Lami Opini

Ini Cerita Kami, Buruh Perempuan

Dok: beritamoneter.com

Mengikuti Kursus Perempuan memancing para peserta untuk sharing tentang beban ganda perempuan. Proses pertama di Kursus Perempuan membuat saya ingin meluapkan banyak hal.

Saya teringat saat saya mengalami pergulatan bersama teman-teman sebagai buruh pabrik. Kami membuat pakaian jadi dari ukuran anak-anak sampai dewasa dengan berbagai merek, berbagai model. Dari jaket tebal, celana, baju, kaos, dan untuk berbagai musim yakni musim dingin, musim panas, musim salju, sesuai pesanan konsumen.

Baju-baju itu lantas diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Baju yang kami buat untuk musim salju, bahan dan debu benangnya begitu pekat. Bahkan bisa melekat di hidung sampai tenggorokan kami.

Di pojok dekat gudang, adik saya berada di dalam sana yang mungkin hanya berukuran 2×4 meter memanjang. Dengan tubuh terbungkus polybag dan masker tebal, bekerja memasukkan bulu bebek ke dalam bahan yang akan dijahit menjadi jaket tebal yang hangat. Betapa panas dan pengap ruangan itu, adik saya hanya mendapat bonus satu minggu dua kaleng susu.

Dimana hari saat kami dikejar-kejar waktu ekspor, ada berderet kontainer di halaman pabrik. Para pengawas di semua bagian berteriak kencang biar anak buah bergegas mencapai target. Belum lagi jika ada kesalahan, misalnya, salah pasang kancing dan harus dibongkar semua. Cacian dan makian hingga kata-kata kebun binatang dikeluarkan semua dan disamakan dengan otak kami.

Tak ada alasan untuk izin pulang sore. Meskipun dengan kondisi anak sedang sakit, atau ada kepentingan-kepentingan mendadak. Semua harus lembur malam agar ekspor terlaksana. Dimana saat pabrik dibanjiri order, kami sering long shift, lembur, kami mendengar jeritan tiba-tiba dari bagian mesin. Akibat mesin yang tak layak pakai, teman kami kehilangan ujung jarinya, dan kukunya terkelupas, tertinggal di jepitan mesin kancing.

Kelelahan akibat lembur malam, buruh perempuan yang hamil muda bisa mengalami keguguran. Itu terjadi pada awal 2007, saat hamil pertama, saya masih diikutsertakan lembur oleh pengawas. Sampai usia kandungan saya empat bulan, saat datanglah buyer dari merek ternama membuat semua buruh dibriefing, dan diwajibkan untuk menghadap buyer ternama itu. Kami diberikan arahan, jika diberikan pertanyaan, maka kami harus memberi jawaban yang bagus-bagus soal perusahaan agar order tercapai. Buruh yang hamil, disembunyikan di gudang, atau di kamar mandi, seperti main kucing-kucingan.

Security sibuk mempersiapkan fasilitas sabun tangan, tissue, dan kotak obat diisi penuh untuk para buruh. Namun setelah buyer itu pulang, fasilitas itu diambil lagi oleh perusahaan.

Saat saya hamil tua, 10 hari sebelum kelahiran, saya baru mengambil cuti. Pada hari terakhir sebelum cuti, saya dan teman saya yang juga tengah hamil tua dipanggil menghadap mister pimpinan perusahaan untuk pamitan. Tentu mister mengajak bertemu bukan untuk memberikan selamat jelang kelahiran anak saya nanti. Sebaliknya, dia hanya melihat perut kami yang gendut dengan kepala manggut-manggut.

Asisten pengawas bilang, setiap buruh yang mau mengambil cuti lahiran harus menghadap mister, sebagai bukti bahwa yang mengambil cuti panjang atau melahirkan benar-benar hamil dan perutnya besar.

Lalu saya dan teman saya berpamitan dengan teman-teman lain yang masih sibuk bekerja. Kami saling berjabat dan berpelukan seraya menderaskan doa.

Pada tanggal 12 Januari 2008, lahirlah anak pertama saya seorang anak laki-laki. Hanya 2 bulan 20 hari bagi saya adalah waktu yang singkat untuk memuaskan kasih sayang. Naluri saya menuntun saya sebagai ibu, saat umurnya 2 hari saya yang memandikannya sendiri, dan membungkus tali pusarnya sampai puput.  Kebahagiaan yang tak terhingga.

Memang sedikit waktu yang diberikan, dan nantinya saya akan meninggalkan dia bekerja. Ini menjadi sebuah kesedihan yang tak terhingga. Saat hari pertama saya masuk bekerja, saya meninggalkan bayi yang masih membutuhkan ASI (Air Susu Ibu). Maka saat istirahat siang, saya berlari minta barisan antrian paling depan demi mengejar ojek pulang sebentar untuk menyusui.

Saat saya kembali bekerja, saya merasakan panas dan dingin tubuh karena payudara yang mengencang. Terkadang saya merasa malu ketika air susu tembus dan basah di baju. Saya lalu mengakalinya dengan membagi dua pembalut dan saya tempelkan di payudara.

Ketika anak saya sudah berusia enam tahun, pabrik ini tutup dan tinggal kabur. Padahal pabrik ini pernah mendapatkan penghargaan terbesar sebagai eksportir terbesar, dan beranak-pinak, bercabang dimana-mana. Ketika bangkrut, dia meninggalkan tanggung jawab terhadap buruh-buruhnya. Dia hanya meninggalkan mesin rongsokan yang menjadi rebutan.

Itulah segambreng cerita buruh perempuan dalam suatu pabrik, masih ada cerita dari pabrik-pabrik lainnya. Persoalan cuti haid, persoalan kontrak, persoalan upah, dan banyak pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Ingatan saya mulai berdatangan saat saya menancapkan pena pada tulisan ini. Hanya sebatas beban di pabrik, Ini bukan hanya persoalan buruh pabrik perempuan, karena pemateri Kursus Perempuan menjelaskan, ini adalah persoalan pekerja kantoran, pekerja perempuan di bank, peragawati, semuanya ada persoalan beban ganda perempuan.

Tetapi saya tidak mau memikirkan yang mana yang paling tertindas dalam sistem pekerjaan. Saya sadar bahwa persoalan beban ganda melekat dalam setiap lini hidup perempuan.

Semoga buah pemikiran buruh perempuan ini berbuah masak dan jatuh ke dalam tulisan-tulisan sehingga mampu menyemangati perempuan lain ke depannya.

About the author

Lami

Nama saya Lami. Saya pernah bekerja sbagai buruh pabrik garmen PT Myungsung Indonesia, di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cakung. Saya adalah seorang ibu dari satu anak laki-laki, dan sekarang bekerja sebagai buruh konveksi.

1 Comment

Click here to post a comment

  • Hi there very nice website!! Guy .. Beautiful .. Superb ..
    I’ll bookmark your website and take the feeds also?
    I am glad to seek out so many helpful info right here within the
    post, we’d like develop extra strategies in this regard, thank you for sharing.
    . . . . .