Kegiatan Mariana Dewi Rachmawati Wawancara

Mimpi Sepeda Terbang

Sumber Gambar: www.denikurnia.com
Sumber Gambar: www.denikurnia.com

Bulan puasa adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, Bulan Ramadan juga selalu ditunggu-tunggu oleh seorang kawan baru saya di Agenda 18, Arlandy Ghiffari alias Diki. Sebenarnya momen ini dinanti-nanti bukan karena puasanya sendiri, tetapi kadang karena ramainya jajanan, meriahnya petasan, dan waktu bermainnya yang lebih panjang.

Sudah menjadi kebiasaan Diki dan teman-temannya untuk bermain bersama setelah selesai menjalankan ibadah shalat subuh pada saat bulan puasa. Pada suatu Sabtu yang cerah Agustus tahun 2009, Diki dan dua orang temannya, Icang dan Rama, bermain bersama. Bosan bermain petasan, mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Rama saja.

Sambil berlari-lari kecil menapaki tanjakan ke arah rumahnya, Rama mengatakan bahwa sepedanya yang dulu rusak kini telah selesai diperbaiki. Mendengar hal itu, Diki lantas menjadi semangat. Dia mengatakan ingin mencoba mengendarai sepeda tersebut. Rama setuju, sembari berpesan bahwa rem sepedanya mungkin belum berfungsi normal. “Rem belakangnya sudah benar, tapi rem depannya masih agak blong,” katanya.

Namun bukan Diki namanya kalau peringatan seperti itu membuatnya takut dan urung mengutak-atik sepeda itu. “Oke,” jawab Diki singkat. Maka jadilah Diki dan Icang mengendarai sepeda itu berboncengan. Icang di depan, Diki di belakang. Dengan penuh percaya diri mereka melaju, Icang menggenjot sepeda menuruni jalan turunan curam dari rumah Rama.

Di tengah jalan, Diki mulai memiliki perasaan tak enak. Icang sepertinya tidak terlihat menekan tuas rem, sepeda mereka pun melaju semakin kencang. Diki mulai berpikir bahwa mereka pasti akan jatuh, apalagi mengetahui bahwa di depan mereka ada sungai dan parit yang cukup tinggi. Tiba-tiba, ia melihat ada sekelompok tukang bangunan di sebelah kanan jalan.

“Baaaaaang, tolong baaaaang!” teriaknya, sambil melambaikan tangan minta tolong. Tapi naas, mereka hanya menatap mereka sambil kebingungan. Hingga akhirnya….. “BRUUAAKK!”. Seperti yang seakan sudah dicemaskan, mereka menabrak parit tinggi hingga terpelanting dari sepeda.

Untungnya, Diki tidak mengalami luka yang parah. Dia hanya mendapatkan luka baret di lutut. Icang lebih sial, dia sampai tidak sadarkan diri hingga keesokan harinya. Ketika akhirnya sadar, dia merasa bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah mimpi. Icang bercerita bahwa dia merasa bermimpi bahwa ia jatuh dari sepeda, yang pada akhirnya menjadi bahan tertawaan Diki dan Rama. Ngerinya, kata dokter, Icang gegar otak ringan.

Untungnya setelah kejadian itu, Diki dan Icang hanya diingatkan oleh orang tua masing-masing untuk tidak banyak bermain-main saat bulan puasa dan lebih banyak beribadah. Rama juga tidak marah walaupun sepedanya dirusak lagi oleh kedua temannya.

Diki dan Icang pun sempat tenar sesaat karena menjadi bahan pembicaraan warga sekitar selama hampir seminggu. Walaupun tidak sampai masuk koran, tetapi katanya ada wartawan yang datang juga dan bertanya-tanya tentang mereka. Seandainya masuk koran, mungkin mereka sudah seterkenal Morgan Oey dan Dion Wiyoko sekarang. Yah… tetapi mungkin ini ada dalam mimpinya Icang juga.

About the author

Mariana Dewi Rachmawati

Agenda 18 Angkatan 6. Pecinta Paulo Coelho, penikmat earl grey tea, dan pemakan segala. Tumbuh dewasa di sebuah kota kecil bernama Bontang di Kalimantan Timur. Saat ini mencari peruntungan di tengah hiruk pikuk ibu kota demi sesuap nasi dan semangkuk berlian. Hobinya nonton film, mendengar lagu, dan melatih vokal di kamar mandi. Senang bikin puisi, suatu saat nanti ingin menjadi seperti Rupi Kaur.

Add Comment

Click here to post a comment