Nila Dini Opini

Mengapa Perempuan Harus Menulis?

Kelas menulis sebagaimana perempuan menulis muncul dari keresahan bahwa banyak buku-buku ataupun tulisan-tulisan yang menceritakan sejarah peradaban manusia, namun masih menisbikan peran perempuan. Kalaupun ada narasi tentang peran perempuan, hanya sebatas tempelan semata. Sekalipun yang menuliskan narasi adalah perempuan, belum tentu gaya dan bahasa yang digunakan bercitarasa perempuan. Lalu bagaimana menulis sebagaimana perempuan menulis?

Narasumber sesi pertama kelas menulis ini adalah Ruth Indiah Rahayu yang kami sapa Mbak Yuyut. Dia adalah seorang peneliti INKRISPENA dan penulis aktif di IndoPROGRESS. Mbak Yuyut memaparkan tentang mengapa penting menulis sebagaimana perempuan menulis, apa saja masalahnya sehingga narasi tentang peran-peran perempuan tidak pernah muncul kepermukaan, hingga akibatnya jika narasi-narasi tentang perempuan tidak muncul. Ia juga memaparkan tentang metodologi penulisan dan penelitian terkait perempuan.

Menurutnya kebanyakan perempuan dilatih hanya untuk berani berbicara dan tidak dilatih menulis. Sehingga, produksi pengetahuan perempuan meluap begitu saja. Padahal, perempuan memiliki banyak sekali endapan-endapan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, sebagai contoh sebuah buku berjudul “Dari Kamp Ke Kamp” karya Mia Bustami. Buku tersebut menceritakan kisah perempuan hari demi hari pada saat dipenjara dan harus berpindah dari kamp satu ke kamp lainnya. Penulis menceritakan secara detail apa saja yang terjadi dan dia lalui di penjara. Dia juga ingat bagaimana ketika perempuan mengalami menstruasi dan harus bergantian menggunakan duk (kain sumpalan sebagai pembalut) dengan napi perempuan lainnya. Dia juga ingat bagaimana perangai ketua sipir penjara perempuan yang dia gambarkan kejam, bengis dan bertubuh gendut. Waktu perempuan bersifat subjektif, artinya waktu itu memiliki siklus. Berbeda dengan waktu sejarah yang bersifat objektif atau linier dan waktu laki-laki yang bersifat abstrak. Perempuan dapat mengingat suatu kejadian hingga hal yang paling mendetail dengan menggunakan seluruh panca inderanya. Dia bisa mengingat bagaimana suatu kejadian bermula dari penanda bau, rasa dan warna air yang berubah, suara burung yang tidak lagi terdengar hingga udara yang tidak biasa.

Saat ini, peran perempuan baik dalam bidang politik, ekonomi, sejarah hingga filsafat masih dihilangkan. Tidak hanya berhenti pada bidang-bidang itu peran perempuan juga dihilangkan pada ranah metodologis penelitian misalnya; perempuan tidak dilibatkan menjadi narasumber, literatur, jurnalistik, visula dan sinema. Semua hal ini bermula dari praanggapan yang beredar luas sejak dahulu kala yang terus berkembang menjadi kepercayaan contohnya praanggapan bahwa perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki, nalar perempuan separuh dari nalar laki-laki, perempuan adalah sesuatu “yang lain”, hingga perempuan adalah misteri.

Oleh sebab itu, memperbanyak pengetahuan perempuan yang beredar sangat penting. Bagaiamana caranya? Pertama, membongkar perspektif tulisan tentang perempuan. Misalnya pada tulisan jurnalistik ada kasus pernikahan anak lantaran hukum adat sukunya. Seturut hukum UUD 45, anak tersebut tidak melanggar batas minimum usia pernikahan perempuan dan laki-laki, namun keduanya memang masih dalam status pelajar SMA. Dengan adanya ketentuan UU peendidikan tidak memperbolehkan peserta didik menikah. Ini jelas dua peraturan yang saling bertentangan. Para jurnalis hendaknya menyelidiki dan mengangkat masalah peraturan yang bertentangan ini, bukan malah fokus pada sebab mengapa kedua muda-mudi itu menikah.

Kedua, saatnya perempuan membiasakan menulis. Apa yang ditulis? Semua hal yang terjadi sehari-hari. Bagaimana proses reproduksi sosial dialami sehari-hari baik secara individu, keluarga, komunitas, maupun negara. Terakhir adalah menulis dengan menggunakan metode. Hal itu bisa dimulai dengan membaca ulang teks-teks yang menghilangkan peran-peran perempuan, kemudian mengajukan teks revisinya. Menulis biografi, otobiograhfi, populer maupun karya ilmiah. Tentunya semua tulisan berkisah tentang pengetahuan perempuan.

Dalam kalimat penutupnya, Mbak Yuyut menekankan bahwa inti dari menulis sebagaimana perempuan menulis adalah mengangkat isi dan rasa berbahasa perempuan. Tidak lupa pula dia merekomendasikan beberapa referensi bacaan untuk memancing cita rasa berbahasa perempuan. Referensi tersebut diantaranya; Dari Kamp Ke Kamp karya Mia Bustami, Back Door Java karya Jan Newberry, Taruna Samoa karya Margaret Mead, Her Wits About Her, dan Vita Brevis karya Jostein Gaarder.

About the author

Nila Dini

Nila Dini, lahir pada 26 Juni 1988 di Bogor. Saat ini ia bergiat di Sajogyo Institute (SAINS). Ketertarikannya di dunia pendidikan membawanya bergabung menjadi salah satu mentor bagi empat pelajar perempuan penerima Program Beasiswa Studi Agraria dan Pemberdayaan Perempuan (SAPP) Sajogyo Institute. Ia juga di daulat menjadi ketua tim kelompok belajar Agraria dan Perempuan Sajogyo Institute. Dari situlah ia mulai belajar-menggeluti dunia tulis-menulis.

Add Comment

Click here to post a comment