Maria Krisnasari Opini

Sri

15

oleh Maria Krisnasari

Sri: Jawa, lugu, sederhana, ndeso. Mungkin begitu, mungkin juga tidak. Ada banyak orang bernama Sri. Dan pastinya banyak cerita tentang Sri.

Sri yang secara umum dipahami orang (dan juga aku) sebagai Dewi Padi, Dewi kesuburan, ternyata namanya menjadi favorit orang-orang, Jawa khususnya, untuk nama anak-anak mereka. Selain Sri yang bermakna sebagai Dewi kesuburan, Sri juga dianggap sebagai nama yang dihormati. Nama Sri populer disandang oleh orang-orang kelahiran 1970-an hingga awal 1980-an.

Sri memang tidak lagi menjadi nama yang menjaman di era 1990-an hingga kini. Tapi apakah ketidak-zamanan Sri bisa menghapus cerita dari para Sri di sekitar kita?

Adalah seorang Sri yang lahir 3 tahun setelah Indonesia merdeka. Ia memang bukan wanita pejuang yang lahir di era Kartini yang ikut menegakkan emansipasi. Perjuangannya sesederhana untuk keluarga, untuk suami tercintanya, untuk kelima putrinya, dan untuk mendiang kakak laki-lakinya. Bukanlah sosok yang brilian kelihatannya, bukan juga aktivis di desa. Ia hanya aktif berjuang semampunya untuk menafkahi keluarga. Hampir setiap pagi ia tak pernah absen berdiri di pinggir jalan menjual ayam demi untuk bisa memberi uang saku buat si bungsu yang masih SMA. Di siang hari, tanpa gengsi dan malu, melainkan senyum optimis tersungging, ia menjual jahe hasil tanaman suaminya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk menjamin anak-anaknya berpendidikan dengan baik. Biji gandum ditabur di banyak tempat, tapi mungkin hanya satu atau dua yang tumbuh subur dan memberikan panen bagi penabur. Begitulah Sri dengan kelebihan, kekurangan, talenta, dan keyakinannya, ia berusaha yang terbaik untuk menaburkan bibit-bibit baik pada putri-putrinya. Ia tak pernah lelah hingga detik ini mendaraskan doa pada Yang Maha setiap malam untuk keluarganya. Dan wanita ini adalah Sri Pandonga.

Adalah seorang Sri yang lain, yang lahir di tahun 50an. Hampir sama dengan Sri yang sebelumnya. Ia adalah wanita pejuang demi keluarga. Sri yang sederhana dan lugu hanya tahu bagaimana menjadi kuat dan panutan bagi putra-putrinya. Terlebih ketika suaminya tercinta meninggal, tanggung jawab sebagai keluarga diembannya. Ujian, cobaan, godaan serasa tak ada habisnya. Namun, dengan tegar ia berdiri kuat, menatap ke depan dengan penuh pengharapan untuk meyakinkan anak-anaknya bahwa hidup harus dijalani jika ingin menjadi orang yang bekualitas. Dengan bahasa yang tidak muluk-muluk ia berpesan pada putra sulungnya yang akan pergi merantau untuk bekerja, “Coba dijalani dulu, mungkin jalannya memang harus begini.” Omongan yang sangat biasa kedengarannya, namun di dalamnya ada sebuah nasehat bagaimana dengan sederhana menjalani hidup, dan menjadi manusia yang kuat serta berani mencoba. Dan wanita ini adalah Sri Kuatini.

Adalah dua orang Sri yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik di sebuah desa yang sering terkena banjir. Satu bernama Sri Rejeki, dan yang satu adalah Sri Umyung. Tak banyak yang bisa diingat oleh muridnya tentang kedua Sri ini karena belasan tahun telah lewat. Dengan dedikasi yang tinggi kedua Sri mendefinisikan apa makna guru: digugu lan ditiru, “dipatuhi dan dicontoh”, menjelaskan makna pahlawan tanpa tanda jasa, dan menjabarkan semboyan pendidikan: ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, “di depan memberi teladan, ditengah memberi bimbingan, di belakang memberi dukungan”  secara nyata. Mungkin hanya 10 murid dari ratusan murid yang selalu mengingat kedua guru Sri dalam hidupnya. Mungkin hanya 5 dari ratusan murid yang dengan bangga menceritakan pada anak-anaknya bahwa pernah diajar oleh Guru Sri. Mungkin hanya 1 dari ratusan murid yang selalu ingat ajaran-ajaran baik guru Sri hingga ia setua Sri. Para Sri yang dicukupkan rejekinya karena taat pada jalan Yang Maha mengabdi dengan bangga untuk bangsa.

Adalah Sri yang lain lagi yang berdinas dari pagi ketika Pasar mulai ramai pembeli hingga gelapnya malam meliputi langit Jakarta. Berkantor di salah satu toko beras di Pasar Senin sebagai penyapu beras jatuh. Sri adalah nama Dewi Padi dan Sri Senin adalah Dewi yang lebih nyata, Dewi beras. Hidupnya selalu berhubungan dengan beras-beras yang tercecer di toko. Ia tidak akan membiarkan satu bulir beras pun terbuang dengan percuma. Ia sapu ceceran beras di lantai dengan rajin. Ia kumpulkan dalam kantong plastik hitam, kemudian ia bawa pulang untuk anak-anaknya. Ketika tukang timbang begitu berhati-hati menuang beras dari karung ke plastik pembeli dan tidak ada beras yang tercecer, Sri Senin menjadi kuli angkut karung-karung beras. Dewi Padi yang menjelma menjadi Dewi Beras adalah Sri Senin.

Dan adalah Sri, anak ketujuh dari Prof. Satmoko and Nyonya Retno Sriningsih yang lahir tahun 60-an. Sri bungsu ini bernasib jauh lebih beruntung dari Sri-sri yang lainnya. Lahir dari keluarga akademisi. Mengecap perguruan tinggi dan kemudian bekerja untuk negri sebagai menteri. Putri bangsa yang berprestasi, dan membanggakan bangsa. Anak negeri yang dinobatkan sebagai salah satu wanita yang berpengaruh di dunia versi Majalah Forbes 2008, dan wanita berpengaruh no-2 di Indonesia. Yang kemudian dilirik dunia untuk mengatur masalah ekonomi. Dan ia adalah Sri Mulyani.

About the author

Maria Krisnasari

Perempuan yang lahir di pembukaan tahun 1988 ini lulus dari Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 2010. Dia menemukan tempat bertumbuh dan belajar tentang menulis yang baik, benar, dan menyenangkan, sejak bergabung dalam komunitas A18 di tahun 2012. Jiwa melankolis membawanya menuangkan puisi dan tulisan pribadi bernada romantika di blognya http://krisnasarimaria.blogspot.com/.

Add Comment

Click here to post a comment