Fiksi Roy Thaniago

Sepenggal Cinta Dalam Selembar Sore

Tembok kamarku pucat
Mengerti ia,
akan aku yang rindu menenggelamkan diri
dalam matamu yang teduh
Sedang aku hanya mampu menjilati baumu
dalam sukmaku yang khawatir
Mengerti pun belum sempat

Dalam berbaring aku masih berusaha mencuri senyummu
dari ingatanku yang kuyup karena sembab
Dan kamu selalu tak pernah ingat
untuk menyekaku dengan kecup manja
Mengerti pun belum sempat

Aku hanya ingin kesederhanaan
Tiap malam bisa membelai ranumnya rambutmu
Sambil menyelipkan selamat malam pada daun telingamu yang harum
Tiap pagi bisa memeluk matamu dengan mataku
Sambil menghujanimu dengan puisi yang kukarang sebelum berangkat tidur
Dan tiap petang kita habiskan dengan terkekeh
menertawakan matahari yang menjauh ke barat

Saat itu,
aku tangkap selembar sore,
untuk mengungkapkan
bagaimana aku mencintaimu dengan sungguh

200607
petojo

About the author

Roy Thaniago

Menulis dan meneliti hal seputar media, budaya, dan masyarakat. Dia mendirikan Remotivi pada 2010 dan menjadi direkturnya hingga 2015.

Selain sebagai guru musik dan penulis lepas, dia juga pernah bekerja di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan juga sebagai Redaktur pada Karbonjournal.org dan majalah Bung!, keduanya terbitan ruangrupa.

Kini Roy tengah menempuh studi Kajian Media dan Komunikasi di Lund University, Swedia.

F: https://www.facebook.com/roy.thaniago
T: @roythaniago
I: @roythaniago
B: https://roythaniago.wordpress.com/

Add Comment

Click here to post a comment