Gloria Fransisca Opini

Minerva Mirabal: Sosok Dibalik Pekan Anti Kekerasan terhadap Perempuan

minerva

Saat ini kita sedang memasuki Pekan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kampanye Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dimulai pada 25 November sampai 10 Desember, selama 16 hari.

Nah, tahukah kamu latar belakang dari kampanye ini?

Las Mariposas – The Butterflies

Las Mariposas adalah julukan bagi Patria Marcedez Mirabal, Minerva Mirabal, dan Maria Teresa Mirabal. Mereka adalah kakak-adik perempuan dari Republik Dominikan. Mereka dikenal sebagai pejuang Hak Asasi Manusia. Mereka mengkritisi kediktatoran represif dari Jenderal Rafael Trujilo. Ketiganya adalah dara-dara dari sekolah khusus perempuan di Dominika yaitu Immaculada Concepcion.

Bayangkan saja, sebagai golongan terpelajar, Patria, Minerva, dan Maria telah membaca puisi Pablo Neruda. Mereka juga bisa mengapresiasi lukisan Pablo Picasso dengan baik.

Minerva adalah perempuan pertama di Dominika, yang berhasil lulus masuk Fakultas Hukum Universitas Santo Domingo. Salah satu fakultas ternama di Dominika. Adik-adiknya, semuanya menikmati bangku pendidikan modern. Tak mengherankan jika yang paling menonjol dari ketiga perempuan itu adalah Minerva Mirabal. Dia menjadi pemantik pemberontakan terhadap Rafael Trujilo.

Semua berawal dari kepekaan Minerva pada nasib teman-temannya yang kehilangan keluarga akibat rezim kekejaman Trujilo. Maklum, jenderal ini berani membunuh siapa pun yang menentang sikap politiknya. Semasa kuliah, Minerva bergabung dalam gerakan bawah tanah. Dia juga membaca bermacam literatur kiri. Secara diam-diam dia berani memutar siaran radio Kuba, mendengarkan pidato-pidato Fidel Castro. Ya, pemimpin Kuba yang menjadi idolanya. Minerva lantas mengajak saudara-saudaranya juga untuk turun mengorganisir basis perlawanan di kampus-kampus, di perkebunan. Las Mariposas, si kupu-kupu, adalah nama sandi mereka. Mungkin sudah menjadi takdir, Minerva dikarunia nama yang adalah nama dewi perang dalam mitologi Yunani, Dewi Minerva. Tak mengherankan Minerva tumbuh menjadi sosok yang pemberontak dan penuh keberanian berperang.

Kebencian Minerva pada Rafael Trujilo meningkat setelah upaya Trujilo yang menggoda dia dan saudara-saudara pada sebuah pesta. Dara-dara cantik ini menolak, Trujilo diktator hidung belang ini pun tak tinggal diam. Pertempuran antara Mirabal bersaudara dan Trujilo pun semakin keras. Rafael Trujilo bahkan beberapa kali memenjarakan orangtua Mirabal dan Minerva atas tuduhan yang tak jelas. Padahal, maksudnya adalah untuk mematikan semangat Minerva. Minerva yang cerdas ini juga dicekal saat menjalankan studi hukum untuk menjadi pengacara. Paper ujian yang berjudul “Prinsip Berlaku Surutnya Hukum-hukum dan Jurisprudensi Republik Dominika” tak diloloskan atas perintah Trujilo. Namun, motto Mirabal bersaudara, “kita boleh tunduk, tetapi tak boleh takluk” selalu berkobar.

Kisah Cinta Minerva

Saat menjalani studi di kampus dia berjumpa dengan Manuel Aurelio Tavarez Justo alias Manolo. Pria ini adalah anggota bawah tanah Partai Sosialis Populer yang turut menentang Trujilo. Kesamaan visi diantara keduanya menjadi alasan cinta bertumbuh dengan sederhana. Minerva akhirnya menikah dengan Manulo dan dikaruniai dua orang anak.

Mirabal bersaudara lalu berkeluarga dan masing-masing menikah dengan pria yang juga menentang rezim Trujilo. Namun risikonya, keluarga besar mereka akhirnya diburu rezim untuk dibunuh.

Pada 25 November 1960, Minerva, Patria, dan Maria baru saja pulang dari penjara Salcedo, Dominika mengunjungi suami-suami mereka. Dalam perjalanan di sebuah teluk, pasukan Rafael Trujilo telah mengintai kupu-kupu ini. Pasukan itu menghadang jeep yang ditumpangi oleh Minerva bersaudara. Mereka lantas digiring ke sebuah perkebunan tebu. Selanjutnya, dapat dibayangkan, ketiga perempuan ini dianiaya hingga tewas. Jasad Minerva bersaudara yang berlumur darah dimasukkan kembali ke dalam jeep. Selanjutnya, jeep itu juga didorong masuk ke jurang.

Mirabal bersaudara, perjuangan kupu-kupu kebanggaan Dominika, sebuah negara kepulauan di gugusan laut Karibia ini menjadi kenangan. Hingga akhirnya, 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari itu sebagai Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Atas kejadian itu Trujilo mendapat kecaman dari dunia internasional dan diminta turun dari jabatannya.

Mirabal bersaudara menjadi simbol perjuangan kaum feminis paling populer di negeri-negeri Amerika Latin. Sebuah pernyataan yang pernah diucapkan Minerva semasa hidup:

“Merupakan sebuah sumber kebahagiaan yang amat sangat untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan bagi negeri kita yang menderita oleh begitu banyak luka, begitu sedihnya jika kita hanya tinggal dan diam mengingkari ini semua, bukan?”

“Mungkin yang begitu dekat dan harus kami hadapi adalah kematian, tetapi hal itu tidak membuat kami takut, kami harus melanjutkan perjuangan untuk sesuatu yang baru saja dimulai.”

Ketiga kupu-kupu cantik terbalut iman Katolik kian gigih memberontak karena sebagai perempuan, mereka pun memiliki mimpi terhadap masyarakat yang adil dan beradab. Masyarakat yang menjunjung tinggi kebebasan dan demokrasi tak hanya bagi keluarga mereka tetapi rakyat Dominika secara keseluruhan.

Kisah Minerva bersaudara membuat saya yakin, sepanjang zaman, perempuan tidak pernah tercabut dari perjuangan politik. Bisa jadi, perempuanlah yang diam-diam berada pada garis depan pertempuran politik. Mereka juga yang menjadi korban politik dan kediktatoran.

Perempuan tidak hidup hanya pada sekat-sekat ruang privat. Mereka ikut dalam pertempuran kemanusiaan. Jangan lupakan, perempuan!

Akhir kata, selamat merayakan 10 Hari Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.

Viva Las Mariposas! Viva Las Mariposas!

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment