Arien Indriasari Resensi Buku

Kolonialisme dan Peran Perempuan

Banda - Resensi

Sebuah Resensi dari Film “Banda: The Dark Forgotten Trail”

Perseteruan bangsa-bangsa terjadi akibat rempah-rempah. Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat kawasan tumbuhnya pohon pala menjadi rebutan. Belanda bahkan rela melepaskan Nieuw Amsterdam agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Indonesia terjadi di Kepulauan Banda.

Paragraf diatas adalah sepenggal sinopsis film “Banda The Dark Forgotten Trail’ yang mulai tayang di Cinema XXI tanggal 3 Agustus 2017. Film ini diproduksi Lifelike Picture bergenre dokumenter disutradarai oleh Jay Subijakto dengan produser perempuan Shiela Timothy dan Abduh Aziz. Secara pribadi, menurut saya dengan keterlibatan perempuan dalam produksi film ini menunjukan perempuan bisa menekuni bidang ini dan diharapkan berpengaruh membuka kesempatan perempuan muncul dalam funia perfilman lebih banyak. Kalau bukan perempuan sendiri yang memperjuangkan eksistensinya dalam masyarakat lalu siapa lagi?

Film ini menceritakan sejarah di kepulauan Banda semenjak buah pala yang mempunyai nama latin Myristica Fragrans dikenal sebagai hasil bumi kepulauan tersebut. Narasi berawal dengan kedatangan pedagang Cina, Melayu, India, dan Persia untuk berdagang. Hal itu terjadi ribuan tahun sebelum kedatangan pelaut asal Portugis Alfonso de Albuquerque tahun 1511 yang membentuk pemerintahan kolonial dan memonopoli perdagangan pala di Kepulauan Banda.

Arien

Selanjutnya muncul sosok perempuan dengan busana adat Banda yang menggambarkan putri Cilu Bintang (bintang cantik). Menurut cerita legenda putri Cilu Bintang adalah putri cantik yang hendak dipinang seorang pangeran. Adapun syarat pinangan adalah sang pangeran harus mempersembahkan 99 butir emas kepada ayahanda raja putri Cilu Bintang. Namun setelah mencari di hutan  sang pangeran tidak berhasil mendapatkan 99 butir emas. Justru yang berhasil ditemukannya adalah 99 butir buah berwarna keemasan.

Raja pun murka ketika menerima buah tersebut lalu membunuh sang pangeran dan membuang 99 buah berwarna keemasan itu ke Kepulauan Banda. Kelak buah itu tumbuh menjadi pohon pala yang benilai jual tinggi.

Putri Cilu Bintang adalah sosok perempuan  yang digambarkan dalam legenda turut berperan menghadirkan buah pala. Buah pala yang sangat berharga lebih dari emas pada masa itu, perlambang kekuatan cinta sang pangeran. Saat ini nama putri Cilu Bintang diabadikan sebagai nama hotel mewah bergaya kolonial di Pulau Banda Neira.

Narasi selanjutnya menceritakan tentang perjuangan masyarakat Kepulauan Banda melawan usaha monopoli perusahaan dagang pemerintah Portugis lalu Belanda ditambah dua negara eropa lain yakni Inggris dan Spanyol yang akhirnya menyingkir atas hasil kesepakatan diantara mereka untuk mengakhiri peperangan tiada henti selama ratusan tahun. Buah pala yang pada saat itu hanya tumbuh di Kepulauan Banda dipercaya memiliki khasiat yang luar biasa di Eropa. Kadang terdengar berlebihan dan berbau mistis dari mulai mengobati penyakit Sampar atau Pes yang mematikan sampai menghidupkan orang mati, baik penyakit berat sampai yang ringan seperti sulit tidur dan meningkatkan vitalitas pria.

Sejumput rempah pala juga dapat ditukar dengan sekantung emas, harga biji pala di daerah asalnya dan di pasar Eropa bisa meningkat 60.000 kali lipat. Masyarakat Banda dikabarkan pedagang Cina dan Arab sebagai kumpulan suku-suku pemberani dan gemar berperang, bahkan tidak segan memenggal kepala setiap musuhnya. Melihat nilai ekonomi yang sangat tinggi perusahaan dagang Portugis dan Belanda berusaha sekuat tenaga dengan mengirimkan ekspedisi berkali-kali dilengkapi persenjataan dan serdadu untuk menguasai perdagangan pala di Kepulauan Banda. Masyarakat Banda akhirnya berhasil ditaklukan.

Dalam salah satu gambar yang ditampilkan adalah tiga orang anak asli Banda berbusana masa lampau menjelajahi bagian-bagian pulau mulai kebun-kebun pala lalu runtuhan beberapa benteng. Secara keseluruhan ada 12 benteng yang ditinggalkan Belanda. Mereka pun bertualang diantara keindahan alam kepulauan Banda. Menjelajahi pantai jernih, menyusuri gua–gua karang di tepi laut dengan stalaktit dan stalagmit yang mengagumkan .Tiga anak itu merepresentasikan anak-anak laki-laki dan perempuan di Kepulauan Banda saat itu.

Mbak Arien 2

Seorang sejarawan Banda menceritakan tentang monumen Parigi Rante, yakni monumen yang mencatat nama-nama orang buangan di Kepulauan Banda. Pulau-pulau di kepulauan Banda memiliki lokasi yang strategis dikeliling Laut Banda dengan pantai berkarang  sehingga cocok sebagai tempat pembuangan. Tokoh-tokoh politik, pemuka masyarakat, dan pemuka agama dari Serang, Blitar, Kutaraja, Tondano dan lain lain yang dianggap musuh pemerintah kolonial akan diasingkan ke Kepulauan Banda. Di antara tokoh-tokoh politik itu antara lain; Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Iwa Kusumasumantri. Mereka adalah tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang dibuang ke pulau Banda Neira. Mereka telah memberikan pengaruh pada masyarakat Banda Neira yang berkarakter multikultur melalui pendidikan dengan cara membangun sekolah dan menumbuhkan semangat kebangsaan diantara mereka. Sayangnya dalam film ini tidak ada figur perjuangan para perempuan. Seolah-olah para tokoh yang dibuang adalah laki-laki saja. Bagaimana dengan keluarganya, istrinya atau anak-anak perempuannya? Atau dari masyarakyat Banda sendiri adakah tokoh perempuan, lahir dari latar belakang berbeda yang memberikan peran signifikan sebagai penggerak dan pembangun kemajuan kehidupan masyarakat di Kepulauan Banda?

Sejarah mencatat tidak jauh dari Kepulauan Banda ada seorang pahlawan perempuan yang lahir namanya Martha Christina Tiahahu dari pulau Nusalaut Maluku tengah. Usia muda. Dia turut serta dalam perjuangan sang ayah Kapitan Paulus Tiahahu dan gugur dipertempuran pada usia muda, 17 tahun. Martha Christina Tiahahu menggambarkan keberanian perempuan Maluku memperjuangkan kemerdekaan yang sangat mengagumkan bahwa mereka tidak hanya berkutat pada ranah domestik mereka juga mampu berdiri di garis depan perjuangan.

Konflik agama tahun 1999 yang awalnya terjadi di Maluku sampai di Kepulauan Banda. Seorang bapak bercerita tentang kronologis usahanya menyelamatkan diri dari kejaran para perusuh. Walaupun sang bapak selamat tetapi seluruh anggota keluarganya dibantai termasuk anak perempuannya. Cerita ini memosisikan perempuan dan anak-anak hanya sebagai korban tetapi tidak menghadirkan kisah perempuan yang berhasil menyelamatkan diri.

Di bagian akhir film dihadirkan narasi dan wawancara tentang kondisi Kepulauan Banda yang sekarang dan harapan masyarakat di masa depan. Bagaimana perempuan Banda kelas bawah sudah turut bekerja mensupport ekonomi keluarganya. Seorang ibu bercerita dalam bahasa lokal tentang aktivitas sehari-harinya mencari nafkah berjualan makanan khas lokal “suami” dengan menggunakan kendaraan roda dua keliling kampung. Ada pula tayangan seorang perempuan yang mengupas buah pala memisahkan  daging dari bijinya untuk diolah.

Adegan-adegan ini menceritakan peran perempuan dalam proses produksi mengolah buah pala sebelum dipasarkan. Buah pala dari Banda memiliki kualitas tertinggi di dunia didukung faktor iklim dan geografis. Kualitas biji pala yang masih dikeringkan secara tradisional membuat biji pala Banda kalah bersaing selain harga di pasaran tidak menentu. Pada bagian wawancara terhadap petani perempuan dan petani laki-laki menunjukan bahwa profesi petani pala dijalankan oleh laki-laki dan perempuan sebagai pemimpinnya. Mereka berharap pemerintah mengusahakan harga pala dapat stabil, membantu dalam proses pengolahan dan pemasaran.

Wawancara terhadap generasi muda diwakilkan oleh tiga orang, dua diantaranya perempuan. Nampaknya wakil generasi muda laki-laki lebih memfokuskan perhatiannya pada masalah melestarikan budaya khas Banda. Sedangkan dua generasi muda perempuan mengharapkan para generasi muda asal Banda yang menuntut ilmu di luar Banda untuk pulang dan membangun semua sektor termasuk potensi pariwisata sebagai ladang pemasukan bagi Kepulauan Banda. Mereka berharap Kepulauan Banda bisa menjadi cagar budaya sejarah dan masyarakat hidup makmur.

Akhirnya saya berkesimpulan sebagai film dokumenter sejarah “Banda The Dark Forgotten Trail” belum banyak merepresentasikan peran perempuan dalam proses perjuangan masyarakat melawan penjajahan dan perkembangan sosialn dengan struktur masyarakat multiras. Dalam proses menumbuhkan semangat kesatuan dan nasionalisme rasanya tidak mungkin tidak ada sosok perempuan yang perannya bisa dijadikan contoh yang menginspirasi. Hal ini termasuk tentang wakil serajarawan dan tokoh masyarakat yang diwawancarai didominasi oleh laki-laki. Meskipun demikian film ini telah berupaya menampilkan citra generasi muda perempuan yang menunjukan pemahaman akan kesetaraan gender. Mereka sadar bahwa perempuan memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki untuk memajukan tanah kelahirannya dengan berkarya tak hanya di dalam ruang domestik tetapi juga di luar ranah domestik.

 

Sumber:

Film “Banda The Dark Forgotten Trail” oleh Lifelike Picture

Buku “Pulau Run”, Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan oleh Giles Milton

Artikel “Kisah Perjuangan Martha Chrstina Tiahahu, Srikandi dari Tanah Maluku” oleh Nationalgeographic.co.id

About the author

Arien Indriasari

Arien Indriasari peserta Kursus Perempuan Angkatan I, lahir 41 tahun yang lalu di Jakarta. Kegiatan sehari-harinya saat ini mengurus rumah tangga dan mengasuh empat anak laki-laki. Setelah menamatkan kuliah di Universitas Trisakti pada tahun 2000 Arien menjadi karyawan selama 10 tahun. Arien yang hobi membaca sejak kecil ini ingin berkarya secara mandiri.

Add Comment

Click here to post a comment