Maria Cherry Resensi Buku

Suara Sunyi Perempuan di bawah Sepatu Tentara

ps

psJudul               : Perbudakan Seksual Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru

Pengarang       : Anna Mariana

Penerbit           : Marjin Kiri

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal Hal.        : xiv + 180 halaman

 

Aksi Kamisan yang dilakukan dengan berdiri diam menggunakan pakaian dan payung berwarna hitam pada setiap Kamis sore di depan instana Presiden, telah mencapai aksi ke-500 pada 27 Juli 2017 lalu. Bertemakan 500 Kamisan itu Ada, Berlipat Ganda dan Tak Terkalahkan[i], barisan aktivis bersama keluarga korban bukan hanya menuntut keadilan bagi para korban, tetapi juga mengampanyekan gerakan #menolaklupa akan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dan #melawanimpunitas bagi para pelaku. Lebih lanjut aksi yang telah mencapai satu dasawarsa ini juga turut mempertanyakan kembali komitmen pemerintah untuk penegakkan HAM di Indonesia, khususnya komitmen Joko Widodo.

Keengganan pemerintah untuk mengusut tuntas dan belajar dari peristiwa pelanggaran HAM masa lalu membuat kekerasan demi kekerasan terus terjadi. Anna Mariana, merupakan salah seorang penulis yang mencoba menelisik terkait hal tersebut. Melalui buku Perbudakan Seksual: Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru (2015), ia mencoba memberikan sumbangsih teoritis terkait sejarah buram yang menyebabkan tindak kekerasan terus berulang. Perempuan yang berprofesi sebagai seorang peneliti, editor etnohistori dan  fellow researcher di Sajogyo Institute ini mengkhususkan kajiannya pada sejarah peristiwa kekerasan seksual terhadap perempuan.

Menyejarahkan Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia

“Kekerasan demi kekerasan terus terjadi di negeri ini seakan menjungkirbalik citranya sebagai bangsa yang ramah dan suka tolong-menolong… Tak berlebihan rasanya jika akhirnya dikatakan bahwa riwayat negeri ini sesungguhnya penuh kekerasan” (Anna, 2015: 1).

Penulis menggunakan pernyataan kontemplatif di atas untuk mengantar pembaca masuk ke dalam dua narasi besar kasus kekerasan seksual di Indonesia. Secara khusus, buku yang berasal dari tesis penulis ini memang hanya memaparkan perbudakan seksual pada rezim fasisme Jepang dan neofasisme Orde Baru melalui metodologi sejarah perbandingan. Dua rezim tersebut dipilih sebagai pintu masuk memahami sejarah kekerasan seksual, karena keduanya peristiwa tersebut berada dalam rentan waktu yang linear dan terjadi dengan cara yang serupa yaitu sama-sama menggunakan sikap militeristik untuk mengeksploitasi dan mengatur tubuh perempuan sehingga dapat terlihat keberulangan kasus tersebut.

Buku ini terbagi atas lima bab. Pada bab pertama, penulis lebih banyak memaparkan sistematika penulisan. Ia memulai dengan latar belakang, lalu berlanjut pada  permasalahan, cakupan buku, kerangka tekstual, hingga metodologi. Lebih jauh penulis juga mengungkapkan alasan mengambil risiko menyematkan kata fasisme pada rezim penjajahan Jepang dan neofasisme pada rezim Orde Baru. Pemaparan terperinci tentang pemerintahan pada rezim Jepang dan Orde Baru, baru penulis jelaskan pada bab dua. Bab tersebut merupakan bagian terpenting untuk memahami narasi selanjutnya karena pada bab inilah  karakter, watak, dan sejarah rezim, serta istilah-istilah yang digunakan terkait kasus-kasus kekerasan dipaparkan oleh penulis.

Selanjutnya penulis mulai menarasikan kekerasan seksual masa lampau. Dimulai pada pemaparan zaman penjajahan Jepang pada bab tiga  hingga pemerintahan Orde Baru pada bab empat. Melalui narasi yang didapatkan secara langsung dari wawacara terhadap para penyintas, penulis menggambarkan bagaimana bentuk-bentuk kekerasan dan teror seksual yang dialami oleh para jugun ianfu[ii] dan perempuan tahanan politik ’65. Lebih jauh penulis juga turut menjelaskan bagaimana kondisi psikis para penyintas ketika kembali ke masyarakat pasca peristiwa tersebut. Pada bab terakhir, penulis menutup isi buku dengan kesimpulan atas pemaparan-pemaparan sebelumnya.

Dari Melawan Luka hingga Memelihara Memori Kolektif Bangsa

Selain teori, buku ini kuat dalam memaparkan secara terperinci perasaan para penyintas kekerasan seksual melalui kalimat-kalimat kutipan langsung. Narasi pun didukung dengan foto-foto dan penggalan puisi sehingga pembaca dapat larut dalam narasi sejarah yang berpihak pada perempuan, atau yang penulis sebut juga dengan sejarah berwajah feminin. Lebih lanjut dengan paparan yang demikian, akan menarik rasa empati dari para pembaca. Melalui empati yang terbangun maka stigma kepada para penyintas akan berkurang. Dengan demikian, membantu para penyintas melawan luka traumatis yang berdampak seumur hidup.

Kelebihan buku ini juga terletak pada sudut pandang kritis yang dihadirkan dalam melihat konteks budaya saat peristiwa kekerasan terjadi. Penulis tidak lupa untuk menambahkan pengaruh budaya patriarki yang dilanggengkan dengan berbagai cara dan terus menempatkan perempuan sebagai mahluk kelas dua. Maka dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca bahwa selama masih terkungkung dalam budaya patriarki, walaupun rezim dan masa pemerintahan terus berganti, kekerasan terhadap perempuan akan selalu terjadi.

Di sisi lain, penting juga untuk memahami, meskipun kesadaran dan pengetahuan akan narasi-narasi alternatif akan sejarah bangsa telah terbangun, akan lebih sulit untuk melestarikannya dalam tingkat kolektif. Peristiwa-peristiwa seperti tindak kekerasan seksual akan selalu berada dalam ruang antara diingat dan dilupakan, atau yang oleh Abidin Kusno disebut sebagai memori tak terwadahi.[iii] Oleh sebab itu, perlu tindakan pemerintah untuk tidak hanya mengusut kasus kekerasan untuk memberikan keadilan, namun juga  perlu memasukkan mereka ke dalam narasi resmi, sebagai upaya lain untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama

History is the witness of the times, the light of truth, the life of memory, the teacher of life, the messenger of antiquity”. – Cicero

Pada akhirnya, menelusuri genealogi sejarah kekerasan yang traumatik bukanlah hal yang mudah. Selain meningkatkan urgensi penegakan HAM di Indonesia, suara-suara para penyintas yang terekam juga mampu merawat memori kolektif bangsa, dengan harapan kejadian serupa tidak terulang. Oleh sebab itu, menarasikan sejarah kelam bukan berarti menolak maju. Namun, melalui narasi sejarah kelam yang dihadirkan dengan sudut pandang yang objektif inilah, tidak hanya luka batin para korban yang dapat diobati, namun juga banyak pembelajaran lain yang bisa dipetik. Seperti kesadaran akan pentingnya hak perempuan atas tubuh dan kesadaran bahwa tidak ada perempuan yang lemah, yang ada hanya mereka yang tidak mau melawan. ***

 

[i] Informasi terkait aksi kamisan dapat diakses di http://www.aksikamisan.net/

[ii] Jugun ianfu adalah sebutan bagi para perempuan-perempuan lokal pada daerah jajahan Jepang, yang dijadikan wanita penghibur secara paksa untuk para tentara Jepang.

[iii] Salah satu jenis memori dalam teori tipologi memori pada buku Ruang Publik, Indentitas da Memori Kolektif: Jakarta Pasca Soeharto (2009) karya Abidin Koesno.

About the author

Maria Cherry Ndoen

Maria Cherry Ndoen. Peserta Kursus Perempuan tingkat III.
Perempuan bergolongan darah A yang lahir di Cancar, NTT pada tahun 1993. Tak pandai dan mempunyai pengalaman banyak dalam dunia tulis-menulis, hanya gemar mengungkapkan pemikiran, pandangan, dan perasaan melalui kata-kata. Segera ia akan menjadi pejuang tesis, karena baru saja memasuki tingkat dua studi S2 di Cultural Studies, FIB.

Add Comment

Click here to post a comment