Kegiatan Liputan Maria Cherry

Tinta Putih Tulisan Perempuan

Feminine Writing

There is always within her at least a little of that good mother’s milk. She writes in white ink.

(Cixous 1975, 881)

Kalimat tersebut merupakan kutipan terkenal dari Helene Cixous dalam karyanya yang berjudul The Laugh of Medusa (1975). Melalui tulisannya tersebut Cixous mencoba memaparkan bagaimana sejak lama suara-suara perempuan kerap dilekatkan dengan figur ibu. Tulisan tersebut merupakan karya yang dia tulis setelah proyek Feminine Writing yang digagas bersama Luce Irigaray, Julia Kristeva, dan Catherine Clemen pada pertengahan tahun 1970-an. Bagi Cixous, tulisan yang didasarkan pada intuisi laki-laki terlalu berjarak sehingga banyak aspek yang kurang terjangkau dalam membahas beberapa beberapa isu.

11080013

Hal berbeda jika tulisan dibuat dengan intuisi perempuan, sifat ‘keibuan’ membuat perempuan turut melibatkan perasaan dalam tulisan. Sehingga tulisan yang ditulis perempuan memiliki tawaran empati yang mampu membuat permbaca terlibat terhadap isu-isu yang diangkat. Keterbukaan perasaan pada tulisan tersebut yang coba diterapkan pada pertemuan ketiga Kursus Perempuan dengan pembicara Prof. Melani Budianta M.A Ph. D, atau yang disapa dengan Ibu Mel.

Perempuan yang menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tersebut memulai sesi kursus dengan mengajak para peserta kursus untuk berkontemplasi melalui tiga pertanyaan yang diberikan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah siapakah tiga orang yang paling berpengaruh pada diri, peristiwa paling sulit seperti apa yang pernah dialami sebagai seorang perempuan, dan peristiwa apa yang membuat diri merasa terbebaskan karena menjadi seorang perempuan. Peserta kursus kemudian diminta membagi hasil kontemplasi dengan seorang teman kursus lain yang sudah ditetapkan. Setelah berbagi kisah dengan masing-masing teman, peserta kursus pun diminta membagi hal apa yang didapat dan paling mengena dari kisah teman yang didengar.

Melalui sesi tersebut, Ibu Mel ingin menunjukkan bahwa pengalaman perempuan, meski sederhana dan berangkat dari keseharian, pasti mencerminkan isu tertentu yang berguna bagi orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian perlu untuk dikembangkan dan diolah melalui sudut pandang kritis. Seperti isu terkait menstruasi. Setiap perempuan pasti mengalami menstruasi dengan berbagai kendala yang ditemui. Di ranah publik, membicarakan menstruasia adalah hal tabu. Padahal pada dasarnya menstruasi  adalah siklus alamiah perempuan. Wacana tersebut perlu diangkat di ranah publik, karena perlu banyak klarifikasi seputar mitos-mitos yang beredar tentang menstruasi, sehingga perempuan terutama remaja mampu paham dan menjaga kesehatan reproduksinya.

20597248_10154608223300826_8056586095026804959_n

Lebih lanjut, sebagai contoh tulisan perempuan Ibu Mel mencontohkan dari buku Bukan Perawan Maria (2017) karya Feby Indirani dan Kumpulan Surat-Surat Kartini (1979).  Karya-karya pilihan Ibu Mel tersebut merupakan tulisan sama-sama berangkat dari kegelisahan sehari-hari yang ditemui yang kemudian diolah dengan cara yang berbeda. Kedekatan isu dengan pengalaman pembaca itulah yang menurut Ibu Mel merupakan tawaran segar dari tulisan-tulisan perempuan. Pembaca pun dibuat mampu berempati dan larut dalam tulisan. Sehingga pada intinya, Ibu Mel ingin menunjukkan bagaimana tulisan yang dihidupi dengan pergolakan diri akan menghasilkan karya yang lebih bermakna dan hidup.

Namun, Ibu Mel tentu juga menyadari bahwa setiap kegiatan-kegiatan perempuan tidak dapat terlepas dari stigma dan praanggapan yang telah berkembang di masyarakat dan biasanya menjadi hambatan sehingga para perempuan tidak berani untuk menulis. Terkait hal tersebut, Ibu Mel memberikan anjuran yaitu dengan tidak mental block dan khawatir akan aturan-aturan menulis yang mengekang. “Menulis itu membebaskan” ujar Ibu Mel. Oleh sebab itu penting untuk menjadikan menulis sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

20604425_10154608253515826_7455173222939087176_n

Beberapa pertanyaan turut diutarakan oleh peserta kursus perempuan. Latar belakang pekerjaan yang berbeda pada peserta kursus perempuan menyebabkan tidak semua peserta mampu menulis. Misalnya pada peserta kursus yang lebih terbiasa mengeluarkan pendapat secara lisan, kesulitan untuk menuangkannya dalam tulisan. Ibu Mel memberi anjuran untuk merekam pendapat lisan peserta tersebut, baru kemudian diolah dalam bentuk tulisan. Ibu Mel menekankan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menulis dan tidak ada yang salah. “Find your own way!” ujar Ibu Melani meyakinkan para peserta seraya menutup sesi kursus perempuan pada hari itu. ***

About the author

Maria Cherry Ndoen

Maria Cherry Ndoen. Peserta Kursus Perempuan tingkat III.
Perempuan bergolongan darah A yang lahir di Cancar, NTT pada tahun 1993. Tak pandai dan mempunyai pengalaman banyak dalam dunia tulis-menulis, hanya gemar mengungkapkan pemikiran, pandangan, dan perasaan melalui kata-kata. Segera ia akan menjadi pejuang tesis, karena baru saja memasuki tingkat dua studi S2 di Cultural Studies, FIB.

Add Comment

Click here to post a comment