Nurhasanah Opini

Perempuan diantara Komoditas dan Komodifikasi

Kursus perempuan, sebuah proses mendalami problem perempuan. Kursus ini mempertemukan saya dengan materi komoditas dan komodifikasi. Apa itu? Kita memang perlu mengenal terlebih dahulu makna dari komoditas yang secara harfiah diartikan sebagai suatu barang atau jasa yang bernilai ekonomis menurut pasar. Sementara komodifikasi merupakan penyatuan antara dua kata yang berasal dari komoditi dan modifikasi, artinya perubahan fungsi atau bentuk dari suatu barang atau jasa, dari yang bernilai non-ekonomis menjadi sesuatu yang bernilai fantastis.

Dalam teori Marxisme, komodifikasi adalah pertukaran atas sesuatu yang sebelumnya tak bernilai perdagangan menjadi bernilai pertukaran komersil. Dapat dikatakan jika segala sesuatu memiliki nilai ekonomis berarti dapat dikategorikan sebagai klasifikasi dari proses komodifikasi.

Contohnya: baru- baru ini ada tempat wisata yang terbilang masih sangat baru sebelum akhirnya viral di media sosial, mulai dari instagram, blog warga, facebook, travel blog, dan lain sebagainya. Tempat wisata ini disebut Telaga Cisoka, letaknya di kawasan Tangerang. Dulunya, telaga Cisoka merupakan tempat galian pasir selama bertahun-tahun, lantas beberapa tahun belakangan tempat tersebut dibiarkan oleh penambang karena tidak dapat menghasilkan pasir lagi. Sehingga bekas galian pasir lama-kelamaan menampung air hujan yang akhirnya berubah wujud menjadi seperti sebuah telaga yang berwarna hijau dan biru.

Setelah berbagai macam foto Telaga Cisoka terpampang dengan menawan di media sosial dan menjadi populer, dengan inisistif warga setempat, mereka membuat karcis masuk meskipun masih ala kadarnya, menyiapkan lahan parkir serta menjaga keamanannya, memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh para pengunjung.

Ada beberapa hal yang menjadi syarat komodifikasi, yaitu; adanya penciptaan kriteria yang berhubungan dengan teknologi infrastruktur, pengadaan fasilitas yang memadai, dan kategorisasi baik fisik maupun non-fisik bilamana berhubungan dengan manusia.

Kiranya tiga hal tersebut menjadi komposisi untuk memulai proses komodifikasi agar tercapai sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Selain komodifikasi tadi, masih ada hal lain yang dapat melengkapi dan menyempurnakannya, yakni fetishisme yang berarti proses pemujaan atas suatu produk baik barang ataupun jasa yang diciptakan agar bernilai komoditas tinggi.

Sebutlah misalnya saat musim batu cincin yang secara khusus menyihir kaum lelaki. Batu-batu tersebut memiliki tempat special di hati dan saku para pemujanya. Mulai dari yang berharga murah sampai yang seharga mobil atau rumah mewah. Kondisi masyarakat Indonesia memang masih lekat dengan hal-hal yang berbau fanatisme, termasuk penyembahan terhadap benda mati.

Namun, sekarang ini eksistensi batu-batu mahal itu hanya lebih mirip benda purbakala, mengalami degradasi bahkan hampir hilang pamor dan nilainya. Tidak seperti nilai emas yang mampu menjadi primadona sepanjang masa. Komodifikasi juga memiliki peran penting dalam upaya menciptakan sesuatu yang bernilai, bukan berarti komodifikasi selalu bernilai materialistis. Sebaliknya, sebagian pelaku usaha menjadikan komodifikasi amemberikan harapan agar sesuatu yang sedang dalam tahap proses komodifikasi menjadi lebih bermanfaat dan digunakan banyak orang. Setiap orang memiliki hasrat dan tujuan yang berbeda tergantung dari mana sudut pandang itu dilihat.

Nah, mengapa komodifikasi? – menurut Marx dan George Lucas, komodifikasi merupakan metode yang khas dalam sebuah perdagangan yang berada dibawah sistem kapitalisme yang bertujuan untuk mentransformasi sesuatu untuk menghasilkan nilai lebih atau profit yang sebesar-besarnya. Pada intinya, segala sesuatu yang bisa memberikan nilai jual lebih dapat dikategorisasikan menjadi komodifikasi.

Lalu bagaimana relasi perempuan dengan komodifikasi? Banyak sisi yang dapat kita amati tentang perempuan dan isu-isu yang terkait, dan komodifikasi adalah salah satu aspek yang terdekat. Andai kita lebih memperhatikan tentang sosok seorang perempuan yang disandarkan sifat-sifat lahiriah luar biasa; dari cantik, indah, lembut, gemulai, sedap dipandang, lekuk tubuh, dan lain sebagainya.

Baik disadari atau tidak, kaum perempuan menjadi sasaran empuk bagi proses komodifikasi. Kita dapat menyebut bahwa kaum perempuan dianggap sebagai barang atau sesuatu yang dapat menghasilkan nilai jual tinggi setelah melalui komodifikasi. Jika saya perhatikan, hal ini tidak hanya berlaku pada dunia materialistis, namun sudah merembet pada dunia yang bernilai syariah.

Perhatikan saja syarat-syarat untuk menjadi Putri Muslimah, sebuah ajang pencarian bakat melalui keahlian dalam berbagai macam bidang dan kecerdasan. Namun diantara syarat-syarat tersebut tinggi dan berat badan juga ditentukan, rupa wajah, bentuk gigi dan senyuman juga menjadi penilaian. Bukankah ini termasuk sebagai bentuk pelanggaran HAM? Bagaimana dengan para perempuan muda yang hanya memiliki bakat namun tidak memenuhi kriteria sudah ditetapkan panitia dan juri? Bagi saya pribadi sebagai muslimah, ajang tersebut tidak ada bedanya dengan ajang puteri-puterian yang lain atau ratu sejagat sekalipun. Saya tidak temukan wujud keadilan didalamnya.

Bukan berangkat dari kesadaran yang paling dalam dan dasar, para perempuan muda akhirnya terlena dan cukup nyaman untuk mengikuti “permainan” yang sudah diatur sedemikian rapi dan elegan. Meskipun kaum mudi tersebut dikategorisasikan sebagai orang yang cakap dan pandai, namun sebenarnya mereka pun tertipu dengan keadaan dan tawaran menggiurkan yang menjanjikan kepopuleran.

Masalah terletak pada egosentrisme yang berkembang dalam perempuan. Kaum hawa ini memiliki standar atau angan-angan yang membumbung tinggi tentang kesempurnaan dan membuatnya sulit untuk berpijak sadar pada realita. Deskripsi  tentang jati diri manusia belum sepenuhnya dapat dipahami oleh perempuan-perempuan Indonesia. Menurut pandangan sayang, beberapa perempuan masih belum bisa membedakan hal-hal yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai objek eksploitasi. Dalam pandangan mereka, kesenangan untuk menjadi populer adalah segalanya, sementara untuk berkutat dalam bidang yang lebih ilmiah adalah hal yang membosankan, seakan hidup terasa hampa.

Pastilah pemilik modal sangat mengetahui apa saja yang laku di pasaran dengan membidik para perempuan muda dari barat hingga timur Indonesia, dan menyertakan embel-embel syariah, atau muslimah idaman. Menurut hemat saya, mengapa kita selalu berpikir untuk menyalin apa yang sudah dibuat orang lain, sedangkan kita masih dapat melakukan hal yang lebih bernilai? Tentunya dengan cara yang berbeda, misalnya dengan kompetisi yang melibatkan aspek intelektualitas dan bakat serta diukur dengan nilai-nilai akademis.

Ketika sebuah aktivitas disulap menjadi konsumsi industri media, atau industri kreatif hal itu tidak menjamin adanya kekayaan nilai spiritual dan agamis. Sebaliknya, aktivitas tersebut tak lagi berada pada tataran “fastabiqul khayrat” atau berlomba-lomba dalam kebaikan, tetapi berlomba-lomba dalam menciptakan pasar. Saat inilah momen lahirnya kesan pragmatis, “ini dia yang lebih islami”.

Dalam sistem kapitalisme, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Gerakkan sedikit saja potensi kreatifitas yang Tuhan berikan kepada kita, niscaya akan ada jalan untuk kita terlepas dari pembodohan masal yang dilakukan oleh para kapitalis. Untuk para perempuan diluar sana, ciptakan sendiri impian dan cita-citamu dengan cara yang lebih memuliakanmu sebagai manusia, bukan sebagai budaknya manusia.

About the author

Nurhasanah

Nurhasanah, alias Una peserta Kursus Perempuan Tingkat Menengah tahun 2017. Dia adalah alumnus S1 jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Institut Studi Islam Darussalam Gontor. Una melanjutkan studi S2 di Universitas Paramadina. Dia pernah terlibat dalam Festival Orang Muda Tempo Institute tahun 2016, dan sekarang bekerja sebagai staf peneliti di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra.

Add Comment

Click here to post a comment