Gloria Fransisca Opini

Perempuan dan Keberpihakan Ekonomi

PSK 1

Salah satu momen tak terlupakan saat penyelenggaraan Kursus Perempuangan Angkatan I adalah materi tentang Perjuangan Perempuan Melawan Dominasi. Pengampu materi tersebut adalah Ruth Indiah Rahayu. Salah satu pembahasan yang menarik adalah tentang kemunculan revolusi industri pada abad ke 19 dimana perempuan terkena imbas dari ketidakadilan penguasaan modal.

Masa ini merupakan titik tolak terciptanya kerja ganda perempuan sebagai buruh sekaligus istri dan ibu rumah tangga. Kondisi ini bergerak menuju pembentukan kaum urban. Alasannya, pertumbuhan kota sukses melahirkan industri lain, misalnya industri pelacuran, dimana perempuan menjadi tenaga kerja upahan sebagai pekerja seks.

Kondisi ini terjadi akibat upah sebagai buruh pabrik tidak memadai untuk hidup di kota, maka mereka yang cantik bekerja sebagai pelacur guna mencari tambahan nafkah. Narasi yang diangkat oleh Ruth tiba-tiba sukses membawa saya pada momen 2015, dimana pada sebuah kegiatan, saya melakukan observasi terhadap pekerja seks komersial (PSK).

*

Saya tidak bisa melupakan bagaimana perempuan berdempul di bawah lampu kota menjawab pertanyaan saya dan Adi, salah seorang kawan satu tim di Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak). Tanpa basa-basi kami berbincang tentang pekerjaan yang dilakukannya setiap malam. Hanya berbalut pakaian serba minim warna hitam dengan rambut cat pirang dan lipstik kental merah darah itu yakni uang yang diperolehnya dari pekerja sebagai ‘pekerja malam’ di klub malam tak hanya sebanding bahwa lebih dari yang di ekspektasikan.

 

Jakarta, 26 November 2014

Saya teringat salah seorang teman saya pernah menyatakan arena lokalisasi di sekitar Blok M, Jakarta Selatan, bisa ditemukan tepatnya di Blok M Square.

Sejujurnya saya sangat akrab dengan Blok M mengingat ketika SMA, saya selalu pulang pergi dari terminal ini. Siapa sangka, ternyata arena lokalisasi yang dimaksudkan teman saya adalah kawasan Jepang, yang mana saya pun pernah meliput Festival Ennichisai di Blok M pada 2011 silam. Ennichisai adalah sebuah festival kebudayaan Jepang. Perjalanan obsrvasi ini tenyata akan membawa saya menemukan wajah lain Blok M yang banyak menyentuh dimensi masa remaja saya dulu.

Bersama kawan saya, Adi, kami mulai berkeliling Blok M sekitar pukul 20.00 WIB. Untung saja, kawasan itu terbuka untuk umum sebagai tempat hiburan malam yang terdiri dari tempat karaoke, bar, hotel, dan rumah makan Jepang. Hilir-mudik orang Jepang begitu ramai, hingga saya dan Adi memutuskan bertanya pada salah seorang tukang rokok yang berjaga di depan karaoke.

“Mas, ini semua tamunya orang Jepang ya?”

“Iya Mbak. Disini orang Jepang semua. Kalau di Blok M yang di depan itu, untuk orang bule,” kata seorang lelaki yang kita sebut saja dia Mas Bejo.

Mas Bejo menceritakan bahwa rata-rata karaoke disini sampai jam 1 malam. Bisanya, setelah lewat dari jam 1 pagi semua sudah bubar. Alhasil, saya dan Adi memutuskan apapun yang terjadi, malam ini kami harus berhasil berdialog dengan salah seorang pekerja seks komersial malam itu.

Saya dan Adi mencoba membunuh waktu dengan makan sate. Kebetulan, si pedagang sate juga membeberkan disini memang arena “lokalisasi’ tetapi rata-rata untuk para warga asing khususnya Jepang. Dia memberitahu bahwa kami hanya bisa mengobrol dengan para pekerja setelah jam 1 malam.

Saya dan Adi pun dengan sabar menunggu. Satu jam sebelum jam 1, area parkir Blok M juga sudah mulai diramaikan dengan angkot-angkot. Sepertinya angkot-angkot pesanan seperti angkot borongan untuk menjemput rombongan.

Benar saja, tepat jam 1 berbondong-bondong para perempuan keluar dari ruang kerjanya masing-masing. Saya dan Adi mencoba mendekati tiga orang perempuan yang baru keluar. Sayang, melihat gerak-gerik kami, mereka malah menghindar. Pantang menyerah, saya dan Adi mencoba kembali ke tempat tukang sate yang mulai diramaikan dengan para perempuan. Dengan bantuan si tukang sate, kami pun berhasil ngobrol dengan salah seorang perempuan.

Agis, ya, panggil saja dia Mbak Agis. Dia salah salah seorang pekerja pada tempat karaoke. Sebut saja nama tempat karaoke itu Maimu. Demi mencairkan suasana, saya dan Adi mengaku kepada Agis bahwa kami pun tengah menunggu salah seorang teman yang bekerja pada salah satu tempat karaoke di Blok M.

Sambil makan sate, kami bertiga larut dalam obrolan. Dia pun mengutarakan hal senada dengan si tukang sate, bahwa kawasan Blok M ini telah didedikasikan untuk orang-orang Jepang. Bahkan, ada pula bar bernama ‘Jawa-Jawa’ yang hanya menerima tamu orang Jepang. Agis pun mengajak Adi untuk datang esok hari karena ada penampilan yang diminati banyak orang yakni sexy dancer.

Perempuan berkulit kuning langsat itu tinggal di Depok bersama ibunya. Ketika saya menanyakan lebih detail soal keluarga, Agis nampak risih hingga raut wajahnya berubah cangguh dan sedih. Ada perasaan bersalahan sekaligus penasaran memenuhi batin saya.

Sebelum bekerja di Maimu, Agis memang telah bekerja di tempat karaoke lain. Namun karena tempat karaoke itu pindah lokasi, dia pun memutuskan pindah bekerja ke Maimu. Setiap malam seusai bekerja, Agis pulang bersama temannya ke Depok dengan motor, sementara banyak teman-temannya yang lain naik angkot.

Saya pun bertanya kepada Agis, mengapa teman-temannya naik angkot-angkot tersebut. Ternyata teman-temannya tinggal atau ngekos di berbagai tempat, ada yang di Kebayoran, ada yang Radio Dalam. Setiap berangkat kerja, angkot-angkot ini akan mengantarkan para perempuan ke Blok M. Hal tersebut juga dilakukan usai pulang kerja, angkot-angkot ini akan menjemput mereka pulang menuju rumah masing-masing. Tak heran jika semakin malam, mobil mewah milik para tamu tersingkir dengan keberadaan angkot-angkot carteran. Angkot-angkot tersebut memang sudah disediakan oleh pemilik bar atau karaoke untuk menjemput pekerja-pekerjanya.

Selain angkot, Agis membeberkan beberapa pekerja juga tidak tinggal di rumah kos pribadi. Sebagian tinggal dalam satu rumah yang sudah disediakan pula oleh si pemilik bar. Lokasinya satu arah dengan trayek angkot, ada yang di Radio Dalam, di Kebayoran, dan bilangan Jakarta Selatan lain. Dengan demikian, angkot dan rumah untuk pekerja adalah satu paket jaminan fasilitas bagi pekerja. Padahal, saya malah berpikir ini sebagai bentuk pembatasan akses terhadap si pekerja. Oleh sebab semua pelaksanaan pekerjaan telah diatur dengan sangat rapi dan teorganisir.

Batin saya menyiratkan sebuah kesimpulan yang mungkin terlalu dini dan sangat judgemental. Saya melihat adanya relasi kekuasaan, dimana yang berkuasa adalah bos pemilik bar. Si Bos juga lantas bisa menyediakan semua kebutuhan pekerja, asalkan bekerja mau melayani tamu-tamunya. Uniknya ketika ditanya soal pekerjaan itu, Agis merasa pekerjaan ini sebanding dengan yang mereka lakukan.

“Lebih dari cukup, lebih worth it. Kerja Cuma 4-5 jam saja tetapi hasilnya besar banget,” ujarnya sambil ketawa-ketawa cekikikan. Saya dan Adi akhirnya menilai kondisi yang dia alami setiap hari sudah menjadi sebuah hal yang lumrah.

Upaya pemenuhan kebutuhan untuk sekadar makan dan minum membuat mereka memilih melakukan pekerjaan ini. Disinilah judgement moral nampak tak relevan ketika dihadapkan pada benturan tentang ketidaksejahteraan manusia.

Benak saya mulai menyemburkan banyak gugatan-gugatan. Pertama, selain pemilik modal, mucikari utama adalah negara. Menurut saya, negara tidak memberdayakan komponen perempuan dengan baik. Sistem telah membiarkan perempuan dijajah dalam segala aspek, termasuk aspek ketertubuhannya.

Ini adalah catatan pertama saya yang juga pertama kalinya berinteraksi sangat dekat dengan seorang PSK. Sosok yang mungkin menyandang label buruk di tengah masyarakat kita. Saya merasa masih ada banyak catatan lain yang harus dikeluarkan untuk mengupas gugatan saya tentang relasi perempuan dan keberpihakkan ekonomi, karena ini relasi soal kekuasaan bukan soal moralitas semata.

About the author

Gloria Fransisca

Angkatan 5 Agenda 18. Lulus dari Universitas Multimedia Nusantara sebagai seorang jurnalis. Kini bekerja pada salah satu harian ekonomi, namun selalu tertarik pada isu-isu politik.

Perempuan ini menyukai tulisan-tulisan karya Pramoedya Ananta Toer, Anthony De Mello SJ, dan Leo Tolstoy.

Add Comment

Click here to post a comment