Opini Ursula Adeodata Stephania

Seorang Muslim di Sekolah Katolik

Sumber Gambar: http://aktualnoe.net/?start=336
Sumber Gambar: http://aktualnoe.net/?start=336

Istilah keberagaman tentu saja sudah tidak asing lagi bagi saya yang lahir dan hidup di tanah air Indonesia. Tanah air yang terdiri atas gugusan pulau dan daratan yang membentang dari Sabang sampai Merauke melahirkan beragam jenis suku, budaya, bahasa, agama, dan kepercayaan. Namun, apakah keberagaman yang saya kenal sudah memberikan makna khusus dalam kehidupan saya? Ataukah, hanya slogan yang sekadar mampir pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan?

Saya, Ursula Stephania, lahir di tengah keluarga Katolik. Meskipun begitu, saya memiliki saudara, yaitu om, tante, dan sepupu yang beragama Kristen juga Islam. Dari segi suku dan budaya, saya adalah anak keturunan Flores dan Jawa. Ayah saya lahir dan tumbuh di kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur, sedangkan ibu saya berasal dari kota Yogyakarta. Apakah ini beragam? Ya, tentu saja. Lalu, apakah kehidupan keberagaman dalam keluarga inti ini sangat berkesan bagi saya? Jawabannya justru, tidak.

Kehidupan keberagaman baru terasa berkesan setelah saya bersosialisasi di masyarakat. Petualangan ini bermula sejak saya masuk sekolah. Saya mengecap pendidikan Katolik sejak di taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Kehidupan keberagaman yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika saya menempuh pendidikan tingkat menengah atas alias SMA. Saya menjalani pendidikan SMA di sekolah yang sangat kental nuansa Katoliknya karena berada di bawah kongregasi kesusteran.

Meskipun begitu, di sekolah ini saya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari agama yang berbeda-beda, seperti; Budha, Kristen, dan Islam. Saya pun tertarik bertanya lebih lanjut kepada teman saya yang beragama Islam, yakni Mesty. Bagaimana tidak, Mesty adalah alumnus SMP Al-Azhar, salah satu sekolah swasta favorit berbasis pendidikan Islam. Selain itu, Islam adalah agama dengan populasi umat terbesar di Indonesia. Lantas, mengapa dia mendaftar ke sekolah Katolik?

Alasannya begitu sederhana. Orangtuanya menilai Mesty bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengenyam pendidikan di sekolah Katolik yang terkenal sangat disiplin. Tidak ada ketakutan untuk menyekolahkan putrinya dengan dalih akan terkena Kristenisasi.

Saya dan Mesty pun masih berteman baik sejak SMA sampai sekarang. Tidak ada sedikit pun kecanggungan di antara kami untuk berdiskusi tentang segala hal, termasuk soal agama. Bahkan, hubungan pertemanan kami tidak goyah dengan kasus penodaan agama oleh Ahok yang sempat heboh di masyarakat. Kami saling mengucapkan selamat merayakan hari keagamaan masing-masing. Saya juga turut senang ketika Mesty pada akhirnya memutuskan untuk berhijab. Hijab tak membuat dia menjadi pribadi yang paling suci. Justru sebaliknya, dia menjadi semakin rendah hati.

Dengan segala perbedaan yang ada, hal yang dapat menjadi perekat adalah sikap saling menghargai dan menghormati. Perbedaan pada hakikatnya adalah tidak mungkin disamakan. Perbedaan dirasakan lalu menjadi dialog. Bukan untuk mencari persamaan melainkan untuk memperoleh pemahaman akan perbedaan yang semakin memperkaya kehidupan.

Saya merefleksikan perbedaan sebagai bentuk kekayaan bangsa. Begitu pula Mesty. Jadi, alangkah bahagia jika masyarakat Indonesia yang terdiri atas ragam suku, bahasa, budaya, agama dan kepercayaan dapat hidup bersama, rukun dan damai menjunjung tinggi toleransi. Seperti persahabatan saya dan Mesty. Bukan begitu?

About the author

Ursula Adeodata Stephania

Ursula Stephania, Agenda 18 Angkatan 6. Dilahirkan dari keluarga keturunan Flores dan Jawa. Memiliki kecintaan terhadap buku, khususnya buku biografi. Kini aktif menyibukan diri dengan mengikuti kegiatan pelatihan, teaching volunteering, dan paduan suara.

1 Comment

Click here to post a comment