Ignatius Haryanto Resensi Buku

Aku Selebriti, Maka Aku Penting

KOMPAS Minggu, 25-01-2004. Halaman: 17

ASPEK mana kehidupan artis yang tak luput digali oleh media massa? Semuanya telah habis ditumpahkan kepada para pembaca atau penonton media di Indonesia. Mulai dari soal perkawinan, perceraian, isu perselingkuhan, soal kekerasan dalam rumah tangga, soal tiruan wajahnya, dan lain-lain. Selain itu pula, dalam tampilan di televisi, amat mudah kita menemui berbagai wajah selebriti dalam berbagai tayangan lain, mulai dari soal masak-memasak, tebak-tebakan berhadiah puluhan hingga ratusan juta rupiah, membahas kehidupan sehari-hari, hingga pada artis yang memberikan tips menghindari kejahatan menghampiri dirinya.

Infotainment. Itu kata kunci yang dipakai oleh berbagai production house ataupun tasiun televisi. Maksudnya hendak mengatakan bahwa informasi dan entertainment hiburan), bukanlah dua entitas yang terpisah, namun dalam rumus ini, keduanya aruslah menyatu. Seolah mau menekankan bahwa “informasi haruslah menghibur,karena alau informasi terlalu serius, tak akan yang mendengarkan”.

Cobalah menonton acara Asal (Asli tapi Palsu), dan kita akan mendengar chorus bagaimana para peserta yang wajahnya mirip dengan seorang selebriti tertentu, berharap ia akan bisa jadi ngetop karena kemiripannya tersebut. Apa pun profesi yang telah disandangnya sekarang seolah tak cukup kalau ia pun tak jadi sengetop selebriti
yang mirip dengannya. Padahal banyak terjadi si “kembaran” sang selebriti itu usianya lebih tua dari sang selebriti itu sendiri. Jadi sebenarnya siapa mirip dengan siapa?

Tak ada yang salah dengan orang yang punya keinginan jadi ngetop, atau menjadikan dirinya sebagai selebriti yang akan dikagumi orang ketika berjalan, dikomentari ketika sedang berkeliling-keliling di mal. Banyak orang berlomba-lomba untuk tampil bak selebriti, atau menjadikan diri sebagai selebriti, lewat cara apa pun itu.

Dalam situasi seperti ini, tak salah untuk tetap mengingat apa yang dikemukakan oleh Neil Postman ketika ia memperingatkan bahaya dari industri televisi yang secara terusmenerus menghibur masyarakatnya hingga mati. Tentu saja Postman mungkin berlebihan ketika ia mengambil istilah mati, sebagai batas ketika manusia tak lagi dihibur oleh dunia televisi, tapi istilah apalagi yang lebih cocok dari itu?

Dunia televisi memang punya logika sendiri. Ia berkesan instan, yang penting adalah tampilan, performance di televisi (peduli apakah punya bobot atau tidak), pun kalau sekadar berucap “pokoknya acaranya oke banget”, yang penting seseorang telah mengucapkannya, seraya kamera menyorot pada wajahnya. Apakah deskripsi lebih lanjut
dari “oke banget” tadi, tak penting, toh kamera sudah akan menyorot ke tempat lain lagi. Apakah ungkapan “oke banget” tadi mencerminkan kemiskinan bahasa atau cara pengungkapan, itu tak soal juga, karena toh bukan itu yang penting. Yang penting adalah wajah berseri, tepukan penonton, betapapun tololnya jawaban yang diucapkan.

Dalam film Confession of the Dangerous Mind, digambarkan seorang produser acara televisi yang merangkap profesi sebagai pembunuh bayaran CIA, dan dalam memproduksi tayangannya, ada pernyataan “makin rendah selera yang ditawarkan kepada penonton, makin laku acara tersebut”.

Tayangan infotainment ada di seluruh saluran televisi Indonesia.Dalam seminggu, kita akan mendapatkan tayangan infotainment sebanyak puluhan jam, bahkan dalam masa ketika televisi swasta harus beroperasi 24 jam, sejumlah tayangan infotainment pun di-rerun pada pukul 04.00 pagi! Padahal kalau dilihat isinya, antara satu tayangan dengan tayangan lainnya tak jauh berbeda materinya.

Sebuah kelompok pemerhati media di Amerika bahkan tiap tahun membuat list “junk food news”, yang ditujukan pada hiruk pikuknya media terhadap sejumlah kasus tertentu yang menyangkut dunia para selebriti. Kelompok ini merasa bahwa berita yang telah dimuat oleh media sudah sangat berlebihan. Misalnya dalam kategori ini adalah,
segala hal yang berkaitan dengan diri seorang David Beckham, pemain sepak bola asal Inggris, dan istrinya, Victoria Posh, yang mantan anggota grup Spice Girls, seakan tak pernah ada hentinya.

Dalam diri saudara tuanya, media cetak, selalu ada halaman yang memberi porsi soal kehidupan artis atau selebriti lainnya. Bahkan tabloid yang mengurusi soal beginian pun tak sedikit, walau sebagian dari mereka sangat khawatir dengan kehadiran infotainment di televisi, yang sedikit banyak akan memukul segmen pembaca mereka.
Seolah-olah para pengelola acara infotainment ini hendak mengatakan bahwa para artis dan kehidupannya ini adalah yang paling penting, sehingga kita-para pemirsa-harus memperhatikan setiap detil kehidupan sang artis. Si artis bisa jadi panutan moral, karena ia bijak berumah tangga, bisa merawat tubuh dan muka dengan piawai, pandai memasak, membagi tips melawan penjahat, membagi tips untuk memelihara hewan dan lain-lain. Seolah-olah manusia biasa tanpa predikat selebriti jadi tak penting untuk tampil di media.

Memang dalam dunia jurnalisme dikenal salah satu syarat berita adalah soal prominence (keterkenalan sang sumber). Tapi dengan semata-mata menekankan pada unsur prominence dalam pembuatan berita atau infotainment tadi, maka unsur lain sebagai syarat berita menjadi kabur. Tak penting lagi mempertimbangkan soal signifinance dari kejadian yang dialami sang artis bagi pembacanya, tak penting pula apakah memang ada suatu fenomena yang baru terjadi, atau sekadar mengulang-ulang pola lama (pacaran, selingkuh, menikah, bercerai, menggugat di peradilan). Atas nama prominence-nya sang artis, segala aspek dunia artis menjadi รด”berita” di berbagai tayangan infotainment. Tak peduli apakah melanggar kehidupan pribadi si artis atau tidak, tayangan ini akan terus muncul.

Judul tulisan di atas mempelesetkan adagium dari filsuf Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada), dan adagium tadi sengaja dipelesetkan agak jauh, untuk menaruh dalam konteks kehidupan artis dan kehidupan media di Indonesia. Intinya sama, soal eksistensi manusia, dan penanda apa yang dipakai untuk menyebut
eksistensi dirinya; soal berbelanjakah, soal berpikirkah, soal berpakaiankah, atau soal dirinya masuk dalam liputan media massa atau tidak.

Dunia ini seolah ekstravaganza dengan parade keriuhan tanpa henti, di mana artis cantik dan ganteng satu per satu terus bermunculan, membentuk barisan tanpa putus. Kita pun dihibur dan dihibur dan dihibur. Suatu yang remeh temeh mendadak jadi sangat
penting (cara memoleskan lipstick di bibir, cara menghindari pencopetan handphone di perempatan jalan) karena diangkat oleh televisi, dan sebaliknya sesuatu yang betul-betul sangat penting (eksploitasi artis oleh kalangan partai politik, artis yang jadi
selingkuhan para pejabat, hingga ke soal penggusuran tiada henti) tak pernah jadi agenda serius untuk tampil.

Prominence di atas segalanya. Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba jadi prominent people, alias menjadi selebritas, tanpa mempertimbangkan apakah yang prominent tadi memiliki bobot atau tidak. Makin heboh penampilan, makin akan diliput media massa. Media massa kita memang sangat menghibur kehidupan kita.

Ignatius Haryanto
Wakil Direktur LSPP di Jakarta

About the author

Ignatius Haryanto

Mentor Komunitas Penulis Muda Agenda 18. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Magister Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Peneliti senior di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP).

Add Comment

Click here to post a comment