Maria Brigita Blessty Opini

Dana untuk Kemerdekaan Indonesia: Dari Mana (saja) Asalnya?

Sumber Gambar: www.kbknews.id
Sumber Gambar: www.kbknews.id

Masuknya Jepang ke Indonesia, setidaknya, memberikan sedikit angin segar. Ada janji-janji akan datangnya kemerdekaan dari mereka yang mendaku sebagai saudara tua. Ada kesempatan bagi masyarakat Indonesia membuat perkumpulan dan pergerakan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.  Namun, layaknya setiap pergerakan tentu memerlukan dana bukan? Lalu dari mana asal dana yang dimiliki oleh Fonds Kemerdekaan saat itu?

Ternyata, salah satu sumber pendanaan kemerdekaan kita berasal dari para pembaca koran yang budiman.

Tercatat sepanjang tahun 1944 sampai 1945, pembaca koran Tjahaja dari Bandung, Soeara Merdeka, dan Kedaoelatan Rakjat akan dikenakan tambahan biaya untuk setiap pembelian koran-koran tersebut. Informasi tambahan biaya terletak di bagian pojok kanan atas koran. Tambahan biaya ini digunakan untuk mendanai perjuangan kemerdekaan Indonesia dan mendanai tantara perang Indonesia saat itu. Pelanggan koran Tjahaja akan dikenai biaya tambahan 10 sen dan pelanggan koran KR akan dikenai tambahan biaya ƒ1.

Hal lain di koran Tjahaja diberitakan mengenai kelompok sandiwara di daerah Jawa Barat. Kelompok sandiwara di tiap daerah di Jawa Barat akan membuat pertunjukkan di daerahnya masing-masing dan uang hasil pementasan akan disumbangkan untuk fonds kemerdekaan. Berita ini diterbitkan oleh koran Tjahaja hari Sabtu 11 Hatigatu (Agustus) 2605 (1945), No. 193 th IV dengan judul “Sandiwara-sandiwara Soenda Membaktikan Tenaga”. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut pembentukan PPKI.

Dana kemerdekaan dikumpulkan melalui sandiwara. Sumber Foto: Maria Brigita Blessty
Dana kemerdekaan dikumpulkan melalui sandiwara. Sumber Foto: Maria Brigita Blessty

Dalam koran Tjahaja hari Rebo 6 Rokugatsu (Juni) 2605 no 136, kelompok wayang bernama “Wajang Prijantoen” akan membuat gelaran yang pendapatannya akan disumbangkan ke BPP, BP3, Fonds Perang, dan Huzin Kai. Pada Tjahaja Saptoe 30 Rokugatsu 2605 no. 157 juga ada berita kecil yang berjudul “Oentok BP3” yang memberitakan soal kelompok sandiwara “Bintang Tjiandjur” yang menyumbangkan seluruh pendapatannya pada BP3 terhitung sejak 23 Juni sampai 2 Juli.

Tidak hanya dari situ dana untuk kemerdekaan Indonesia. Menurut catatan Molly Bondan dalam “Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian dan Keterlibatan Jepang”, saat pelaut Indonesia dan awak kapal Indonesia yang berada di Australia mendengar kabar bahwa kemerdekaan sudah dideklarasikan, mereka berbondong-bondong berusaha pulang. Sebelum pulang, pertama-tama para pelaut kita, menagih upah kerja mereka pada sekutu di Australia, belum lagi ada deffered pay yang belum tuntas diurus. Jumlahnya cukup besar dan menurut peraturan Australia orang tidak boleh membawa uang logam atau uang kertas ke luar negri dalam jumlah yang berarti.[1] Alhasil uang yang dibawa oleh para awak kapal dan pelaut Indonesia dibelikan war loan’s semacam obligasi.

War loan’s ini dipercayakan kepada Perhimpunan Australia-Indonesia untuk dihitung dan kemudian dikirimkan ke CENKIM atau Central Komite Indonesia Merdeka. Pendek kata, uang yang disimpan oleh para pelaut dan awak kapal Indonesia tercatat sekitar €54,000. Uang ini bisa diambil oleh mereka melalui Bank BNI 46. Bunga dari uang simpanan para pelaut dan awak kapal itulah yang dipakai oleh CENKIM. Pencairan war loan’s dimulai tahun 1954 dan sampai 1962 masih ada dana sebesar €1,000 yang tidak pernah di-claim. Dana tersebut kemudian diserahkan pada Menko Kesejahteraan Rakyat dan dibelikan tekstil untuk yatim-piatu.

Tulisan ini bermaksud menyebar luaskan kejadian-kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan yang luput diperhatikan saat ini. Mungkin kejadian-kejadian seperti ini hanya seperti catatan kaki dari proses kemerdekaan RI yang begitu panjang. Mungkin bagi pembaca yang memang mendalami sejarah, kejadian ini hanya bumbu-bumbu penyedap.

Namun di sisi lain, bumbu-bumbu itulah yang justru bisa menjadi pegangan “Indonesia Muda” yang baru belajar jalan. Seperti anak batita yang perlu dipegang kedua tangannya saat pertama kali kakinya menjejak tanah. Serpihan sejarah ini menandakan adanya kerjasama dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Jiwa gotong-royong, inilah yang akan selalu saya kenang bersama para pembaca yang tak sengaja mampir dalam tulisan ini.

 

 

Sumber Pustaka:

[1] Molly Bondan, Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Perang. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015. Hlm. 113-114.

About the author

Brigitta Blessty

Lahir di Jakarta, 5 Oktober 1992. Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang sejarah, budaya, dan kemanusiaan.

Add Comment

Click here to post a comment