Resensi Buku Ursula Adeodata Stephania

Meneladani Gaya Kepemimpinan Paus Pertama Yesuit

Paus Fransiskus

 

paus-fransiskus_2816Judul     : Paus Fransiskus, Sang Pemimpin: Sebuah Pembelajaran dari Paus Yesuit Pertama

Penulis  : Chris Lowney

Penerbit: Kanisius

Cetakan : ke-2 tahun 2017

Tebal      : 256 Halaman

ISBN       : 978-979-2I-4920-3

 

Ad Maiorem Dei Gloriam, Demi Semakin Besarnya Kemuliaan Tuhan”, sebuah moto yang menginspirasi perjalanan hidup seorang Yesuit.

 

Dalam bukunya yang berjudul “Paus Fransiskus, Sang Pemimpin: Sebuah Pembelajaran dari Paus Yesuit Pertama”, Chris Lowney, sang penulis, mengajak pembaca melihat sisi kepemimpinan dari Sang Paus yang terlahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio. Ia terpilih menjadi Paus pada hari kedua Konklaf Kepausan, 13 Maret 2013. Pemilihan Paus memang menjadi momen yang mendebarkan. Ribuan umat katolik berkumpul di Lapangan Basilika Santo Petrus, Vatikan, menanti keluarnya asap putih dari cerobong asap Kapel Sistine sebagai pertanda terpilihnya Paus yang baru.

 

Dalam bukunya, penulis secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada pendidikan kepemimpinan ataupun buku pegangan yang khusus mempersiapkan seorang menjadi Paus baru. Model kepemimpinan ala Paus Fransiskus tentu saja tidak terlepas dari pengaruh pendidikan Yesuit yang ditempuhnya sejak tahun 1958. Pandangan hidup Ignasian yang terdiri dari kehendak untuk mengenal diri secara mendalam, termasuk segala kelemahan dan mencapai kedamaian, turut mempengaruhi pemikirannya dalam memandang suatu kehidupan. Pokok-pokok ajaran Santo Ignatius dari Loyola, salah satu pendiri Yesuit, telah menjadi batu penjuru dalam tradisi Yesuit.

 

Jika Allah tinggal di dalam ciptaan, maka Ignatius melihat bahwa “Allah juga tinggal di dalam diriku, hadir dalam keberadaanku, hidup, perasaan, dan pengetahuanku; dan bahkan menjadikanku bait-Nya, sejak aku diciptakan sebagai gambar dan citra Allah…” (halaman 114).

 

Kutipan di atas adalah mantra yang telah menjadi spiritualitas Yesuit: “Menemukan Allah dalam Segala Hal”. Para Yesuit melihat dunia dengan segala isi dan keadaannya sebagai bentuk tanggung jawab manusia kepada Allah. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, Paus Fransiskus menilai bahwa pemimpin haruslah realistis. Artinya, seorang pemimpin harus mampu memahami apa yang sebenarnya terjadi, memberi inspirasi, berkorban terlebih dahulu, dan berani membuat keputusan serta bertanggung jawab atas pilihan dan konsekuensi bagi hidupnya, keluarga dan dunia.

 

Paus Fransiskus telah memberikan teladan kesederhanaan hidup seorang pemimpin sejak momen terpilihnya. Keputusannya untuk tidak mengenakan jubah dan sepatu kepausan hingga menaiki bus bersama para kardinal adalah contoh tindakan sederhana Sang Paus. Kardinal Bergoglio pada akhirnya memilih menggunakan nama Fransiskus untuk menghormati Santo Fransiskus dari Asisi, juga sebagai lambang kemiskinan, kerendahhatian dan kesederhanaan.

 

Santo Fransiskus dari Asisi lahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Pietro, adalah seorang pedagang kain yang ternama di wilayah Asisi, Italia. Meskipun bergelimang harta, Santo Fransiskus justru menyangkal kekayaan dan memilih hidup dalam kemiskinan. Selain keberpihakannya terhadap kaum miskin, Santo Fransiskus juga dikenal sebagai sosok yang mencintai dan melindungi seluruh ciptaan, makhluk hidup. Hal tersebut turut menjadi refleksi iman dari model kepemimpinan Paus Fransiskus.

 

Akhir kata, izinkanlah saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Paus Fransiskus.

 

Referensi

Bayangan Krisis Kepemimpinan, Kompas.com

Fransiskus dari Asisi, Wikipedia

Pesan di Balik Pilihan Nama Paus Fransiskus, Tempo.co

Ini Cara Paus Dipilih Dalam Konklaf

About the author

Ursula Adeodata Stephania

Ursula Stephania, Agenda 18 Angkatan 6. Dilahirkan dari keluarga keturunan Flores dan Jawa. Memiliki kecintaan terhadap buku, khususnya buku biografi. Kini aktif menyibukan diri dengan mengikuti kegiatan pelatihan, teaching volunteering, dan paduan suara.

Add Comment

Click here to post a comment