Kegiatan Liputan Stella Anjani

Ketika Mata Penonton Disulap Jadi Lidah

Poster Foto Aruna dan Lidahnya
Poster Foto Aruna dan Lidahnya
Aruna dan Lidahnya memang film yang menarik. Bukan karena keindahan rupa aktor aktrisnya. Bukan karena menu makanan yang disajikannya. Bukan juga karena manis iringan lagunya. Film ini menjadi menarik karena pengalaman inderawi yang berhasil dihantarkan oleh sang sutradara kepada penonton melalui film di layar lebar.

Aruna, diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, digambarkan sebagai seorang wanita karir di ibukota. Profesi sebagai ahli wabah di sebuah perusahaan media, tidak cukup untuk mengaburkan kecintaan Aruna terhadap makanan. Seni peran para aktor yang dipadankan dengan aksi para makanan sungguh menggugah. Berbagai komentar netizen di media sosial dalam tagar #ArunaDanLidahnya menunjukkan betapa hanyut mereka ketika menyaksikan film sehingga merasa lapar sepanjang dan setelah menonton.

Sahabat Aruna adalah seorang chef bernama, Bono, diperankan oleh Nicholas Saputra, dan seorang penulis bernama Nadezhda, diperankan oleh Hannah Al Rashid. Setelah belasan menit pertama berlalu, penonton akan langsung menyatu dalam relasi ketiga tokoh tersebut beserta para makanan yang menjadi perekatnya. Interaksi mereka bertiga sungguh terasa nyaman. Percakapan yang terjadi di antara para tokoh begitu cair dan bebas dari tipikal kalimat baku di film. Kata “kampret” dan “geblek” menjadi indah dan wajar di telinga penonton karena penonton turut mendapat tempat dalam film tersebut. Sutradara dan tim berhasil menciptakan kontak audio visual dengan penonton sehingga mereka tidak sekedar menjadi pengamat tetapi seolah menjadi bagian dari “geng” Aruna, sebagai akibat interaksi dan dialog para tokoh yang begitu apa adanya. Semua lini kehidupan Aruna tampak tersaji begitu saja tanpa bumbu-bumbu, kontras dengan masakan yang dicicipinya sepanjang film. Aruna dan para tokoh di film tampak sebagaimana manusia pada umumnya menjalani kehidupan sehari-hari.

Konflik yang disajikan dalam film cukup sederhana. Cara penyajiannya yang mampu membuat konflik sederhana tersebut menjadi rumit karena menimbulkan multi interpretasi di benak penonton. Aruna yang kehidupan sosial, percintaan, dan karirnya menjadi pusat cerita, tidak serta merta mengerdilkan peran tokoh yang lain sehingga tampak hanya sebagai pendukung. Kedekatan dan cara pandang yang unik dari masing-masing karakter terhadap makanan menjadi simbol implisit bagaimana mereka memaknai dunia. Misalnya bagian obsesi Aruna terhadap resep nasi goreng asisten rumah tangganya. Obsesi ini bukan sekedar menjadi latar perjalanan kuliner Aruna dan teman-teman, tetapi juga menjadi pertanda relasi rumit yang ia miliki dengan rumahnya, mengingat nasi goreng yang ia buru merupakan masakan di dalam rumahnya sendiri. Hal ini menjadi salah satu unsur pemikat film sehingga penonton tidak bosan, bahkan terus hadir bersama Aruna sepanjang film berjalan.

Film ini menjadi layak ditonton karena kemampuan yang baik dari Edwin, sang sutradara, untuk menerjemahkan buku ke layar lebar. Edwin tidak hanya memperhatikan keindahan film secara visual tetapi juga secara audio. Pemilihan lagu-lagu bernuansa nostalgia membuat penonton larut dalam perasaan masa lalu para tokoh yang menyeruak ke permukaan. Penonton jadi bisa turut bergabung dalam perasaan reuni para sahabat lama yang terbalut dalam perjalanan kuliner.

Menonton Aruna dan Lidahnya seperti memberikan pengalaman ke penonton ketika apa yang dilihat mata bisa turut terasa hingga ke lidah, bahkan turun hingga ke hati. Film ini direkomendasikan untuk mereka yang membutuhkan hiburan ringan penuh kesan, semisal saat rindu makan-makan dengan teman-teman.

About the author

Stella Anjani

Bagian dari Agenda 18 Angkatan 6. Pada saat tidak sedang sibuk mengoleksi kenangan, Stella pasti sedang mengamati kehidupan. Variasinya luas, dari hidupnya sendiri hingga hidup peliharaan tetangga temannya, bahkan lubang jalan di tengah trotoar. Latar belakang psikologi hanya membuatnya semakin sulit memahami manusia.

Add Comment

Click here to post a comment