Opini Rooslain Wiharyanti

Media Penuai Industri Penistaan

“Overnight I went from being a completely private figure to a publicly humiliated one worldwide. I was Patient Zero of losing a personal reputation on a global scale almost instantaneously.”

Masih ingat dengan Monica Lewinsky (44)? Ia menyebut dirinya sebagai pasien nol yang merasakan dampak penghinaan publik secara global melalui internet. Pada usia 22 tahun, seperti manusia usia muda lain, ia melakukan kesalahan dengan jatuh cinta pada atasannya. Atasan yang kebetulan adalah Presiden Amerika Serikat. Kesalahan yang ia tuai buahnya dua tahun kemudian.

Pada awal 1998, skandal perselingkuhan Lewinsky dan atasannya itu terungkap. Bukan di televisi, bukan di radio, bukan pula di koran atau majalah. Skandal itu terungkap dan menyebar di jaringan internet dan mehujaninya dengan cap pelacur, wanita penggoda, wanita simpanan, dan menghilangkan semua identitas dia sebelumnya.

Lewinsky mengatakan dalam video TED Talk 2015 berjudul “Price of Shame,” saat hal tersebut terjadi, perilaku dunia digital itu belum bernama. Sekarang kita menyebutnya cyberbullying atau perundungan dan pelecehan daring. Ia menjadi korban pertama yang merasakan kekejaman perundungan tersebut.

price of shame 1

Penyebaran secara digital membuat kasusnya mendunia dan semua bisa mengakses percakapan paling intim yang diam-diam direkam setahun sebelumnya oleh salah seorang rekan Lewinsky. Perundungan yang ia rasakan membuat jiwanya terguncang. Ibu dan keluarganya harus bergantian menjaganya agar tidak melakukan bunuh diri. Ia pun harus mandi dengan pintu terbuka. Saat itu belum ada sosial media.

Tahun 2010 saat sosial media hadir, “pasien” semacam Lewinsky makin banyak. Salah satu yang disebut adalah nama Tyler Clementi, mahasiswa tingkat awal di Rutgers University. Teman sekamarnya merekam Tyler saat sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Videonya menyebar dan beberapa hari kemudia Tyler lompat dari jembatan George Washington, bunuh diri di usia 18. Kasus inilah yang membuat Lewinsky merasa harus mulai berbicara tentang budaya penistaan yang makin marak dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi melalui internet dan sosial media.

Kalau di Indonesia, ada kasus Nazril Irham atau yang lebih dikenal dengan nama Ariel (35), vokalis grup band Noah. Pada 2010, video yang merekam dirinya melakukan hubungan dengan artis perempuan tersebar di internet dan sosialmedia. Ia ditangkap, diadili dan dipenjara. Ariel pasti mengalami kerugian, masyarakat terhibur dengan pemberitaan dan gosip yang menyebar, atau sebaliknya marah dan mengutukinya. Satu hal yang kita tahu, media meraup banyak keuntungan dari pemberitaan kasus tersebut.

Dalam sebuah studi deskriptif kualitatif terhadap trend pemberitaan quality news dan popular news pada media online nasional di Indonesia periode 2016 oleh Rani Dwi Lestari (2017: 83-94), ditemukan adanya tarik-menarik antara dua nilai yang memengaruhi kontribusi kapital pada industri media: kualitas dan popularitas. Lestari menyebutkan dalam kesimpulan, semangat jurnalisme seharusnya bisa menyeimbangkan keduanya.

 

Spirit yang diusung dalam jurnalisme publik adalah perpaduan ideal untuk menyajikan sebuah berita yang berkualitas (quality news) sekaligus populer (popular news).

 

Namun sayangnya, kemampuan menyeimbangkan kedua nilai tersebut jarang ditemukan dalam media daring di kita. Seringnya mereka terjebak pada popularitas semata dengan konsep clickbait journalism yang memanfaatkan judul sensasional sebagai trik menjaring klik pembaca.

Berdasarkan situs berita CNN Indonesia, situs penyebar berita fiktif saja bisa meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Septiaji Eko Nugroho dari Masyarakat Anti Hoax menyebutkan hasil analisis beberapa situs berita fiktif, dalam satu tahun mereka bisa mendapatkan hingga Rp600-700 juta. Dapat dibayangkan berapa banyak keuntungan yang diraup dari situs berita besar dengan jumlah pengunjung yang jauh lebih besar.

Budaya penistaan ini membuat industri digital mengeruk banyak keuntungan dari “barang curian” berupa foto, video, dan rekaman suara yang sifatnya sangat intim dan pribadi. Misalnya dalam kasus perselingkuhan para tokoh politik dan pejabat negara yang selalu disertai deskripsi berlebihan, lengkap konten yang berisi daya tarik seksual perempuan.

Bukan sekadar “barang curian”, media pun punya kemampuan untuk mengolah berita dengan korban-korban perempuan dalam sebuah eksploitasi terhadap hal-hal yang bersifat seksual. Sebut saja kasus-kasus perkosaan yang mendeskripsikan proses dengan sangat detail tanpa ada rasa empati pada korban dan keluarganya.

Konten-konten tersebut dikemas dan disebarkan sedemikian rupa menantang untuk dibuka, dilihat, dibaca. Pada tiap klik-nya harga diri seseorang (yang biasanya perempuan) dirampas, masa depannya, dihancurkan, dan kestabilan jiwanya dihantam. Namun, pada setiap klik itu juga, sebuah korporasi digital meraup keuntungan. Dari industri penistaan itulah media daring hidup, berkembang, dan mengantongi milyaran keuntungan. Apakah industri semacam ini mau kita biarkan?

“Kita perlu berkomunikasi secara daring dengan penuh kasih sayang, mengonsumsi berita dengan kasih sayang, dan mengklik dengan penuh kasih sayang,” kata Lewinsky menutup pidatonya itu. Ia pun dengan memberikan penekanan pada dua kata: empati dan kasih. Penistaan bisa dipatahkan dengan empati. Empati hanya dari segelintir orang pun sudah bisa memberikan perbedaan.

 

Sumber:

Price of Shame,” oleh Monica Lewinsky dalam video TED Talk 2015 dengan tautan https://www.ted.com/talks/monica_lewinsky_the_price_of_shame yang diakses pada 1 Agustus 2017.

“Quality News dan Popular News Sebagai Trend Pemberitaan Media Online” oleh Rani Dwi Lestari di Jurnal Channel, Vol. 5, No. 1, April 2017, hal. 83-94, diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Diakses daring dengan tautan http://journal.uad.ac.id/index.php/CHANNEL/article/view/6355/3358 pada 9 Agustus 2017.

Berita “Penyebar Berita Hoax di Indonesia Bisa Raup Rp700 Jutaan” oleh Bintoro Agung Sugiharto untuk CNN Indonesia pada Jumat, 02 Desember 2016, 09:14 WIB dengan tautan https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161202085641-185-176767/penyebar-berita-hoax-di-indonesia-bisa-raup-rp700-jutaan/ yang diakses pada 9 Agustus 2017.

About the author

Rooslain Wiharyanti

Rooslain Wiharyanti, peserta Kursus Perempuan Tingkat III. Mantan jurnalis selama delapan tahun yang ingin kembali berkarya. Ketertarikannya akan dunia fiksi dan latar belakang pendidikan sastra mendorongnya membuat sesuatu untuk mereka yang gemar membaca.

Add Comment

Click here to post a comment