Betta Anugrah Setiani Resensi Buku

Perempuan dan Bentuk Komunikasinya dengan Laut

pdl

Menjadikan yang mati seakan hidup. Mengubah harapan sebagai bentuk refleksi terhadap kenyataan. Itulah resepsi yang hadir ketika menyelami Kekasih Teluk, kumpulan puisi karya Saras Dewi. Gema penolakan dan semangat perjuangan mengubah status sosial begitu terasa pada setiap kata yang tersaji dengan begitu liris nan ritmis. Lewat bentuk yang tenang dan dengan persemayaman rasa amat dalam. Saras meng-konstruksikan kegelisahannya terhadap alam. Tempat yang banyak menyimpan peristiwa, berbagai fenomena, dan persoalan hidup manusia. Ketiga hal tersebut terlahir atas dasar keinginan dan berkelindan menjadi kesatuan karena konstruksi zaman yang dimotori kehendak kuasa manusia.

Seperti pada hakikatnya, puisi bukanlah terletak pada bentuk formalnya, meskipun bentuk formal itu penting. Hakikat puisi ialah apa yang menyebabkan puisi itu disebut puisi. Puisi disebut sebagai puisi dengan memenuhi tiga aspek berupa sifat seni atau fungsi seni, kepadatan, dan ekspresi tidak langsung.

Dominasi fungsi estetika pada sebuah puisi sejatinya merupakan keutamaan. Kekasih Teluk, sebuah judul yang dipilih untuk buku kumpulan puisinya ini memiliki magnet estetika yang menarik setiap mata untuk menyelami seluruh isinya. Tak sulit pula untuk menyepakati apa yang dituliskan oleh Joko Pinurbo dalam pengantar bahwa di antara kenyamanan rumah ilmu dan dunia di luar rumah ilmu yang penuh dengan “untaian kesengsaraan”, ia menemukan sastra sebagai jembatan cinta yang menghubungkan keduanya; jembatan permenungan yang menautkan pengetahuan dengan kenyataan.

Saras Dewi atau yang akrab dipanggil Yayas ialah sosok penyair perempuan yang memberikan warna baru dalam perpuisian Indonesia. Hampir seluruh puisi-puisi dalam bukunya ini kaya dengan literasi lingkungan dan gender yang cerdas, imajinasi yang liar, dan bersifat paradoksal. Cara berpikir yang ketat (rigorous) dan penuh kelapangan dalam buku Kekasih Teluk merupakan satu pembeda Yayas dengan penyair lain sejenisnya yang terdahulu. Yayas, seperti juga yang dikatakan selanjutnya oleh Joko Pinurbo dalam pengantar pada buku ini, ialah penggambaran seorang perempuan intelektual yang sering merasa tidak tenteram berdiam diri di rumah ilmunya yang nyaman. Ia adalah seorang penayir yang obsesif dengan hubungan manusia dan alam dalam permenungannya. Bagian dari tubuh alam yakni “teluk” dijadikan sorotan utama, diselidiki dengan renungan yang intens, dan diberi peran ganda, baik sebagai tanda (signifier) maupun sebagai apa yang hendak ditandai (the signified). Dalam bukunya ini, Yayas seakan menjadi penyair yang antipoda puisi protes. Ia berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik, sementara tidak sedikit penyair kekinian yang hanya mengindahkan suatu keruwetan (bukan kompleksitas isi) dengan kalimat patah-patah yang justru sering mengabaikan logika.

Bentuk Komunikasinya

Kekasih Teluk memantulkan sosok perempuan yang tengah berjuang menentang kebijakan yang  tidak berpihak kepada kolektif masyarakat lokal, dan ia menjadi bagian dari  kolektif itu. Tema-tema seputar alam (teluk), reklamasi, masalah personal dengan alam, cinta, hingga keluarga, menjadi objek paling banyak diselami Saras di dalam menulis puisi. Citraan-citraan yang dimunculkan mengantarkan Saras pada prosesi penyatuan diri dengan alam di sekitar seperti laut. Penyatuan tersebut menjadi menarik karena antara dua materil berbeda dipaksa bersama. Semakin dalam, semakin intim. Kemudian mendorong adanya upaya pemberontakan terhadap keadaan.

Pada perkembangan budaya kontemporer, gerakan atau aksi yang dilakukan individu atau kelompok kian beragam. Seperti kejahatan yang acapkali merupa berbagai bentuk. Perlawanan terhadap perilaku menyimpang pun bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui puisi. Puisi telah sejak era kemerdekaan kerap digunakan sebagai media protes. Dan beberapa komunitas banyak yang memanfaatkan puisi sebagai bentuk dari protes atau dijadikan bahan orasi saat demonstrasi.

Sebagaimana tujuan hakiki dari sebuah aksi, yakni persuasif terhadap publik. Maka, upaya  mengemas aksi dengan cara-cara menyentuh dan lebih masuk ke dalam hati, menjadi suatu yang tidak bisa dielakkan. Maka dari itu penolakan yang kian menggebu, oleh Saras sebagai perempuan, membungkusnya dengan cara sederhana nan elegan, yakni dengan berpuisi. Ia seperti tahu bahwa segala bentuk kekuatan apabila dibungkus dengan amarah, hanya akan menghadirkan suatu kondisi yang parah. Tetapi kekerasan apabila dibungkus dengan suatu kelembutan, maka nilai lain daripada perjuangan akan semakin terasa aman dan tenteram.

Dari apa yang dilakukan perempuan dalam cara berkomunikasinya misalnya melalui kumpulan puisi sebagai strategi komunikasi massa. Kita bisa menarik simpulan bahwa mengorganisasikan penolakan tidak harus dengan sebuah kemarahan atau sesuatu yang menyebabkan kehancuran secara material saja. Akan lebih baik dilakukan dengan metode penuh ketenangan dan damai. Terlebih pengaruh media sosial sangat besar dalam membantu menyebarluaskan advokasi atau gairah penolakan dalam bentuk lain. Saras menunjukkan bahwa seluruh pihak, apabila ingin melakukan aksi advokasi, semestinya harus memhami board goal-nya. Sebab ini juga yang akan menentukan strategi komunikasi massa berhasil atau tidak.

Keberhasilan upaya persuasif dalam berkampanye dengan berbagai teknik penyampaian pesan kepada audiens dinilai cukup efektif. Sebab pesan yang diorganisasikan dan disampaikan dengan cukup baik tidak menjamin memberi pengaruh signifikan terhadap gerakan. Perlu komunikator terpercaya untuk menyampaikan pesan tersebut. Agar penerima pesan dapat memahami pesan yang disampaikan.

Kekasih Teluk telah memunculkan kekuatan diri pada publik. Karya sastra yang ditulis dengan penuh perenungan dan penggalian atas pengalaman hidup telah menjelma menjadi media yang dapat membuat perubahan perilaku yang permanen pada publik. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah seperti pada puisi “Nyanyian Terakhir”, “Pesan Seekor Bangau”, “Ibu”: Aku tidak mau manusia menang/dalam perkelahian tidak seimbang dengan alam/sebab bila mereka menang,/berarti mereka telah kalah/karena mereka sejatinya membunuh,/Ibunya sendiri//…Aku tidak mau kaumku menang/sebab kebodohan mengerubungi otak mereka/seperti wabah mematikan/sehingga mereka tidak sadar/bahwa mereka sedang membunuh ibunya sendiri// meyakinkan bahwa secara personal, publik mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan tersebut.

Suara Ekofeminisme

Sebuah respons berbeda yang berkembang dalam bingkai perempuan dan lingkungan telah dicerminkan Saras Dewi dalam karyanya. Sebagai ekstraksi pergerakan perempuan, Kekasih Teluk telah mengajak pembaca untuk berpikir. Sebuah pesan dapat membawa perubahan perilaku yang kemudian memunculkan pemikiran positif dalam diri pembaca. Pemikiran positif yang bisa diperoleh dari keuntungan-keuntungan dan menunjukkan bahwa pemikiran negatif pada publik tidak benar adanya. Suatu benang merah membentang ketika hubungan antara usaha untuk mengontrol dan perempuan yang lebih rendah dan hasrat untuk mendominasi alam, yang mungkin bukanlah suatu kebetulan disebut mother earth. Pergolakan batin dan gerakan yang dikomunikasikan oleh perempuan (direpresentasikan oleh Saras Dewi) nyatanya berkorelasi dengan Rosemary Radford Reuther yang berargumen bahwa keinginan untuk menguasai telah membawa dunia pada krisis ekologis, dan oleh karena itu tidak mungkin ada pemenangnya. Maka seperti pada emosi struktural puisi perempuan Bali ini pun gerakannya, sebagaimana pula ekofeminisme yakni menyatukan intelektual dan kedewasaan berpolitik oleh pemikiran feminisme dengan perhatian yang lebih besar tentang tekanan dan hidup itu sendiri. Dari itu barangkali, ide utama dari ekofeminisme adalah tentang tekanan, yang bernilai dan menganjurkan warga negara yang modern, adalah salah dan merusak segala bentuk kehidupan, termasuk tentang dunia yang natural.

Tubuh perempuan, tubuh penulis buku Kekasih Teluk ini serta pemikirannya merekonstruksi sebuah tujuan dari pergerakan, yakni dari kritikan terhadap nilai-nilai kultural. Aliran atau gerakan ini mencari untuk membawa diri mereka sendiri dan yang lain kepada kesadaran baru manusia akan saling ketergantungan dengan seluruh bentuk kehidupan. Lebih jauh lagi, seperti pada lapis makna puisi-puisi yang tersusun hangat ini tujuan utamanya adalah jelas untuk menyuarakan perlawanan nilai-nilai yang mendorong eksploitasi, dominasi, dan agregasi sekaligus untuk menunjukkan tekanan-tekanan terhadap wanita, pria, anak-anak, tumbuhan, binatang, dan planet itu sendiri.

Suara perlawanan perempuan itu dapat disimak pada puisi yang berjudul “Sublimasi”, “Sumerta”, “Alengka”, “Amed”, “Kremasi”, “Terlelap Bersama Kekasih”, “Cinta dalam Hidupku”, “Selamat Pagi Sanur!”: 1000 puisi digubah untukmu/tidak pulsa sepadan menangkap/rasamu, wangimu,/ hangatmu, anggunmu/ aku memelukmu melalui pelukan nelayan/yang bangga memamerkan harta karunnya/ikan-ikan yang kau hadiahkan tanpa pamrih//. Puisi ini ditulis senantiasa berziarah pada kenangan dengan teluk.

Sastra ditulis sebagai ungkapan cinta pada alam dan cinta pada senenap keluarga yang turut menguatkan iman pada Tuhan Malaikat Sanur menjelma/menjadi Ibu pedagang Lumpyang/ia melipir kesukaran hatiku/dalam gigitan renyah/berlapis kuah panas bertabur/manik-manik cabai hijau//.

Dengan memainkan romantisme percumbuannya dengan  teluk (alam) yang ia hadirkan dalam puisi “Pertanyaan untuk Teluk”, “Surga Di Bawah Kaki Sanur”, “Kupu-Kupu Benoa”, “Pertemuan di Teluk”, “Di Lereng Gunung Lawu”, “Surgaku di Dunia”, “Rumah Bagi Semua”: Siang di Sanur adalah rumah bagi anak muda/yang mengenakan jas-jas pekerja pariwisata/mengimpikan cita-cita melayani turis/… Senja di Sanur/adalah pesta untuk kedua kali/mengenang janji perkawinan/untuk sepasang kakek nenek/yang cintanya tak kunjung surut//. Pada akhirnya mendorong para pembaca atau masyarakat untuk berpikir mengenai bahaya reklamasi. Secara lihai, Kekasih Teluk membuka mata dari intuisi dan emosi yang membangun kesadaran akan dampak buruk pemusnahan teluk bagi anak cucu masyarakat Bali bahkan luar Bali di masa yang akan datang.

Puisi-puisi Saras pada buku ini menyajikan ingatan kepada kita tentang kegigihan banyak aktivis masyarakat Bali, khususnya perempuan yang telah berperan secara konsisten melakukan perlawanan dan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa. Betapa keras dan solidnya upaya mengampanyekan perubahan sosial yang tak lain adalah berasaskan cinta terhadap alam, terhadap kehidupan. Gerakan yang pada awalnya hanya melibatkan aktivis, kini telah digelorakan hingga kalangan masyarakat umum seperti ibu rumah tangga dan pelajar. Kalangan yang juga bersinggungan langsung dengan alam.

Dengan melihat fenomena gerakan tersebut dan membaca buku kumpulan puisi ini maka ada cara tertentu yang hadir di dalamnya. Cara yang di tempuh agar publik dapat mengikuti anjuran kampanye seperti memunculkan resistensi publik terhadap pesan negatif yang berlawanan dengan isu kampanye. Yakni dengan cara menanamkan anggapan kepada masyarakat Indonesia bahwa reklamasi itu tidak seindah yang dijanjikan investor. Pesan tersebut hadir secara tegas pada puisi “Pengkhianatan”, “Siksa”, “Ritual”, dan “Kelahiran Anarki”: Anarki lahir dari seorang bocah,/yang menggandeng tangan Ayahnya,/berderap tanpa alas kaki,/meneriakkan “Bali Tolak Reklamasi”…/ini anarki yang sejatinya,/anarki lahir di desa/dibangun para ideology Teluk//.  Bahwa perubahan akan terjadi dengan kekuatan kolektif yang sungguh-sungguh.

Teluk (alam), bagi Saras Dewi dan mungkin bagi perempuan pesisir (masyarakat Bali) adalah serupa kekasih. Teluk sebagai sebuah benda yang menyimpan banyak umpama bagi berbagai peristiwa. Bermula dan bermura ke teluk, kehidupan manusia menjadi berbeda. Penulis memosisikan teluk sebagai ruang antara bagi subjek untuk menjalani hidup. Betapa teluk tidak bisa dipisahkan oleh penulis dari kehidupannya. Dan penulis begitu kukuh turut memperjuangkan ‘kekasihnya’ sekaligus memohon restu kepada kekasihnya untuk memperjuangkan kebenaran dalam kehidupan terekam dalam puisi “Amanat”, “Perjanjian di Karangasem”, “Senja Benoa”, “Pinta”, “Selamat Tinggal Kekasih”: Izinkanlah aku,/menulis untukmu/cintaku bebas,/ia tidak menuntut apapun sebagai imbalan/ia menerima perih kerugian/sebagai mutiara di dalam senyuman//. Di sana, penulis tetap memetaforakan alam yang agung dan memiliki kemampuan magis di luar prediksi manusia.

Saras dewi menganggap teluk sebagai bentuk lain dari kekasih dengan tubuh yang mampu meleburkan duka dan lara. Teluk sebagai objek perlawanan juga sangat betul-betul terasa. Ini sejalan dengan aksi yang terus dilontarkan masyarakat bali yang gencar menolak teluk benoa untuk direklamasi demi melanggengkan bisnis sekelompok orang. Pada puisi “Pengorbanan”, “Cinta yang Paling Mulia”, “Surga Terakhir”, danSakral”: perlahan-lahan laut tidak bersenandung/pasir tidak lagi bersiul/hening yang mencekam/hening yang menusuk/hening sebagai pesan terakhir/bahwa,/ kita kini seorang diri/ puisi dahulunya jembatan/jalan menggapai yang sacral/ kini runtuh sudah// menjadi penutup perjalanan batin penulis dalam menyuarakan kampanye sosial menolak reklamasi alam Indonesia (baca: Teluk Benoa).

Selain kekasih, Saras telah mengumpamakan teluk sebagai muara dari kehidupan, laksana seorang ibu yang mengandung dan melahirkan seorang anak yang bersiap untuk menampung kembali. Betapapun kerusakan terjadi, harapan tetap harus dalam genggaman seperti pada sajak “Nyanyian Terakhir”: Aku menyusun kata-kata ini,/ kujalin menjadi mantra/dalam jalan pertobatan/berharap,/ engkau akan menyanyi lagi//.

About the author

Betta Anugrah Setiani

Lahir di Bogor tahun 1991. Alumni Kursus Perempuan Agenda18. Aktif di komunitas Perempuan Puisi dan Kofarkor Foundation. Kini bekerja sebagai Peneliti Anggaran. Tinggal di Jakarta.

Add Comment

Click here to post a comment