Bernadeta Niken Resensi Buku

Amba: Berdamai dengan Masa Lalu

4
oleh Bernadeta Niken
Judul Buku: Amba
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Tebal : 496 halaman
Cetakan : Pertama, September 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Amba bersama dengan kedua adik kembarnya Ambika dan Ambalika berhasil didapatkan Bhisma dalam sebuah sayembara. Diboyong ke Hastinapura, Ambika dan Ambalika dipersembahkan untuk Wicitrawirya. Sedangkan Amba yang sudah bertunangan dengan Salwa menjadi milik Bhisma. Amba ingin kembali kepada Salwa namun Salwa menolaknya karena Amba telah direbut dengan ksatria oleh Bhisma. Saat Amba mulai mencintai Bhisma dan menginginkan cintanya, ternyata Bhisma menolak karena ia berikrar untuk tidak menikah. Amba akhirnya tidak sengaja terbunuh oleh panah Bhisma yang ternyata mencintainya tetapi tidak bisa memiliknya. Kelak Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bhisma pada perang Baratayudha.

Laksmi Pamuntjak menghadirkan kisah cinta segitiga Amba, Bhisma dan Salwa dari Mahabharata ke dalam kehidupan sehari-hari berlatar sejarah kelam bangsa Indonesia, G30S. Laksmi Pamunjak memulai kisahnya dari pulau yang berkonotasi dengan peristiwa berdarah 1965, Pulau Buru, saat Amba mencari seorang yang dikasihinya, Bhisma. Pulau itu, dengan kisah-kisahnya yang tak lazim, dimana kini orang-orang berhenti bertanya asal-usul para pendatang. Tetapi, sesekali sesuatu bisa terjadi di pulau ini –sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan-dan orang hanya bisa membicarakannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus menerus membalun dan menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal. Dan dijajaran lembah di baliknya, seolah memalui puisi dan tenung, ada cerita yang diam-diam menjelma. Seperti kisah Amba dan Bhisma ini. (hal.13)

Amba lahir dari keluarga sederhana di Kadipura, Jawa Tengah. Bapaknya seorang kepala sekolah yang menjaga wibawa dengan kehidupan keluarga yang menjaga sopan santun; ia mendalami yang mendalami Serat Centhini, Wedhatama dan kitab Jawa lain. Ibunya seorang yang cantik dan setia, bekas kembang desa. Amba, tidak secantik dua saudara kembarnya, Ambika dan Ambalika. Baginya kecantikan bukan jalan menuju bahagia melainkan beban dan kutukan. Amba dengan mata kucingnya tumbuh menjadi perempuan yang tangguh.

Lulus sekolah menengah, Amba meninggalkan kota kecilnya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada. Karena ketertarikannya pada sastra, dunia yang ia dapatkan dari ayahnya, ia mengambil Sastra Inggris dalam kuliahnya di universitas terkenal di Yogyakarta itu. Waktu itu juga ia ditunangkan dengan Salwa Munir, seorang dosen, pria baik-baik. Di Yogya, Salwa menjaga Amba dan memperlakukannya dengan sangat baik.

Ketika mereka terpisah karena Salwa harus bertugas di Surabaya, Amba melamar menjadi penerjemah seorang dokter di rumah sakit di Kediri. Di sana Amba bertemu Bhisma, seorang dokter muda lulusan Universitas Karl Marx, Leipzing, Jerman Timur. Bhisma seorang “anak Menteng” lahir dari Ayah Minang dan Ibu Jawa. Namun pendidikan dan kekayaan orang tuanya tidak membuainya. Bhisma justru bekerja untuk masyarakat kecil dan aktif di berbagai kegiatan sosial.

Bhisma memenuhi cinta yang tidak dapatkan Amba dari Salwa. Amba dan Bhisma bercinta tanpa kata-kata. Bersama Bhisma, Amba merasakan cinta yang hidup, meluap, meletup. Tampak dari surat Amba kepada ayahnya: Aku hanya tahu bagaimana mencintai dengan sepenuh jiwa raga. Dan itu berarti mencintai beribu rona, mencintai sesuatu yang membuatku merasa hidup sehidup-hidupnya. Juga mencintai yang tak sempurna. (hal 292)

Amba terpisah dengan Bhisma dalam sebuah penyerbuan oleh tentara di Universitas Res Republika, Yogyakarta, 19 Oktober 1965. Bhisma menghilang dan belakangan diketahui bahwa ia dibuang bersama ribuan tahanan politik lain di Pulau Buru oleh pemerintah Orde Baru. Dalam kesedihan karena kehilangan, Amba tidak kembali kepada Salwa karena ia telah menodai kesetiaannya. Amba bertemu laki-laki lain, Adelhard Eilers, yang tulus menerima dia dan bayi yang dikandungnya. Tahun 1979, saat para tahanan Pulau Buru dibebaskan, Amba berharap kepulangan Bhisma namun Bhisma memilih tetap tinggal di pulau itu. Dari email tak dikenal, Amba mendapat kabar bahwa Bhisma meninggal. Setelah empat puluh satu tahun berlalu, akhirnya Amba ingin berdamai dengan masa lalunya, bukan untuk memperbaikinya melainkan berharap menemukan bagian dirinya yang hilang. Ia memutuskan untuk pergi ke Pulau Buru bersama Zulfikar, teman Bhisma semasa menjadi tahanan di Pulau Buru mencari Bhisma, hidup atau mati, ayah dari anak satu-satunya, Srikandi.

Di Pulau Buru, Amba bertemu Manalisa, penghuni asli Pulau Buru yang sakti dan menjadi sahabat Bhisma semasa hidup. Manalisa menjaga peninggalan Bhisma berupa surat-surat dalam tabung bambu yang disimpan di bawah pohon meranti untuk wanita yang dicintainya, Amba. Dari surat-surat itulah Amba mengenang Bhisma dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyanderanya. Apakah Bhisma mencintainya? Apakah ia satu-satunya perempuan yang dicintai Bhisma? Lalu mengapa Bhisma tidak kembali menemuinya?

Amba adalah debut novel pertama Laksmi. Novel Amba dibuat dengan riset yang sungguh-sungguh serius dan hasilnya luar biasa mengesankan. Tergabung dalam “Buru Tujuh” Laksmi mengunjungi Pulau Buru di tahun 2006. Ia mengali kenangan para bekas tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa G30S. Sebut saja Amarzan Loebis, Tedjabayu Sudjojono, Dr. Aru Sudoyo. Dari merekalah, Laksmi mendapat sumber ilham bagi novelnya. Tak heran jika ia mampu menghidupkan kenangan terdalam di pulau itu.

Selama ini Laksmi Pamuntjak dikenal sebagai penulis di berbagai media massa. Ia juga menulis puisi dan telah menerjemahkan kumpulan puisi Goenawan Mohammad. Kelihaiannya berbahasa tampak dari kata-katanya yang indah dan memesona. Yang membedakan Amba dari novel lain berlatar belakang G30S adalah kisah para tahanan politik di Pulau Buru. Melalui surat-surat Bhisma kepada Amba, Laksmi ingin menyampaikan bahwa orang-orang yang dibuang ke Pulau Buru bukan sepenuhnya penganut ideologi komunis. Bahkan orang-orang di antara kami yang membayangkan dirinya Marxis-Leninis tulen, banyak yang belum pernah membaca satu kalimat pun dari lenin, apalagi Das Kapital (hal 413). Menyebut komunis sebagai atheis adalah kesalahan besar yang sudah terlanjur benar selama ini. Dalam suratnya, Bhisma bercerita ketika seorang tapol ditemukan tewas tertikam, pengawal menyuruhnya untuk membawa mayat itu lalu ditanam atau dibuang ke dekat sungai. Sementara ia menolak dan meminta untuk memakamkan secara islam dan meminta tahanan lain membaca doa. (hal 423)
Laksmi memberi kesan bahwa yang bukan komunis tidak lebih baik dari yang komunis. Ia ingin menghilangkan ketakutan pada cap-cap yang diberikan dunia. Gagasannya tampak pada surat Amba kepada ayahnya. Adalah Bapak yang mengajariku untuk tidak mewarnai duniaku hanya Hitam dan Putih, juga untuk tidak serta-merta menilai dan menghakimi (hal 294). Pada kunjungan Amba di Buru tahun 2006 digambarkan Pulau Buru dengan unit-unit bekas tahanan berkembang menjadi sebuah kehidupan. Perkebunan, sekolah dan warung makan berdiri menghidupi warga yang tinggal di sana. Jalan-jalan dibangun antara satu unit dengan unit lainnya. Walau demikian, Buru tetap misterius karena menyimpan kisah-kisah yang tak sempat diceritakan. Amba dengan berani mencari kebenaran akan Bhisma, entah itu hasilnya dapat menyembuhkan atau malah membuatnya terluka.

Novel Amba hadir supaya ingatan bangsa ini tidak pernah hilang pada peristiwa kelam 1965. Peninggalannya pun tak kalah menyakitkan. Sejarah dapat ditulis dengan berbagai cara dan Laksmi Pamuntjak berhasil membuatnya dengan mengesankan. Seperti Amba, jika berkehendak dan berani, bangsa ini bisa berdamai dengan masa lalu dan menemukan kebenaran.

2013

sumber:

About the author

Bernadeta Niken

pejalan yang tahu jalan pulang

@nikenkd
nikenishere.blogspot.com

Add Comment

Click here to post a comment