Nurhasanah Opini

Media dan Kemerdekaan Perempuan Indonesia

Sumber: http://allbrands.com.mx
Sumber: http://allbrands.com.mx

Sejak kemunculannya dari masa ke masa, media memiliki peran yang paling strategis dan signifikan dalam menyuarakan dukungan, pendapat, kritik, dan gagasan terhadap fenomena yang terjadi di dunia dan masyarakat. Mulai dari isu-isu internasional sampai lokal. Jika menilik sejarah media, maka media adalah produk dari sebuah kehidupan bermasyarakat dengan tujuan menyiarkan hal-hal yang dianggap layak untuk diketahui publik dan mendapatkan respon.

Media memiliki otoritas penuh dalam mengemas berita-berita lalu dipublikasi dan dikonsumsi khalayak. Namun otoritas dan kebebasan media juga diatur oleh etika profesi, sehingga media dan awak jurnalis seharusnya tatanan tersebut. Kali ini, penulis mencoba menelaah persoalan media dalam membuat stereotype tentang perempuan dan feminitas (keperempuanan). Komposisi pemberitaan mencakup sosial, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi dan informasi, tokoh, dan seterusnya.

Selain itu, penulis juga ingin fokus pada peran jurnalistik dalam industri media yang belakangn ini menjadi sorotan, khususnya di kalangan masyarakat tertentu, seperti: pengamat, aktivis, akademisi, dan lain-lain. Tulisan ini berangkat dari pernyataan, apakah proporsi yang digunakan media untuk memberitakan tentang berita-berita seputar perempuan sudah memenuhi hak perempuan atau sebaliknya? Apakah media dan awak jurnalis memiliki pengetahuan dasar terhadap paham kesetaraan gender dan merasa ikut bertanggung jawab dalam menyajikan berita yang terkait dengan perempuan secara baik dan benar?

Pada pertemuan kedua Kursus Perempuan angkatan ke-3, para peserta diberi paparan mengenai media dan relasinya terhadap keadilan gender dengan judul “Meneropong Keadilan Gender di Media Massa.” Isu ini menjadi sangat menarik karena belum pernah saya jumpai sebelumnya. Dalam pembukaan presentasi sesi ketiga, merujuk pada pernyataan Tommy F. Awuy (Siahaan:2000) bahwasanya bahasa jurnalisme, khususnya koran-koran di Indonesia masih mencerminkan budaya patriarki, dimana perempuan sebagai objek atau properti.

Industri media membentuk sebuah citra bagi kaum perempuan, yaitu citra yang penuh dengan sifat-sifat cenderung hipokrit dan tidak apa adanya. Dengan kata lain, industri media menjadikan perempuan sebagai sasaran komodifikasi untuk suatu hal yang ingin mereka tampilkan, dijual, dan menghasilkan pundi-pundi materi. Sementara membangun imej, mereka meniadakan konsekuensi logis dan hakikat perempuanan, karena memang bukan itu tujuan mereka.

Hal yang paling lucu tatkala awak media, dari struktur bos besar sampai jurnalis mengangkat sebuah citra tentang perempuan namun tidak memiliki wawasan mengenai dunia perempuan, sehingga menimbulkan asumsi atau prasangka yang menghadirkan citra perempuan imitatif. Hal ini ditandai dengan munculnya ide-ide berupa teori kecantikan yang tidak memiliki landasan ilimiah dan tidak berdasarkan aspek-aspek yang dapat dijadikan rujukan dasar misalnya aspek psikologis, sosiologi, hingga aspek biologis. Asumsi diciptakan sendiri untuk mencapai tujuan untuk kepentingan golongan tertentu.

Citra kecantikan yang dibangun dan dipublikasikan melalui berbagai macam sarana seperti; iklan, tulisan, berita, dan sebagainya ditanggapi oleh kalangan perempuan sebagai sesuai yang bersifat absolut. Hal tersebut penulis anggap sebagai awal dari kehancuran hakikat perempuan dan keperempuanannya di tangan orang-orang yang sangat minim pengetahuan tentang dunia perempuan. Citra perempuan cantik atau tidak cantik menjadi objek komoditas paling digandrungi oleh media massa. Mereka akan berkompetisi satu sama lain untuk bisa memunculkan figur-figur perempuan sebagai yang paling cantik dan indah dipandang mata.

Citra-citra imitatif tersebut berubah wujud menjadi mitos, sejak dikenalnya konsep cantik di masyarakat, akhirnya menciptakan angin segar bagi kemunculan industri-industri yang lain, seperti kosmetik, fashion, melalui tabloid dan majalah. Awalnya hanya citra, namun ini menjadi sebuah mitos.

Tulisan ini tidak dalam rangka untuk menggugat media, penulis hanya ingin memberi pendapat yang berangkat dari kegelisahan dan kekhawatiran. Salah satu harapannya adalah membantu perempuan-perempuan yang belum menyadari tentang arti penting daya pikir dan kepekaan yang mungkin sudah lama tidak diaktifkan untuk melihat fenomena sosial di sekitarnya.

Perempuan modern seharusnya memiliki senjata yang selalu digunkan untuk bisa menjaga dirinya, senjata yang dimaksud adalah pikiran yang tajam. Dengan memiliki pikiran yang tajam, perempuan yang hidup di era digital ini dapat berpikir dan bersikap bijaksana. Tidak begitu mudah untuk dibodohi oleh industri media yang berlindung di belakang citra-citra yang begitu cantik, padahal artifisial.

Pengalaman belajar di Kursus Perempuan menjadi pelengkap bagi saya bagaimana memetakan beragam problematika yang terjadi di tengah-tengah perempuan. Maka dari itu, sebelum orang lain mengambil alih untuk memposisikan diri sebagai yang paling paham tentang perempuan dan menerapkan percobaannya, kami berusaha untuk bisa mengupas satu-persatu. Setidaknya para peserta Kursus Perempuan telah memiliki modal awal untuk melakukan yang seharusnya dilakukan oleh kaum perempuan. Modal tersebut adalah menulis, menulis dari perspektif tentu akan berbeda jika disajikan dari kacamata industri. Sama-sama memiliki kepentingan, tapi juga kepentingan yang sama sekali berbeda, ada satu kepentingan untuk mengeruk kepentingan golongan, yang satu lagi adalah kepentingan untuk memajukan logika berpikir perempuan dan mengaktifkan nalar atau intuisinya.

Meskipun sudah terjadi sejak tahun 1970-an, menurut saya media tidak memiliki hak untuk mengintervensi terhadap hak-hak perempuan atas dirinya sendiri. Hak yang penulis maksud disini adalah hak untuk memaknai kecantikan dirinya sendiri, hal untuk mengidentifikasi kecerdasannya dalam bidang-bidang yang dia gemari, ataupun hal untuk upaya agar hubungan pasangan suami-istri menjadi langgeng.

Awal abad 21, media di Indonesia dibanjiri oleh media-media tentang perempuan, katanya emansipasi, tapi yang terjadi justru media-media ini kehilangan esensi.

Namanya juga media, pastilah keuntungan yang dicari, tidak peduli bagaimana perempuan-perempuan di luar sebuah majalah atau tabloid itu. Banyak perempuan Indonesia yang masih berusaha keras untuk mencari sumber nafkah karena suami yang bekerja dan menghasilkan hanya sedikit uang. Perempuan yang seperti ini adalah contoh realitas yang banyak kita temui di seluruh pelosok negeri. Bisakah media kita menjauhkan idealisme jurnalistik dengan keuntungan perusahaan? Sejauh yang kami diskusikan bersama para narasumber di ruang kursus. Awak jurnalis memang masih minim pengetahuan tentang gender, inilah yang menjadi sumber kekurangan bagi mereka yang ingin mempersepsi sebuah citra tentang perempuan.

Harapan saya untuk Dewan Pers ataupun AJI ialah membuat dan mengatur Undang-Undang serta memberi kesempatan bagi para jurnalis untuk bisa mengakses pendidikan tentang gender. Penulis menilai harapan ini tidak berlebihan, mengingat dunia media massa sepertinya darurat pengetahuan tentang gender. Ditambah juga karena untuk membentuk citra perempuan sudah seharusnya awak media memiliki pengetahuan yang komprehensif. Sehingga tetap memegang teguh nila-nilai junralistik dan mempublikasikannya secara objektif.

Jadi penulis menyimpulkan bahwa perempuan Indonesia belum memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri. Kemerdekaannya sangat bergantung dapat dunia industri yang bernama media massa. Dengan basis pengolahan citra yang dibuat seindah-indahnya, namun yang terjadi adalah kaum perempuan masih mengalami diskriminasi di media. Sifat-sifat alamiah perempuan yang menjadi anugerah Tuhan malah menjadi momok bagi industri media, karena hal yang menjadi pertimbangan bagi media itu sendiri adalah keuntungan yang berlipat ganda, bukan pula hakikat perempuan sebagaimana perempuan yang hidup berdampingan dengan media.

About the author

Nurhasanah

Nurhasanah, alias Una peserta Kursus Perempuan Tingkat Menengah tahun 2017. Dia adalah alumnus S1 jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Una melanjutkan studi S2 di Universitas Paramadina. Dia pernah terlibat dalam Festival Orang Muda Tempo Institute tahun 2016, dan sekarang bekerja sebagai staf peneliti di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.

Add Comment

Click here to post a comment