Resensi Buku Rooslain Wiharyanti

Ketika Perempuan Berbicara Tentang Agama: Catatan atas Kumcer Bukan Perawan Maria

bpm2

Beginilah jika Feby Indirani bercerita tentang agama: Ada babi betina ingin jadi Islam; Lucifer menitis dalam tubuh Kyai; tanda bekas sujud yang muncul di seluruh muka; Malaikat ingin mengundurkan diri; dan surga yang tidak seindah pemahaman manusia.

Ada 19 cerita dalam buku teranyar Feby Indirani berjudul Bukan Perawan Maria terbitan Pabrikultur, 2017. Dalam tiap cerita tampak Feby dengan relaks mengajak pembaca melakukan dialog ulang akan pemahaman kita terhadap agama, surga, pemuka agama, dan berbagai ritual serta dogma yang menyertainya. Cerita-cerita segar itu dalam buku Feby ini merupakan bagian dalam gerakan Relaksasi Beragama.

Gerakan ini juga diramaikan dengan pameran tafsir rupa dari dari cerita-cerita tersebut. Ada pula pelatihan Relaksasi Beragama bersama Ferlita Sari, psikolog dan seorang People Development Expert. Semua kegiatan Festival Buka Perawan Maria itu digelar di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada 15-25 Juli 2017.

[Relax, It’s Just Religion] suatu gerakan yang mengajak orang berpikiran terbuka, mampu menertawakan diri sendiri dan berempati kepada orang lain yang memiliki tafsir beragama yang berbeda (2017: 201).

Cara bercerita Feby merupakan bentuk dialog agama yang kita rindukan. Setelah lelah dengan dialog berupa adu argumen, saling mencela, menghina, menyindir dengan penuh luapan kemarahan di medsos, Relaksasi Beragama seperti hujan di tengah kemarau. Ada ajakan untuk berhenti sejenak dari ketegangan agama dan berdialog dengan penuh canda.

Dialog dalam Beragama

Dalam Kursus Perempuan III di sesi pertama bersama Ruth Indah Rahayu, ada pembahasan mengenai ciri khas penulisan perempuan. Dikatakan bahwa ciri khas rasa berbahasa perempuan adalah reflektif, yang selalu berupaya mendialogkan antara fenomena di luar dirinya dengan pengalaman yang dialaminya. Dalam istilah metodologis disebut self-reflexive.

Dialog itu terlihat jelas dalam cerita “Percakapan Sepasang Kawan” (2017: 93-97). Penulisan cerpen ini seperti tanya jawab dengan nama dua tokoh: Yasir dan Yamin yang diikuti tanda titik dua dan kalimat langsung mereka.

Yasir dan Yamin merepresentasikan tangan kanan dan kiri Ali Mustafa. Mereka berbincang tentang “buku agama” yang berisi tentang seksualitas tubuh bidadari surga dan bagaimana dasyatnya kegiatan persetubuhan di surga. Yamin yang gemar membaca buku itu di akhir kisah tidak peduli lagi “kalau tangannya hamil di akhirat.”

Perdebatan dan perbedaan pendapat di cerita ini ditampilkan dengan canda. Yasir mengkritik perilaku Yamin, yang dikritik juga cuma tertawa. Tidak ada kesepakatan yang dicapai keduanya. Jadi dalam diri Ali ada pemahaman tentang surga dan dogma agama yang saling bertentangan. Cara penyampaian Feby yang apa adanya membuat pembaca melihat pertentangan dalam diri itu sebagai hal yang wajar dan biasa.

Soal bidadari surga ini juga muncul di beberapa cerita. Salah satunya di “Ruang Tunggu” (2017:74-83). Kekecewaan Rohman (“pengantin” yang mati dalam tugas pengeboman malam tahun baru) akan surga yang tidak ditemuanya, diceritakan dengan cermat oleh Feby. Tampak benar Feby sangat terganggu dengan konsep 72 Bidadari Surga itu dalam cerpen ini dan cerita-cerita lain. Namun, ia membawanya dalam dialog santai, sesekali meledek, dan menggelitik pembaca untuk memikirkan ulang konsep-konsep surga yang selama ini kita dengar.

Tubuh Perempuan dalam Beragama

Selain tentang Surga dan dogma agama, Feby juga menampilkan kegelisahannya atas tubuh perempuan dalam beragama. Cerpen “Bukan Perawan Maria” (2017: 172-182) merupakan kritik terhadap kuasa perempuan akan tubuhnya. Diceritakan Maria hamil tanpa merasa melakukan hubungan dengan laki-laki mana pun. Di tengah tentangan semua orang di sekitarnya, Maria tetap mempertahankan kandungan dan melahirkan bayinya. Kekuatannya datang dari kepercayaan akan kisah Siti Maryam yang mengandung nabi Isa. Cerpen ini merupakan usaha Feby untuk membaca ulang kisah Siti Mariam dan menuliskan versi baru untuk menyalurkan kegelisahannya akan minimnya kendali yang dimiliki perempuan atas tubuhnya sendiri.

Satu lagi cerpen yang membahas tentang tubuh perempuan adalah “Perempuan yang Kehilangan Wajahnya” (2017: 40-50). Annisa diminta suaminya untuk memakai niqab. Awalnya dia tidak nyaman, tapi setelah hidungnya tiba-tiba hilang, niqab menjadi penyelamatnya. Lalu perlahan bagian tubuh lain di wajahnya juga ikut lenyap. Bukan kondisi tanpa wajah yang membuatnya panik, tapi Annisa malah khawatir akan tanggapan suaminya Razi. Ia takut tidak lagi menjadi “perhiasan terindah” dalam hidup suaminya.

Saking tidak pernah merasa memiliki tubuh sendiri, perempuan memang selalu melihat tubuhnya dari kacamata laki-laki di sekitarnya: ayah, suami, pacar. Bukan hanya tubuh, nama yang merupakan indentitas utama sesorang pun bisa hilang dari kendali seorang perempuan. Ini diceritakan Feby dalam cerpen “Typo” (2017: 109-118).

Ainy Aliyah, ibu empat orang anak laki-laki, tiba-tiba selalu salah saat menulis namanya. Peristiwa ini dipakai Feby untuk menggambarkan bagaimana perempuan kehilangan identitas dengan sapaan yang berganti dari namanya sendiri menjadi Bu Zul, Ny Zulkarnain yang mengambil nama suami. Atau mengambil nama anak menjadi Mamanya Zulikifli, Mama Yusuf, Mamanya si kembar.

Berdialog tentang agama, tubuh dan identitas perempuan bersama Feby dalam bukunya merupakan pengalaman yang menyenangkan dan membuka pikiran. Usahanya untuk melakukan Relaksasi Beragama tersampaikan dengan baik dalam buku ini. Sudah saatnya kita tinggalkan ketegangan dan berdialog dengan tenang untuk merayakan perbedaan.

 

About the author

Rooslain Wiharyanti

Rooslain Wiharyanti, peserta Kursus Perempuan Tingkat III. Mantan jurnalis selama delapan tahun yang ingin kembali berkarya. Ketertarikannya akan dunia fiksi dan latar belakang pendidikan sastra mendorongnya membuat sesuatu untuk mereka yang gemar membaca.

Add Comment

Click here to post a comment