Maria Brigita Blessty Opini

Sudah Pas Kah Refleksi Ini?

Sumber Foto: kabarbaik.net
Sumber Foto: kabarbaik.net

Perlu diketahui bahwa tulisan ini sudah dipersiapkan sejak tanggal 23 Maret 2018. Kebetulan tanggal ini jatuh pada hari Jumat. Dalam adat Katolik, empat puluh hari sebelum Jumat Agung, umat Katolik akan memasuki masa pra-Paskah. Masa ini dimulai pada Rabu Abu, saat dahi umat Katolik (dan mungkin juga Kristen Protestan) ditandai dengan abu. Sebagai tanda bahwa manusia berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Sejak saat itu, setiap hari Jumat, gereja akan mengadakan prosesi Jalan Salib yang merupakan reka ulang Jalan Salib Yesus. Reka ulang Jalan Salib terdiri dari 14 kali perhentian yang menandakan adanya 14 kejadian yang dialami Yesus. Di setiap perhentiannya ada doa dan permenungan khusus.

Saya bukan Katolik yang taat, tetapi saya akan mengikuti ibadah Jalan Salib jika sempat. Ada yang menarik perhatian saya pada Jalan Salib tahun ini. Di perhentian ke-sepuluh, saat pakaian Yesus ditanggalkan. Di bagian renungan, ada pertanyaan apakah kita (saya rasa bukan orang Katolik saja) pernah mempermalukan sesama kita? Pertanyaan ini membawa saya pada beberapa kejadian saat saya dan orang-orang di sekitar saya, mungkin secara tidak sadar, meremehkan orang lain. Bukan dengan kalimat terang-terangan seperti, “Kamu payah,” atau “Anda tidak berguna.” Tetapi dengan ejekan yang melibatkan pihak lain.

Jalan Salib

Pada satu kejadian, saat saya hendak pulang kantor, seorang kawan saya berteriak dari balkon kantor, “Bless jangan mulung (memulung) dulu ya!” Saat itu saya langsung menegur dia, bahwa apa yang disampaikan kawan saya itu tidak pantas. Bukan karena saya merasa terhina, atau merasa kemanusiaan saya direndahkan. Namun, persis karena dengan kata-kata tersebut, menurut pandangan saya, kawan saya sedang merendahkan kemanusiaan orang-orang yang berusaha menyambung hidupnya dengan cara memungut limbah. Padahal limbah tersebut bisa didaur ulang. Seolah-olah apa yang mereka kerjakan membuat kemanusiaan mereka berkurang, sehingga kita layak untuk menjadikan mereka bahan ejekan. Untung saja, kawan saya langsung menyadari bahwa kata-kata tersebut tidak pantas.

Menjadikan kegiatan atau kerja orang lain sebagai bahan ejekan sering saya jumpai. Satu kali, dalam suatu pertemuan, saya mendengar seorang kenalan (laki-laki) meledek kawannya (perempuan) yang bekerja di Singapura sebagai TKW. Memang per definisinya benar, bahwa perempuan tersebut adalah tenaga kerja wanita di sana. Namun, terma TKW sendiri sudah dibubuhi nilai peyoratif. Mereka yang digambarkan datang dari kelas bawah, dengan pendidikan kurang, bekerja di sektor domestik sebagai asisten rumah tangga, dan acap kali mendapatkan siksa dari penyewa jasa. Mungkin bagi mereka, ejekan demikian terdengar lucu. Namun saya mendengar itu sebagai suatu bentuk pelecehan terhadap usaha manusia untuk bertahan hidup.

Saya heran, apa yang membuat kita bisa merasa jauh lebih bermartabat ketimbang para TKW dan pemulung? Toh kita sama-sama mengeluarkan tenaga untuk bekerja dan berkarya demi menjamin kelangsungan hidup. Apakah kita merasa lebih unggul karena kita bekerja di depan komputer dan bukan di depan periuk nasi atau bak sampah? Atau kita merasa lebih unggul karena kita mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari pada mereka? Bukankah pendidikan adalah asupan bagi akal dan budi manusia? Atau tujuan pendidikan sudah berubah menjadi asupan bagi akal dan ego manusia?[1]

Saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan Yesus Kristus mengenai hal ini. Namun, bolehlah saya secara serampangan meminjam kata-kata Bapak Pramoedya Ananta-Toer dalam Bumi Manusia. Bahwa, “Seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran dan perbuatan.” Bagi saya pesan ini adalah pengingat untuk siapa saja, terutama bagi yang merasa “berpendidikan”. Jika Anda merasa “berpendidikan”, maka tumbuhkanlah kepekaan terhadap sesama dalam hal yang paling sederhana. Jika Anda merasa “berpendidikan” maka seharusnya Anda sadar bahwa meremehkan orang tidak hanya dalam tindakan yang merugikan, tetapi juga dalam candaan dan ejekan.

Ingatlah, kita tidak tahu apa yang dialami setiap orang. Maka ada baiknya kita menghormati mereka tidak hanya dalam perbuatan, tetapi juga sudah sejak dalam pikiran kita. Bukankan Yesus sendiri mengajarkan, bahwa mereka yang memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar seharusnya melayani mereka yang berkekurangan. Bukankah, Paus Fransiskus sendiri memberi contoh simpati dan empati terhadap kaum yang berkekurangan? Beberapa tahun terakhir, kita bisa melihat juga bagaimana Paus Fransiskus membasuh kaki para imigran, narapidana, perempuan ataupun laki-laki pada saat prosesi Kamis Putih.

Jadi, kesimpulannya, janganlah menjadikan mereka yang berkekurangan sebagai bahan ejekan yang justru merendahkan martabat mereka sebagai manusia. Sekecil apapun bentuknya, perilaku tersebut telah melawan amanah Gereja untuk menghormati manusia sebagai citra Allah.

Semoga renungan yang diberikan dalam Jalan Salib Yesus bisa kita hidupi untuk seterusnya. Selamat Paskah!

 

 

Catatan Kaki

[1] Akal dan budi yang saya pahami adalah pikiran dan perasaan, pendidikan menjadi asupan bagi otak dan hati kita. Jika pendidikan hanya menjadi asupan bagi akal dan ego, maka asupan tersebut hanya sebatas kepala sampai mulut, sebatas omongan.

About the author

Brigitta Blessty

Lahir di Jakarta, 5 Oktober 1992. Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini bercita-cita menjadi peneliti dalam bidang sejarah, budaya, dan kemanusiaan.

Add Comment

Click here to post a comment