Opini Trinzi Mulamawitri

Mendekonstruksi Meme: Menikah Lebih Baik daripada S2

Judul
Meme 1
7
Meme 2
8
Meme 3

Kita sering sekali melihat meme yang mempromosikan pernikahan. Belum lagi ditambah kasus-kasus pernikahan kalangan seleb remaja yang menjadi viral. Terlihat di meme pertama meledek perempuan yang memutuskan untuk melanjutkan memilih S2 daripada menikah. Tokoh perempuan yang mengenakan jilbab menjadi representasi bahwa dalam Islam menikah lebih penting daripada menuntut ilmu. Meme ini pun menimbulkan opini bahwa perempuan tidak perlu menuntut ilmu lebih tinggi karena lelaki lebih menyukai perempuan mempunyai tingkat edukasi yang biasa-biasa saja dan mau dinikahi.

Meme kedua adalah plesetan dari iklan Fair & Lovely. Dalam iklan asli diperlihatkan bahwa si perempuan berjilbab yang berkulit putih meminta izin kepada orangtuanya untuk menyelesaikan S2 terlebih dahulu, baru kemudian menikah. Iklan ini menimbulkan respon beragam dari warganet, termasuk mengejek bahwa sekolah itu merepotkan sehingga akhirnya si perempuan menyerah minta dijodohkan.

Di meme ketiga, kita melihat adegan pernikahan anak Arifin Ilham, Alvin Faiz, yang memutuskan menikah saat masih berusia 17 tahun dengan perempuan umur 21 tahun. Pernikahan yang dilakukan tahun 2016 ini sempat membuat heboh jagad maya. Alih-alih mengkritisi bagaimana Alvin Faiz bisa “membelokkan” hukum Indonesia, yang sebenarnya baru membolehkan lelaki menikah di usia 19 tahun, meme yang beredar justru “memanas-manasi” agar buru-buru menikah.

Ketiga meme ini jelas-jelas mempromosikan pernikahan sebagai destinasi utama memperoleh kemuliaan. Pernikahan telah dianggap sebagai tujuan utama hidup perempuan. Pernikahan diromantisasi dan dibuat sebagai suatu fantasi indah sehingga hampir semua perempuan di dunia percaya hidupnya tidak akan lengkap bila tidak menikah. Pernikahan jadi lebih mulia daripada menuntut ilmu, terutama buat perempuan. Akibat adanya pra-anggapan bahwa perempuan nantinya tetap harus tunduk pada lelaki, jadi tidak perlu sekolah tinggi.

Sayangnya, anggapan bahwa lelaki terintimidasi dengan perempuan yang lebih pintar pernah dibuktikan oleh Lora Park, seorang psikolog sosial dan rekan-rekannya pada tahun 2015. Mereka meneliti reaksi lelaki terhadap perempuan yang dipersepsikan lebih pintar daripada si lelaki. Dalam studi pertama, sampel mahasiswa lelaki diminta memberikan opini terhadap perempuan yang telah mengungguli nilai ujian mereka. Ternyata kebanyakan lelaki tertarik mengajak perempuan itu untuk membina hubungan jangka panjang. Studi kedua menempatkan mahasiwa lelaki dan perempuan dalam satu ruangan untuk melakukan tes pelajaran. Sebelum tes dimulai mereka saling berinteraksi. Setelah hasil tes dibagikan, mahasiswa lelaki diminta pendapatnya tentang perempuan yang nilainya lebih tinggi dari mereka. Dalam studi ini, lelaki merasa kurang tertarik melanjutkan hubungan dengan perempuan. Studi selanjutnya, ketiga, menghasilkan kesimpulan yang kurang lebih serupa dengan penjelasan lebih dalam. Partisipan lelaki diminta mengevaluasi sisi maskulinitasnya dalam situasi kalah di depan perempuan yang berpotensi menjadi pasangannya.

Dalam tiga penelitian yang terpisah itu, tim studi menemukan bahwa lelaki lebih tertarik dengan perempuan yang lebih pintar dalam jarak tertentu. Lelaki menganggap perempuan jadi kurang menarik, secara fisik maupun emosional, ketika mereka berhubungan lebih dekat. Ada sisi maskulinitas yang terancam dalam situasi ini.

Meskipun begitu survey  yang dilakukan oleh Professor David Bainbridge dari University of Cambridge, pengarang buku Curvology: The Origins and Power of Female Body Shape, justru mengatakan bahwa intelegensi perempuan adalah hal penting yang dicari lelaki saat menjalin hubungan jangka panjang, “Intelegensi menunjukkan dia akan bisa mengasuh anak-anaknya dengan baik.”

 

Pernikahan dalam Islam

Kembali pada meme di atas, adanya atribut jilbab serta peci, menunjukkan si pembuat meme berusaha mempengaruhi pemeluk agama Islam agar segera menikah. Bahkan, sebelum fenomena meme menggila di mana-mana, saya sebagai perempuan yang menganut agama Islam juga harus mengakui pernah ikut teracuni fantasi ini. Terutama bila ditambah bahwa pernikahan merupakan ibadah penting. Nanti saat menikah, bercinta dengan suami adalah ibadah. Punya anak maka pahala semakin berlipat karena surga ada di telapak kaki ibu.

Benarkah dalam Islam pernikahan adalah sesuatu yang wajib? Dikutip dari muslim.or.id, tiga mazhab utama berusaha menjawab permasalahan ini. Madzhab Zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An Nur: 32).

Ayat di atas terdapat kalimat perintah وَأَنْكِحُوا (dan nikahkanlah..) dan itu menunjukkan hukum wajib. Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Sementara Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah sebagaimana makan dan minum.

Pendapat madzhab Maliki, Hanafi, dan Hambali menyatakan bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib. Mereka berdalil atas beberapa hal di antaranya kalau menikah itu wajib maka tentu terdapat riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang, sedangkan di antara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah SAW hingga zaman kita sekarang ini, ada yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak tercatat satu pun pengingkaran beliau terhadap hal ini.

Sementara itu dalam Islam dalil menutut ilmu sebagai sebuah kewajiban banyak ditemui.  Imam Syafi’i pernah memiliki petuah bahwa ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Beliau lalu melanjutkan bahwa alangkah bodoh kita bila mendapatkan kijang, namun kita tidak mengikatnya sehingga lepas di tengah-tengah buruan manusia. Ayat Al Quran pun punya banyak yang mengarahan umatnya mau menuntut ilmu. Di antaranya berikut ini, seperti yang dikutip dari asmaul-husna.com.

1

2

3

Hadits pun banyak memberikan referensi tentang kewajiban menuntut ilmu. HR Turmudzi mengungkapkan keinginan kebahagiaan dunia akhirat harus wajib dengan ilmu.

4

5

Jadi kalau disimpulkan, bila benar-benar berpatokan pada ajaran Islam, meme yang mengutamakan menikah daripada menuntut ilmu sungguhlah menyesatkan. Umat Islam juga harus mengubah pandangan bahwa tanpa menikah maka hidup tidak akan lengkap dan ibadah tidak akan sempurna. Sesungguhnya menuntut ilmu justru jelas-jelas hukumnya adalah wajib. Lantas mengapa konsep menikah sebagai ibadah lebih populer dibandingkan menuntut ilmu? Menurut pendapat penulis, ini karena masyarakat lebih terbuai dengan fantasi menikah menemukan pasangan untuk seumur hidup. Kemudian ditambah anggapan bahwa bercinta dalam pernikahan akan memperoleh pahala sehingga menikah dianggap sebagai cara ibadah yang jauh lebih mudah dan nikmat dibandingkan menuntut ilmu.

About the author

Trinzi Mulamawitri

Trinzi Mulamawitri mulai memiliki ‘panggilan’ terhadap feminisme saat menjadi pemimpin redaksi kaWanku di tahun 2010. Bagi perempuan jebolan fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, remaja putri adalah aset paling berharga buat sebuah bangsa sehingga harus dibangkitkan kesadarannya mengenai feminisme. Me-rebranding kaWanku menjadi cewekbanget.id di tahun 2017 untuk semakin gencar menelurkan bibit-bibit feminis muda. Kini memutuskan menjadi tenaga lepas di bidang penulisan, humas, content marketing dan relawan dalam hal pemberdayaan perempuan. Trinzi merupakan peserta Kursus Perempuan Tingkat II dan III pada 2017. Trinzi bisa diikuti di Instagramnya:
http://instagram.com/trinzi

6 Comments

Click here to post a comment

  • betul, aku setuju. tapi perlu dijelaskan ilmu itu contohnya seperti apa. apa harus dengan bukti ijazah atau belajar dari pengalaman hidup? universitas kehidupan? karena ilmu luas, memang sih era sekarang yang namanya ilmu profesional harus dibuktikan dengan surat/sertifikat/ijazah atau bukti apapun yg valid. banyak juga orang yg berhasil belajar dari universitas kehidupan.

  • Saya kurang setuju atas judul yang dipakai dan hubungannya dengan meme ketiga. Setahu saya inti pembicaraan adalah “menikah atau S2 yang lebih utama bagi wanita”. Lantas mengapa meme ketiga jadi contoh, dengan dalih umur 17 tahun menikah muda?
    Seorang sarjana S1 rata-rata akan lulus di usia 22 tahun. Apalagi fenomena rata-rata usia menikah juga meningkat tidak hanya secara global, tetapi juga di Indonesia (saya lupa sumbernya). Jadi, meme ketiga sama sekali tidak relevan.
    Isu yang ingin diangkat dari artikel ini tidak jelas: mau mengangkat soal ilmu VS menikah secara umum atau ilmu VS pernikahan dini (di bawah umur)? Tentu dua hal itu sangat berbeda. Saya pribadi berharap poin kedua yang lebih ditekankan, karena ada dampak sosial yang diangkat. Untuk itu, diharapkan penulis bisa konsisten dengan isu yang dikemukakan dan pembahasannya, sehingga tidak akan bercabang kemana-mana.

  • Mungkin alasan kenapa banyak meme mempromosikan nikah karena melihat remaja / orang dewasa zaman sekarang yang lebih memilih untuk pacaran sedangkan tuntutan utama di instansi kan utk mencari ilmu.

    Saya mendengar bahwa “tidak akan masuk suatu ilmu jika di bumbui dg perilaku yg tidak baik,” maka wajar aja sih kalau ada yg nyaranin nikah (sambil kuliah).

    Ya daripada menuntut ilmu dan dibarengi dg proses yg kurang baik?

  • Waduh, yang bikin meme minta ditaboki. Mungkin mereka iri karena tidak mampu meraih pencapain yg sedemikian rupa. apalagi yang mencapai adalah seorang wanita, yaa wanita yg dalam catatan sejarah berabad-abad lamanya hanya sebagai “teman belakang” bagi lelaki yg sebagai pemimpin, tidak mau diungguli oleh wanita. sehingga timbul anggapan bahwa wanita berpendidikan tinggi sebagai sebuah ancaman kalau2 mereka akan memberontak sistem yg sudah ada.

  • Menurut saya, karna menuntut ilmu adalah kewajiban dan menikah adalah ibadah, lebih² utk yg sudah “tidak tahan” dan utk mendekati zina, mk saya ambil jln tengah atau moderat. Menikah, tanpa harus menunggu S2. Trus, ilmu kn bsa ttp dicari sama², bukn berarti kalau nikah harus brhenti nuntut ilmu kan?. Dan lagi, nuntut ilmu sprti apa yg wajib itu? Ini juga mesti dikaji.