FA Triatmoko HS Opini

Finlandia: Anomali Sistem Pendidikan

FINLANDIA PENDIDIKAN

Finlandia. Mungkin kita hanya kenal negara ini karena Nokia, produsen ponsel yang sempat jadi raja di bidang telekomunikasi. Namun kini mereka terkenal tak hanya karena itu, melainkan juga karena kualitas pendidikannya yang tinggi. Kualitas ini dilihat dari konsistensi ranking mereka dalam tes PISA (Programme for International Study Assessment), sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia.

Cina memang menempati urutan pertama dalam tes PISA 2009, namun Finlandia yang saat itu ada di peringkat 3, selalu konsisten menempati peringkat atas. Keberhasilan Finlandia ternyata bersumber dari implementasi sistem pendidikannya yang unik.

PISA adalah sebuah studi internasional yang bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan di dunia. Evaluasi 3 tahunan ini dilakukan dengan mengukur keterampilan dan pengetahuan siswa berusia 15 tahun yang diplih secara acak (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2012). Bidang yang diukur adalah membaca, matematika dan sains.

Pada tahun 2009, Cina menempati ranking pertama secara umum, diikuti Korea dan Finlandia. Amerika Serikat menempati urutan 17, Inggris peringkat 25 dan Indonesia ada di nomor 57 dari 65 peserta (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2009). Finlandia, meski hanya peringkat 3, memiliki konsistensi dalam mendapatkan peringkat atas.

Konsistensi Finlandia mendapatkan peringkat atas dalam tes PISA membuat banyak pakar pendidikan ingin tahu penyebabnya. Menurut situs University of Helsinki, kemajuan pendidikan di Finlandia dimulai pada abad 19. Saat itu, Uuno Cygnaeus, “bapak pendidikan dasar” Finlandia mencetuskan ide bahwa kelas yang paling baik adalah kelas di mana murid lebih banyak berbicara dibanding guru. Selain itu, tokoh-tokoh pendidikan di Finlandia juga memakai pandangan John Dewey dalam pendidikannya, yaitu belajar dengan mempraktikkannya (Siina , 2012).

Dari beberapa sumber di internet, bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Finlandia adalah sumbernya, yaitu pandangan possitif terhadap profesi guru, tidak adanya ujian wajib dan standar, kurikulumnya tidak terlalu ‘akademis’ dan sekolah memiliki otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan. Berikut ini adalah penjelasan masing-masingnya.

Guru di Finlandia adalah seseorang yang dihargai, sama seperti dokter, pengacara atau peneliti. Mereka adalah orang-orang dengan kualifikasi tinggi (untuk bisa mengajar penuh, butuh gelar S2) dan seleksinya pun ketat (Lopez, 2012). Henna Virkkunen, menteri pendidikan Finlandia, pada tahun 2011 menyampaikan pandangannya mengenai guru di negaranya.

Menurutnya, guru adalah kunci masa depan Finlandia. Mereka belajar di universitas selama 5 tahun dan menjalani banyak pelatihan guru dengan pengawasan (Snider, 2011).Calon guru tersebut akan mendapatkan umpan balik dari pengawasnya. “Lingkungan pendidikan kita didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama, sehingga saat kita mengadakan tes dan evaluasi, hasilnya digunakan bukan untuk mengendalikan [guru], melainkan untuk pengembangannya,” tambah sang menteri.

Di Finlandia, tidak ada ujian baku yang diwajibkan pemerintah sebelum usia 17-19 (Lopez, 2012). Metode evaluasi di Finlandia adalah berupa umpan balik yang diberikan dalam bentuk narasi, dimana penekanannya adalah pada deskripsi perkembangan belajar dan area yang perlu dikembangkan oleh siswa. Evaluasinya juga berupa soal-soal terbuka yang berfokus pada penggunaan informasi untuk mendorong siswa belajar dan menyelesaikan masalah, bukan pada hukuman (Darling-Hammond, 2012). Satu-satunya ujian yang ada di Finlandia adalah ujian masuk universitas, yaitu ujian matrikulasi; dan ini tidak wajib. Ujian ini dibuat oleh dewan ujian matrikulasi dari kementerian pendidikan.

Kurikulum di Finlandia pun tidak terlalu ‘akademis’ seperti yang dibayangkan ada di negara dengan pencapaian akademis yang tinggi. Siswa di sekolah-sekolah Finlandia mengikuti jam belajar yang lebih sedikit. Sekolah dan guru diberi kebebasan dalam menentukan kurikulum, metode pengajaran dan juga materi ajar. Guru-guru juga mengadakan pertemuan, setidaknya satu kali dalam seminggu, untuk secara kelompok, merencanakan dan mengembangkan kurikulum. Di dalam pertemuan tersebut, semua guru didorong untuk saling berbagi material (Darling-Hammond, 2012).

Di dalam kelas, sangat jarang ada guru yang berdiri di depan kelas dan memberikan ceramah selama 50 menit. Siswalah yang menjadi pusatnya, dengan menentukan sendiri target mingguan dengan guru, pada bidang tertentu dan memilih tugasnya sendiri. Sehingga yang terjadi di kelas adalah: siswa berjalan kesana kemari, mengumpulkan informasi, bertanya pada guru dan bekerja sama dengan siswa lain dalam kelompok kecil.

Desain pembelajaran semacam ini dikembangkan secara lokal oleh guru di sekolah. Sehingga,guru selalu ditantang untuk membuat kurikulum dan mengembangkan evaluasi kinerja yang sesuai dengan kondisi sekolah. Untuk itu saat menjalani pelatihan, guru dibekali dengan keterampilan mengajar siswa yang memiliki gaya belajar beragam, termasuk yang berkebutuhan khusus. Penekanannya adalah pada multikulturalitas dan pencegahan munculnya kesulitan belajar dan pembedaan (Darling-Hammond, 2012). Dan pada akhirnya, slogan no child left behind pun menjadi nyata.

 

Daftar Pustaka

Darling-Hammond, L. (2012, November). What we can learn from Finland’s successful school reform. Diambil kembali dari National Education Association Today: http://www.nea.org/home/40991.htm

Lopez, A. (2012, May 21). How Finnish schools shine. Dipetik October 3, 2012, dari The Guardian Teacher Network Blog: http://www.guardian.co.uk/teacher-network/teacher-blog/2012/apr/09/finish-school-system

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2009). PISA 2009 ranking. Diambil kembali dari PISA 2009 key findings: http://www.oecd.org/pisa/46643496.pdf

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2012). About Pisa. Dipetik October 3, 2012, dari PISA: http://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/

Siina , V. (2012, January 25). News & Events. Dipetik October 3, 2012, dari University of Helsinki: http://www.helsinki.fi/news/archive/1-2012/25-16-58-02.html

Snider, J. (2011, April 17). Keys To Finnish Educational Success: Intensive Teacher-Training, Union Collaboration. Dipetik October 2012, 2012, dari Huffington Post Blog: http://www.huffingtonpost.com/justin-snider/keys-to-finnish-education_b_836802.html

 

Sebelumnya artikel ini telah dimuat disini.

About the author

FA Triatmoko HS

Agenda 18 Angkatan 3. Saat ini bekerja di almamaternya yaitu Kantor Teknologi Pembelajara Universitas Indonesia sebagai Koordinator Teknologi Pembelajaran. Aktif menulis di POPsy! sebuah jurnal psikologi populer. Sejak 2012 membuka Kelas Koki Cilik @kekoci bersama istrinya, Kak Tasya.

Add Comment

Click here to post a comment