Kegiatan Susan Gui Wawancara

Solekhah: Melaut itu Pekerjaan Mulia

Dok: Media Indonesia
Dok: Media Indonesia

 

Sudah sejak saya masih kanak-kanak, ketika kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan serta karangan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama menjadi kuat yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri.

Kartini

 

Solekhah namanya, perempuan nelayan kelahiran Demak tahun 1975. Bapaknya adalah seorang nelayan dari Dukuh Tambak Poro, Desa Purworejo. Sebagai anak yang lahir dan besar di kampung nelayan, tidak heran jika Solekhah tidak bisa berjauhan dari laut. Baginya, laut adalah pemandangan yang selalu ingin dia lihat dan harapan yang selalu dia rindukan.

Terlahir sebagai anak sulung dari 9 bersaudara membuat Solekhah harus mau berbagi dengan adik-adiknya, bukan hanya berbagi makanan tapi membagi dalam hal pendidikan. Solekhah mengalah untuk tidak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, dia hanya lulus SD dan tidak melanjutkan ke SMP.

Pada saat usia 20 tahun, Solekhah menikah dengan Musahadi yang berprofesi sebagai nelayan. Sepintas, penampilannya sangat sederhana. Tubuhnya tidak tinggi, kulitnya hitam legam. Tapi jika kita melihat sorot matanya, selalu seperti berkaca-kaca dan berusaha menghindar tatapan langsung dari mata lawan bicaranya. “Saya malu, karena saya tidak pintar” bisik Solekhah pelan.

Padahal, ada sisi lain yang menganggumkan dari sosoknya yang sederhana itu. Dulu Solekhah hanya seorang ibu rumah tangga, namun sudah 2 tahun terakhir Solekhah pergi melaut atau berganti profesi menjadi perempuan nelayan. Laut baginya semakin dekat dan tidak berjarak.

“Saya bangga jadi nelayan” ujar Solekhah dengan semangat.

Awalnya, Solekhah melaut untuk menutupi biaya hidup keseharian dan biaya sekolah 4 orang anaknya. Bagi Solekhah, biaya pendidikan saat ini semakin mahal, maka Solekhah memberanikan diri untuk pergi bersama suaminya melaut.

Musahadi, sang suami sudah tidak lagi mampu melihat jarak jauh. Sebelum Solekhah ikut pergi melaut, Musahadi sering kesulitan mendapatkan tangkapan ikan. Solekhah berperan penting ketika melaut, ia mengendalikan kemudi dan menjaga perahunya agar tidak bertabrakan dengan perahu lainnya.

Setiap pukul 03.00 WIB pagi Solekhah dan Musahadi pergi melaut, dengan hanya membawa alat sederhana seperti jaring rajungan dan bekal secukupnya mengarungi gelombang laut. Perahu bertenaga 7 PK dengan panjang 4,5 meter dan lebar 1,8 meter menemani keseharian mereka melaut. Pukul 14.00 WIB mereka baru kembali ke darat dan menjual hasil tangkapannya. Solekhah pun berperan penting menentukan harga jual ikan, sayangnya mereka sering kali terpaksa menjual murah hasil tangkapannya.

“Saya tidak tahu harganya berapa, kadang bakulnya menawar dengan harga yang rendah. Saya kadang tidak punya pilihan, ya asal ada uang masuk dan ada bekal untuk besok” ujar Solekhah.

Pernah suatu hari mereka hanya mendapat Rp 25.000, dari uang itu Solekhah harus membeli bahan bakar untuk keesokan harinya sebesar Rp 15.000, jadi pendapatan bersih hanya Rp 10.000 waktu itu. Tapi hal itu tidak pernah menyurutkan semangat Solekhah.

“Hidup itu ada yang ngatur, dikasih sedikit Alhamdulillah, banyak juga Alhamdulillah” tegas Solekhah.

Harapan Solekhah pun sederhana, pemerintah bisa terbuka hatinya untuk melihat probelamatika kompleks yang dihadapi oleh nelayan seperti kenaikan harga BBM, mahalnya biaya pendidikan bagi anak nelayan, tidak adanya asuransi, dan bantuan modal usaha dengan bunga rendah masih sulit didapat. Bagi warga kampungnya, keputusan Solekhah melaut masih dianggap hal yang tabu.

Tidak sedikit orang yang memandang Solekhah dengan tatapan aneh, karena dari satu desa, hanya ada dua orang perempuan yang pergi melaut yaitu Solekhah dan Nayiroh. Di sisi lain, identitas sebagai nelayan diidentifikasi sebagai pekerjaan laki-laki, sedangkan perempuan baik yang pergi melaut maupun yang terlibat penuh dalam pra, produksi hingga pasca produksi tidak pernah diakui sebagai perempuan nelayan.

Belum diakuinya perempuan nelayan berimplikasi pada sulitnya perempuan nelayan mendapatkan fasilitas dari negara, baik berupa pendidikan hingga pemberdayaan. “Saya perempuan nelayan, sampai kapan pun masih akan menjadi perempuan nelayan” ujar Solekhah.

Di tengah anggapan yang mengkerdilkan peran perempuan nelayan, alasan mendasar Solekhah melaut adalah sederhana; dia tidak mau jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau Pekerja Rumah Tangga (PRT) di luar negeri dan berpisah dari keluarganya. Tuntutan ekonomi yang sulit adalah hal yang harus dihadapi oleh Solekhah, tapi hal itu bukan alasan yang mendasar bagi seseorang untuk mengorbankan keluarganya.

Solekhah memegang teguh prinsipnya akan hidup “Mangan Ora Mangan yang Penting Kumpul”.

Hingga hari ini, Solekhah masih terus pergi melaut. Sekalipun perempuan melaut masih dianggap tabu oleh masyarakat. Bagi seorang Solekhah, melaut adalah identitas dan anggapan tabu masyarakat tidak akan menghalangi langkahnya untuk mengarungi laut.

“Saya perempuan, tapi bukan berarti saya tidak boleh melaut. Tuhan menciptakan laut untuk semua umatnya, tanpa membedakan apa itu perempuan ataupun laki-laki. Nah kata orang di kampung saya, Solekhah melu-melu emansipasi dari Kartini mangkanya dia berani-beraninya tetap melaut. Lah saya saja tidak ngeh apa emansipasi, bagi saya yang penting laut untuk perempuan dan laki-laki, itu saja” tutup Solekhah.

About the author

Susan Romica

Susan Romica, peserta Kursus Perempuan Agenda 18. Kini, ibu dari dua orang anak ini masih bersekolah di Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan kontributor di Galeri Buku Jakarta. Kegiatan kesehariannya mendampingi perempuan nelayan yang tergabung di Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Add Comment

Click here to post a comment