Opini Trinzi Mulamawitri

Saatnya Perempuan Tampil Memimpin Membela Bumi

Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air

Kita tentunya tahu bahwa Indonesia sesungguhnya negara yang kaya. Akan tetapi kekayaan tersebut perlahan-lahan mulai terkikis dengan adanya kerusakan lingkungan di berbagai daerah. Semakin lebih menyedihkan lagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan Sajogyo Institute, selaku Pusat Studi dan Dokumentasi Agraria, Kemiskinan, dan Pedesaan di Indonesia, dalam situasi krisis lingkungan, perempuan menjadi pihak yang tenggelam.

“Di desa kami, Liang Buaya (Kalimantan Timur-red), dahulu di sungai kami ada ratusan ikan pesut, sekarang ini jumlahnya sangat sangat jauh berkurang. Dan para bapak, nelayan harus sangat jauh mencari ikan tangkapan, karena adanya kebun sawit yang dibuka di daerah kami,” ujar seorang ibu berjilbab cokelat di atas panggung.

65

Kalimat ini disambut oleh rekannya di panggung yang mengenakan baju tab’a, “Kami dari Kalimantan Utara pun tidak masuk ke hutan lagi untuk mencari obat-obatan herbal tradisional karena hutan sudah dikuasai perusahaan.” Curahan hati mereka merupakan bagian dari presentasi potret perempuan di Kalimantan yang ditampilkan dalam Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air yang dilaksanakan di pesantren Ath Thariq, Garut, tanggal 14-16 Juli 2017.

Jambore ini merupakan puncak dari proses dua tahun untuk mendorong tampilnya perempuan dalam kancah perjuangan agraria.  Di tahun 2016, Sajogyo Institute bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Samdhana Institute memberikan beasiswa program studi agraria dan pemberdayaan perempuan kepada 13 fasilitator perempuan untuk belajar di 13 desa di 10 provinsi. Di kampung masing-masing mereka tinggal bersama para induk semang untuk membangun peran sosial dan mendorong proses belajar perempuan di kampung

Dalam acara Jambore inilah para fasilitator dan perempuan dari 13 kampung bertemu untuk bertukar pikiran dan saling menguatkan.

3

Mengapa penting perempuan bersuara di kancah reformasi agraria? Saat ini banyak problem perempuan yang selama ini masih terkubur dan luput diangkat ke permukaan. Menurut Razafi (2009) dengan mengangkat permasalahan agraria dari wacana gender kita bisa membongkar ajaran lama dalam memandang konteks rumah tangga petani dan hubungannya dengan struktur ekonomi dan politik. Hal ini membuat kita bisa memperdalam analisis pasar rural dan konstruksi politik yang cenderung sangat tidak setara agar lebih memahami peran serta kertebatasan institusi-insititusi yang terlibat dalam manajemen sumber daya alam.

Koordinator Program Perempuan dan Agraria Sajogyo Institute, Siti Maimunah, mengutarakan kekhawatirannya tentang perjuangan perempuan dalam krisis lingkungan.  “Ketika meneliti di kampung dengan waktu pendek, kita hanya menjumpai lelaki. Perempuan harus dijumpai di dapur. Perempuan dalam situasi krisis ekologis berbeda dengan lelaki saat berjuang. (Contohnya-red) Mama Aletta, dituntut bercerai dari suami, dianggap ibu tidak bertanggung jawab dan pelacur karena sering keluar malam untuk rapat. Hal-hal ini tidak akan dialami lelaki. Perempuan mengalami problem berlapis-lapis yang berbeda dengan lelaki,” ujar perempuan yang akrab disapa Mbak Mai ini.

12

Lebih jauh lagi mbak Mai juga mengkritisi problem perempuan yang sering dianggap bukan problem bersama. Salah satu contohnya di desa Bukit Linteung, Aceh Utara. Sungai mati yang merupakan sumber air utama mengalami pencemaran akibat kebocoran gas Exxon Mobile. Pencemaran ini mengakibatkan gatal di vagina dan lipatan kulit perempuan yang mandi di sana. Sehingga para suami yang tahu istrinya mandi di sungai mati, akan menolak berhubungan intim dengannya. Penyakit tersebut tidak dianggap sebagai isu penting karena masyarakat enggan membicarakan persoalan organ intim perempuan yang gatal. Inilah yang disebut krisis sosial ekologis.  Sehingga penting adanya Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air untuk menampilkan masalah-masalah yang rentan menyerang perempuan sekaligus memberanikan mereka muncul sebagai pemimpin perjuangan kampung halamannya.

1

Inspirasi dari Pemimpin Perjuangan

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa perempuan lebih bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari ketimbang lelaki yang cenderung mencurahkan tenaganya untuk menghasilkan uang (White 1984: 25; Preston 1987: 55; Chant 2007: 52; Ekowati dkk. 2009 : 125 – 128; De Schutter 2013: 4; Khairina dan Valinda 2016: 69).

Fenomena ini juga dialami di Kendeng, “Soal air di Kendeng yang terancam pabrik semen, perempuan malah paling berkepentingan. Dari bangun tidur sampai sebelum tidur, selalu berurusan dengan air. Ibu-ibu tak bisa hanya menunggu perjuangan para suami saja. Kalau hanya laki-laki saja yang berjuang, biasanya kurang berhasil” kata Gunarti, perempuan Sikep penggagas Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan Simbar Wareh dalam sebuah interview dengan Rappler. Gunarti, yang turut datang di acara Jambore berpesan, “Bumi itu satu tapi jadi ibu semua makhluk hidup di dunia. Manusia itu bukan yang berkuasa di dunia, tapi sok berkuasa. Kita harus menghormati air. Menjadi temannya, bahkan saudaranya air.”

Aletta Baun peraih Goldman Environmental Prize 2013, yang sekarang juga menjadi anggota DPD berkata kepada peserta dan penonton Jambore, “Semakin banyak perempuan di politik, alam akan semakin diperjuangkan.”

Eva Bande aktivis lingkungan dari Banggai, membacakan puisi yang ditulisnya saat dipenjara karena memimpin gerakan melawan perusahaan kelapa sawit. Eva berpesan kepada peserta Jambore agar menjadi panutan di kampung-kampungnya. “Sudah banyak orang pintar konsep. Kita butuh perempuan pejuang tanah air. Kita juga harus sadar risiko karena berhadapan dengan perusahaan-perusahaan yang saya sebut perompak,” ujar Eva penuh semangat.

13

“Perempuan butuh dimudahkan dalam berjuang. Perempuan butuh dibantu berproses untuk menjadi pemimpin. Kita akan terus mencoba memahami apa yang terjadi di kampung dan menuliskan pandangan-pandangan perempuan,” ujar mbak Mai menutup acara jamboree. Semoga semakin banyak perempuan Indonesia yang berani tampil menjadi bagian pemulihan krisis ekologis.

Foto utama

About the author

Trinzi Mulamawitri

Trinzi Mulamawitri mulai memiliki ‘panggilan’ terhadap feminisme saat menjadi pemimpin redaksi kaWanku di tahun 2010. Bagi perempuan jebolan fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, remaja putri adalah aset paling berharga buat sebuah bangsa sehingga harus dibangkitkan kesadarannya mengenai feminisme. Me-rebranding kaWanku menjadi cewekbanget.id di tahun 2017 untuk semakin gencar menelurkan bibit-bibit feminis muda. Kini memutuskan menjadi tenaga lepas di bidang penulisan, humas, content marketing dan relawan dalam hal pemberdayaan perempuan. Trinzi merupakan peserta Kursus Perempuan Tingkat II dan III pada 2017. Trinzi bisa diikuti di Instagramnya:
http://instagram.com/trinzi

Add Comment

Click here to post a comment