini ajaran yang dianjurkan oleh Nabi Adam sampai Rasul. Khususnya perempuan yang senang bergantung pada laki-laki. Budaya itu harus dihilangkan,” paparnya.

Foto: Peserta dan pemateri Xpedisi Feminis di Gua Sunyaragi.
Foto: Peserta dan pemateri Xpedisi Feminis di Gua Sunyaragi.

About the author

Trinzi Mulamawitri

Trinzi Mulamawitri mulai memiliki ‘panggilan’ terhadap feminisme saat menjadi pemimpin redaksi kaWanku di tahun 2010. Bagi perempuan jebolan fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, remaja putri adalah aset paling berharga buat sebuah bangsa sehingga harus dibangkitkan kesadarannya mengenai feminisme. Me-rebranding kaWanku menjadi cewekbanget.id di tahun 2017 untuk semakin gencar menelurkan bibit-bibit feminis muda. Kini memutuskan menjadi tenaga lepas di bidang penulisan, humas, content marketing dan relawan dalam hal pemberdayaan perempuan. Trinzi merupakan peserta Kursus Perempuan Tingkat II dan III pada 2017. Trinzi bisa diikuti di Instagramnya:
http://instagram.com/trinzi

Add Comment

Click here to post a comment