Maria Brigita Blessty Opini

Asal-usul Penindasan Perempuan (Bagian 2)

Sumber: http://www.kompasiana.com/aryati/osama-penindasan-perempuan-dan-kerancuan-makna-kodrat_553016386ea834e81e8b461e
Sumber: http://www.kompasiana.com/aryati/osama-penindasan-perempuan-dan-kerancuan-makna-kodrat_553016386ea834e81e8b461e

Tulisan ini dipresentasikan pada Kursus Perempuan di Rumah Obor, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 25 Maret 2017

Baca artikel sebelumnya Asal-usul Penindasan Perempuan (Bagian 1)

Corak Produksi Kapitalis

Sejak datangnya hukum “patriarkat” perempuan terpaksa hidup dalam kurungan rumah. Mereka diperlakukan selayaknya Oikurema[1], yang dalam bahasa Yunani berarti benda untuk mengurus rumah.[2] Posisi perempuan dipangkas sedemikian rupa menjadi produsen rumah tangga saja. Apa tugasnya? Tugasnya adalah melayani suami, membuat kue, menenun atau memintal kain, dan meracik ramu-ramuan (bisa untuk obat, atau bahan makanan). Namun semua ini seperti dirampok dari perempuan saat revolusi industry terjadi.

Di satu sisi revolusi industry memang membebaskan perempuan dari kurungan rumah. Mereka bisa bekerja di pabrik dan memberikan penghasilan tambahan bagi keluarganya. Namun di sisi lain, munculnya pabrik mau tidak mau menggantikan peranan perempuan sebagai produsen domestik. Semua kerja perempuan beralih menjadi produksi masal yang bisa dikerjakan oleh mesin di pabrik. Pada saat ini, tenaga perempuan-perempuan yang sudah masuk ke dalam pabrik diserap sedemikian rupa oleh para pemilik modal.

Kerja domestik berubah menjadi komodifikasi, barang dagang, yang menimbulkan bertambahnya kebutuhan ekonomi yang lebih besar. Hal ini yang justru mendorong perempuan-perempuan untuk masuk ke dalam pabrik, demi pendapatan yang dapat membantu kehidupan ekonomi keluarga. Pendapatan yang tidak seberapa, dengan target kerja maksimal yang bahkan sama dengan target kerja laki-laki. Hanya upahnya yang berbeda.

Dalam pembahasan ini izinkan saya menggunakan analisis Heidi Hartmann, seorang feminis kontemporer dari Amerika, dari buku berjudul “Unhappy Marriage of Marxism and Feminism: Towards a More Progressive Union”. Hartmann menunjukkan adanya perbedaan kepentingan antara patriarki dan kapitalis atas perempuan. Gambarannya begini, pada awal masa revolusi industri kebanyakan perempuan kelas bawah mulai bekerja di pabrik dan tenaga perempuan dibutuhkan oleh lelaki borjuis agar mereka mendapatkan pekerja dengan upah rendah. Namun lelaki proletar lebih menghendaki perempuannya untuk tetap berada di rumah agar tetap bisa melayani mereka.

Perempuan yang hanya mengurus rumah tangga malahan menambah beban ekonomi lelakinya. Beban bertambah tetapi pintu masuk pemasukan hanya dari satu sumber. Dengan kenyataan yang seperti ini lelaki borjuis menawarkan “solusi” untuk pemecahan masalah ekonomi itu yaitu dengan membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan proletar. Tetapi apakah hal itu tanpa resiko? Dalam kitab Sarinah telah dikatakan bahwa “laki-laki kerja dari matahari terbit sampai matahari terbenam, perempuan kerja tiada hentinya siang dan malam.”[3]

Hartmann mengatakan untuk mengatasi masalah ini lelaki borjuis dan lelaki proletar dapat saja membuat kesepakatan. Perempuan proletar tidak perlu lagi bekerja di pabrik tetapi lelakinya mendapatkan jaminan kesejahteraan keluarga dari para lelaki borjuis atau pemilik modal. Akan tetapi lagi-lagi menurut Hartmann hal ini bersifat semu karena pada akhirnya jaminan itu hanya dapat dinikmati oleh pekerja pada posisi tertentu. Bagaimanapun, seperti ditulis Rosemari Putnam-Tong dalam bukunya berjudul “Feminist Thought” bagian “Marxist and Socialist Feminism: Classical and Contemporary”, harus disadari bahwa lelaki borjuis juga menginginkan untung yang sebesar-besarnya, sehingga tidak mungkin mereka memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh pekerjanya.[4] Adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin ini, di manapun baik dalam pabrik maupun rumah tangga, sama-sama tidak menjadi solusi bagi masalah perempuan karena persoalan itu dimunculkan oleh perkawinan sistem kapitalis dan tradisi patriarkis.

Permasalahan yang dialami perempuan proletar merupakan suatu wujud dari pandangan yang meremehkan kerja perempuan. Kerja perempuan dianggap bukan kerja yang memerlukan keahlian khusus sehingga layak untuk diremehkan, tidak dihargai seperti kerja laki-laki. Perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga saja dianggap sebagai orang yang sama sekali tanpa kerja padahal perempuan itulah yang mengurus rumah dan keperluan anggota rumah tangga. Masalah ini oleh Hartmann disebut sebagai masalah yang ditimbulkan oleh monster berkepala dua yang bernama kapitalis patriarki.

Monster berkepala dua ini yang menyebabkan perempuan diupah rendah dalam pabrik namun tetap memiliki jam kerja dan tuntutan yang sama seperti laki-laki.  Perempuan pekerja diupah rendah karena mereka adalah perempuan dan pekerjaan yang mereka lakukan dianggap sebagai pekerjaan sehari-hari yang mereka lakukan di dalam rumah. Maka, apa yang membuatnya menjadi istimewa sehingga perlu mendapatkan upah tinggi?

Menurut Engels, bagaimana cara mengemansipasi perempuan? Engels mengatakan, tidak mungkin perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki selama kaum perempuan ditutup dari kerja produksi sosial dan dibatasi pada pekerjaan rumah tangga pribadi.[5] Namun sayangnya, praktek di lapangan justru hanya memindahkan kerja domestik perempuan ke dalam suatu industri pengumpul kapital yang manunggaling dengan patriarki. Serba salah bukan? Ini sama halnya dengan memberikan solusi semu bagi perempuan.

 

Beberapa Pertanyaan

Mengapa konsep keluarga bisa memengaruhi kehidupan bermarsyarakat dan bernegara? Jika diperhatikan secara seksama, maka akan terlihat bahwa dari dalam keluargalah munculnya konsep “kepemilikan”. Bentuk keluarga patrilineal menunjukkan transisi keluarga komunal atau keluarga kelompok, menuju ke monogami. Untuk menjamin kesetiaan istri dan paternitas (hak ayah) atas anak-anak, maka perempuan diserahkan sepenuhnya dalam kekuasaan mutlak laki-laki; jika suami membunuh istri, itu semata-mata karena dia sedang menggunakan haknya.[6] Konsep kepemilikan ini yang dikatakan oleh Marx dapat memengaruhi kehidupan sosial yang lebih luas, bahkan memengaruhi kehidupan bernegara.

Pertanyaan yang muncul berikutnya, jika revolusi industri tidak terjadi apakah mungkin monster kepala dua, bernama “kapitalis patriarki”, tidak menyusahkan hajat hidup perempuan? Belum tentu, sebab konsep keluarga patrilineal sudah mengandung bibit-bibit feudalistik. Jika industri tidak muncul maka tetap akan ada konsep “kerajaan kecil” yang menuntut “kesetiaan mutlak” perempuan. Artinya, perempuan tetap akan dimiliki oleh seorang patriark.

 

 

Catatan Kaki

[1] Oikurema merupakan kata benda yang bersifat netral yang digunakan oleh suku Ionia, salah satu suku terbesar dalam masyarakat zaman Yunani Kuno, termasuk orang-orang Athena di dalamnya. Dalam suku itu para perempuan diperlakukan secara berbeda dengan perempuan-perempuan Sparta (suku Doria) yang mempunyai posisi lebih terhormat dalam masyarakat Sparta. Hanya perempuan Sparta dan perempuan Athena berstatus hetaerae (perempuan terdidik yang menjadi penghibur dan pendamping laki-laki berkedudukan tinggi) yang dihormati oleh orang-orang Yunani Kuno tersebut. Dalam model keluarga Athena, seseorang harus menjadi hetaerae sebelum menjadi perempuan. Selebihnya adalah oikurema. Sayangnya, konsep keluarga Athena inilah yang diterima secara lebih luas tidak saja di kalangan Ionia, tetapi di seluruh Yunani termasuk koloninya.

[2] Sarinah, hlm. 72 dan Engels, Asal-usul keluarga, hlm. 48.

[3] Sarinah, hlm. 77.

[4] Rosemarie Putnam-Tong, Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction. United States: Westview Press, 2009, hlm. 117-118.

[5] Engels, Asal-usul Keluarga, hlm. 158.

[6] Engels, Asal-usul Keluarga, hlm. 40.

 

 

Daftar Pustaka

Friedrich Engels, Asal-usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara. Jakarta: Kalyanamitra, 2011.

Hartmann, Heidi I. “The Unhappy Marriage of Marxism and Feminism: Towards a More Progressive Union” dalam Linda Nicholson (penyunting), The Second Wave: A Reader in Feminist Theory. London: Routledge, 1997.

Putnam-Tong, Rosemarie. Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction. United States: Westview Press, 2009.

Soekarno, Sarinah: Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia, Panitya Penerbit Buku-buku Karangan Presiden, 1963.

About the author

Brigitta Blessty

Lahir di Jakarta, 5 Oktober 1992. Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang sejarah, budaya, dan kemanusiaan.

Add Comment

Click here to post a comment