Bernadeta Niken Resensi Buku

Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa: Rakyat Kecil dalam Sejarah

4
oleh Bernadeta Niken


“Di tengah laut o homa kami lemparkan ke tengah-tengah gerombolan ikan-ikan besar ido, yang langsung menggayangnya. Pada saat o homa itu dikejar-kejar oleh ido-ido ikan-ikan besar, ido-ido itu kami tangkap. Kami orang-orang Tobelo, Dodinga, Mangindao, orang-orang Galela dan nelayan-nelayan Patani, ibarat ikan-ikan kecil o homa, yang dikejar-kejar ikan-ikan besar ido. Bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap penangkap-penangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? Manusia atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya?” – hal 296-297


Begitulah kiranya gambaran kehidupan rakyat kecil pada masa kolonialisme abad 16-17 lampau. Kerajaan Ternate-Tidore sibuk dengan keserakahan dan gengsi hingga harus mengorbankan kesejahteraan rakyatnya. Bersekutu dengan pihak asing untuk saling menghancurkan. Berlatar itulah dikisahkan kehidupan Kiema Dudu dan keturunannya di kampung Dowingo-Jo, sebelah timur Teluk Kao, Kepulauan Halmahera. 


Adalah Mioti Lamo dan Loema Dara, yang dulunya istri Kiema Dudu, dua orang yang selamat dari pemusnahan kampung Dowingo-Jo. Seluruh warga kampung tewas di tangan penguasa kerajaan lokal hanya karena gengsi sang kepala kampung Kiema Dudu. Kedua orang yang selamat dari musibah itu lalu menikah melanjutkan tradisi kampung Dowingo-Jo sebagai pengrajin kapal yang handal. Seperti laut, hidup mereka pun penuh pasang surut gelombang. Meski tumbuh dalam budaya balas dendam, merompak dan gengsi, Oti sudah cukup belajar dari penderitaannya untuk bertahan hidup. Ia yang dikaruniai hati belas kasih, memilih untuk mengampuni dan hidup sebagai pembuat kapal yang baik.

Suatu ketika karena ketenaran Oti sebagai pembuat kapal yang hebat tapi pandir, datanglah ke kampungnya seorang penguasa Kerajaan Ternate. Berbeda dengan saat dulu Bahder Musang sang utusan datang penuh kemarahan, kali ini Juanga Muara datang dengan damai meminta Oti membuatkan kapal untuk kerajaan. Bahkan menjadikan Oti sebagai asisten dan membawanya ke istana kerajaan untuk menemui ibu dan adiknya yang ternyata masih hidup dan selamat dari musibah kala itu. Namun, laut tak lama memberi ketenangan, saat kepulangan Oti ke kampungnya, ia diculik dan dijadikan budak belian. Oti hidup mengabdi pada tuannya seorang Belanda.

Kisah ini ditulis dari penelitian Gabriela Gabi Guraci yang melakukan penelitian sejarah Kiema Dudu di Kepulauan Halmahera. Romo Mangun memasukkan nilai-nilai dalam kisah yang kaya budaya dan sejarah ini. Loema Dara digambarkan sebagai seorang wanita yang menjadi sumber kehidupan karena dengan kesuburannya menjadi ibu susu anak-anak kampung dan melahirkan hingga 10 orang anak. Oti dengan belas kasihnya untuk mengampuni dan jujur pada hatinya mampu menyadarkan keserakahan yang membuat rakyat tidak bisa bersatu melawan penjajah. Dan masih banyak nilai lain yang bisa kita temukan.

Ikan hiu, ido dan homa adalah gambaran kelompok penguasa dan rakyat kecil. Ikan kecil akan menjadi makanan bagi ikan besar dan menjadi makanan pula untuk ikan yang lebih besar. Lalu akankah kita manusia juga harus saling memakan? Rakyat kecil memang sering menjadi korban penguasa, namun jika setiap orang menyadari nafsu dan serakah tak akan ada habisnya dan kesejahteraan bersama adalah tanggung jawab semua orang, rantai saling memakan ini tak lagi ada.

Romo Mangun, yang juga rohaniwan, barangkali tak ingin kisah-kisah nusantara hanya tinggal di buku-buku sejarah namun mampu memberikan rasa dan nilai atas perjuangan dan keberanian melawan hal-hal yang tidak baik. Maka, meski ditulis dengan kata atau kalimat yang melelahkan, novel ini layak dibaca sampai selesai. Novel ini juga menunjukkan keberpihakan Romo Mangun pada rakyat kecil yang sering kalah kuasa. Tak heran, setelah 8 tahun sejak diterbitkan pertama oleh Djambatan, Gramedia mencetak ulang novel ini lengkap dengan peta, sketsa, kamus bahasa Tobelo hingga tulisan penelitin Gabriela Gabi Guraci, karena kisahnya masih relevan dengan kehidupan bangsa saat ini.

2015

PS: 

Tulisan ini disponsori oleh Sympony Ice Cream.
Tulisan ini juga dimuat dalam http://nikenishere.blogspot.co.id/2015/09/ikan-ikan-hiu-ido-homa-rakyat-kecil.html

About the author

Bernadeta Niken

pejalan yang tahu jalan pulang

@nikenkd
nikenishere.blogspot.com

Add Comment

Click here to post a comment