Esai Mariana Dewi Rachmawati Opini

Jari Manisku, Urusanmu?

jm

Idul Fitri sudah dekat. Hari itu akan menjadi hari yang saya tunggu-tunggu, karena Ayah dan Adik saya merayakan hari kemenangan tersebut. Terutama karena kehadiran empek-empek palembang, opor ayam, bakso, lontong sayur, dan teman-temannya. Hari Lebaran juga adalah momen dimana saya mendapatkan waktu libur yang cukup panjang. Bagi karyawati alias pengabdi perusahaan dan bos, mendapatkan hari libur selama beberapa hari menjadi suatu kemewahan tersendiri. Rasa-rasanyanya tidak ada yang tidak saya sukai dari hari Lebaran. Oh, kecuali pertanyaan wajib dari tante-tante saya, “Jadi, kapan kamu akan menikah?”

Saya lalu bertanya-tanya pada diri sendiri: sebetulnya apa sih yang menyebabkan kepedulian berlebih terhadap urusan jari manis ini? Padahal, BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) menyebutkan bahwa usia yang ideal untuk menikah di Indonesia adalah usia 20-35 untuk perempuan, dan 25-40 tahun untuk laki-laki. Kebetulan saat ini saya masih berada pada rentang usia bawah 30 tahun. Jadi sebetulnya, saya masih punya cukup banyak waktu, dong?

Teman-teman di kantor saya pun seringkali menunjukkan rasa keingintahuan yang besar terkait hal ini. Mereka seringkali menanyakan kenapa saya belum juga memiliki keinginan menikah, apalagi saya sudah punya pacar, dan sudah pacaran cukup lama. Semuanya melantunkan lagu klasik yang sama,  “Gelar sarjana sudah, pekerjaan yang menghasilkan juga sudah. Lantas apa lagi yang ditunggu?” Pada akhirnya, banyak juga dari mereka yang menyimpulkan berbagai macam hal. Ada yang mengatakan bahwa saya belum punya tabungan. Ada juga yang bilang saya takut berkomitmen. Kesimpulan ini tidak sepenuhnya salah, walaupun tidak sepenuhnya benar juga.

Bagi saya, pernikahan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele. Menikah bukanlah semata-mata event satu-dua hari, bukan tentang menggunakan gaun berat bertabur kristal swarovski, bukan tentang tempat resepsi super mewah di pinggir pantai, bukan tentang foto-foto prewedding romantis di ujung dunia yang dipajang di Instagram. Memang sih, siapa yang tidak mau pernikahan mewah nan romantis bak fairytale selayaknya Pangeran William dan Kate Middleton? Tapi toh kenyataannya, pesta pernikahan yang mewah dan gemerlapan juga tidak menjamin kelanggengan perkawinan itu sendiri.

Sumber: brainyquote.com

Berkaca dari ayah dan ibu saya, menikah adalah tentang bagaimana saling berkomunikasi dan bekerjasama dalam mengatur sebuah organisasi kecil beranggotakan sekian orang bernama keluarga. Bagaimana setiap anggota keluarga bekerjasama untuk mengatasi semua keterbatasan yang ada, dan menjadikan seluruh perbedaan menjadi suatu harmoni. Tidak ada yang lebih penting antara ayah atau ibu, kedua-duanya memegang peranan penting yang tidak bisa tergantikan. Jika tidak ada ibu, ayah pasti akan kebingungan mengurus kami anak-anaknya, mulai dari memastikan kami sudah berada di rumah setelah pulang sekolah hingga menemani kami belajar. Jika tidak ada ayah, ibu seringkali kelimpungan mengurus rumah, misalnya mengganti genteng yang bocor.

BPS (Badan Pusat Statistik) Indonesia mencatat bahwa sejak tahun 2012 hingga 2015, dari rata-rata angka pernikahan sebesar 2,160,411 pasangan, sebanyak 354,359 pasangan memilih untuk bercerai dalam rentang waktu empat tahun tersebut. Penyebabnya bervariasi, namun yang paling tinggi adalah karena pasangan tidak bertanggungjawab, adanya gangguan dari pihak ketiga, dan krisis akhlak. Kumparan pun pernah melansir bahwa menikah muda juga adalah salah satu penyebab terjadinya perceraian (Ludwianto, 2017).

Saya sendiri sebetulnya seringkali merasa kagum, walaupun bercampur heran, terhadap orang-orang yang memutuskan untuk menikah dalam usia yang cukup muda. Saya pribadi amat menyayangkan perempuan-perempuan yang sampai rela meninggalkan pendidikannya untuk menikah. Uniknya, ini justru terjadi di kota besar seperti Jakarta dan Bandung, yang seharusnya sudah lebih berpikiran terbuka. Tetapi buktinya, tidak sedikit teman-teman kuliah saya yang akhirnya memilih untuk drop out karena alasan ini. Ketika ditanya, mereka malah balik bertanya, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya hanya akan berakhir di dapur?”

Padahal, meninggalkan bangku sekolah untuk menikah atas nama cinta merupakan suatu keputusan yang lebih banyak merugikannya, terutama bagi perempuan. Seringkali, keputusan ini malah mengakibatkan ketergantungan finansial, dalam hal ini kepada suami yang merupakan pemimpin rumah tangga. Karena secara otomatis menempatkan istri di posisi yang lebih rendah daripada suami, ketergantungan finansial dapat menyebabkan istri jadi lebih memiliki risiko untuk mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), baik secara fisik, verbal, juga finansial.

Jika ada satu hal yang betul-betul saya kagumi dari ayah dan ibu saya, tentunya adalah bagaimana ayah saya bisa dengan begitu lapang dada menempatkan ibu saya setara dengan dirinya. Ibu saya pun bisa menunjukkan kepada ayah bahwa dirinya adalah partner. Tidak ada yang inferior maupun superior. Apabila ayah sedang emosi, ibu akan diam. Sebaliknya ketika ibu marah-marah, ayah hanya akan mendengarkan ibu. Bagi saya, itu adalah kerjasama tim yang baik. Nah, apakah kamu sudah yakin, bahwa baik diri kamu maupun pasangan kamu saat ini sudah siap untuk menjadi satu tim yang saling mendukung satu sama lain?

Maka dari itu, menikahlah ketika memang sudah betul-betul siap lahir dan batin. There’s no such thing as a happy ending. In fact, it is only the beginning. Siapa yang tahu akhir cerita dari kehidupan Cinderella setelah ia menikah dengan Prince Charming? Jangan terpukau dengan kegemerlapan satu atau dua hari saja, tapi sepuluh, dua puluh tahun setelah hari bahagia itu. Jangan biarkan mata kelilipan gara-gara kisah cinta Instagram ala Raisa dan Hamish Daud, atau Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion dengan hashtag Teman Tapi Menikah. Jangan memutuskan untuk menikah hanya karena jengah mendengar komentar orang atau tidak mau kalah dari orang lain. Sebab pada akhirnya, diri kita sendirilah yang akan menjalani kehidupan kita, bukan orang lain.

About the author

Mariana Dewi Rachmawati

Agenda 18 Angkatan 6. Pecinta Paulo Coelho, penikmat earl grey tea, dan pemakan segala. Tumbuh dewasa di sebuah kota kecil bernama Bontang di Kalimantan Timur. Saat ini mencari peruntungan di tengah hiruk pikuk ibu kota demi sesuap nasi dan semangkuk berlian. Hobinya nonton film, mendengar lagu, dan melatih vokal di kamar mandi. Senang bikin puisi, suatu saat nanti ingin menjadi seperti Rupi Kaur.

Add Comment

Click here to post a comment