Opini Susan Gui

Untuk Mereka yang Takut Berdialektika

Susan LBH

Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)

Gambar yang saya ambil ambil dari kamera telepon genggam gelap dan pekat. Hanya ada titik cahaya dari mobil water canon dan truk besar. Namun gambar itu adalah gambar yang paling nyata dari depan jalanan kantor LBH Jakarta; kelam dan suram.

Saya tiba di depan Metropole pukul 11.30 malam, saat itu saya melihat seorang laki-laki berjaket merah yang berteriak, “Siapa yang mau bunuh PKI silahkan parkir motor dan masuk ke dalam jalanan ini!”

Padahal, jalanan pada saat itu sudah diblokade oleh polisi dan tampak polisi pun sedang berjaga-jaga. Massa mulai terus bertambah dan sebagian dari mereka pun berteriak-teriak. Saya memang mencium adanya bau alkohol dan saya pikir memanglah mereka diorganisir untuk mengepung kantor LBH Jakarta.

Pada saat itu, lebih dari 100 masa berdiri dan berteriak, “Ganyang PKI!” Sekitar pukul 12.00 dini hari, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya berdiri menatap ke jalan yang tidak lebih suram dari sebuah prosesi pemakaman “demokrasi” bangsa ini. Ironinya, lagu kebangsaan kita dijadikan penghantar pemakaman dari matinya demokrasi kita.

IMG-20170917-WA0028

Saya tidak ingat jelas tapi sekitar pukul 12.00 WIB, lewat truk dan water canon berubah arah dan masuk lewat gang. Hal ini merupakan upaya untuk membubarkan massa, sayangnya tindakan ini melewati proses yang cukup panjang. Ratusan massa sudah berdiri sejak pukul 09.00 malam, baru dibubarkan pukul 12.30.

Pembubaran awal memicu keributan, tentu banyak dari mereka yang menolak untuk mundur. Lalu tembakan dan gas air mata pun meluncur, saya tidak lihat lagi ke belakang. Yang saya rasakan pada saat itu adrenaline berada di titik paling tinggi dan saya harus lari. Selain itu, kawan-kawan kami pun teriak, “lari-lari!” Sampai kami menerabas pintu pagar gedung Metropole.

Saya dengar lebih dari 5 kali tembakan, saya juga mendengar orang berteriak nama Tuhan, saya juga mendengar suara kayu yang diayunkan ke jalanan, dan saya mendengar suara batu yang melayang. Saya pegang kepala saya, dan saya melihat ke arah belakang; massa memang berhasil di pukul mundur tapi kekacauan tidak bisa dihindarkan.

Keadaan memang masih tidak aman hingga pukul 03.00 dini hari, puluhan tembakan gas air mata keluar dan membuat langit menjadi riuh. Masa pun semakin riuh, saya duduk terdiam sembari gemetar.

IMG-20170918-WA0005

IMG-20170918-WA0010

Di antara mereka yang berdiri di balik pagar kantor LBH Jakarta mungkin tidak benar-benar paham, kegiatan yang dilakukan oleh rekan-rekan LBH/YLBHI Jakarta yang nyatanya hanya sebatas ruang bagi setiap orang untuk berdialektika.

Pertanyaannya apa salah kita berdiskusi dan berekspresi atas sebuah gagasan, atas nama pembenaran sejarah?

Betapa mandulnya manusia jika mereka terlalu takut untuk terlibat dalam diskusi dan betapa bodohnya kita jika tidak mau membuka ruang berdialektika tentang sejarah bangsa ini. Saya menulis apa yang saya lihat hari ini, untuk kemudian keturunan saya jadi tahu: betapa bahayanya ketidaktahuan kita dan betapa djalimnya kita terhadap kenyataan.

Saya percaya orang yang berada di dalam gedung LBH tidak satu pun yang bersenjata tajam karena pemikiran dan sejarah mereka adalah senjata untuk melawan kebodohan dan hanya itu yang mereka punya.

About the author

Susan Romica

Susan Romica, peserta Kursus Perempuan Agenda 18. Kini, ibu dari dua orang anak ini masih bersekolah di Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan kontributor di Galeri Buku Jakarta. Kegiatan kesehariannya mendampingi perempuan nelayan yang tergabung di Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI).

Add Comment

Click here to post a comment